APA ITU ANTI-BRANDING?
- Levino Rionaldy
- 4 days ago
- 1 min read

Belakangan muncul istilah Anti Branding menjadi Gerakan Menolak Kepalsuan
1. Anti-branding muncul karena konsumen muak dengan:
• klaim palsu
• pencitraan berlebihan alias flexing
• janji manis tanpa bukti
• “keren di iklan, b aja di kenyataan”
Anti-branding ingin brand lebih jujur, apa adanya, tanpa gimmick murahan.
2. Branding Tanpa Branding
Ini paradoks:
Brand-nya kuat, tapi tidak kelihatan jualan.
Contohnya:
• brand tampil sederhana
• visual minimalis
• komunikasi apa adanya
• tidak pamer-pamer prestasi
• tidak teriak “kami terbaik!”
Justru karena tenang, orang percaya.
3. Disruption terhadap “Branding yang Ribet”
Anti-branding menolak:
• desain kemasan terlalu mewah
• logo yang dipoles berlebihan
• tagline bombastis
Diganti dengan:
• fakta
• transparansi
• voice of customer
• real everyday story
Anti-branding = branding yang tidak berusaha terlihat seperti branding.
4. Konsumen Gak Mau Dibodohi Lagi
Khususnya Gen Z, mereka akan langsung:
• skip
• scroll lewat
• block
• expose di TikTok
Kalau merasa brand memalsukan makna. Anti-branding adalah respons terhadap tren itu.
Anti-branding bukan anti brand.
Anti-branding adalah anti kebohongan, anti pamer, dan anti ribet.
Brand-nya tetap kuat, tapi tampil:
• sederhana
• jujur
• relevan
• tidak menggurui
• tidak memaksa
Anti-branding artinya menghapus lapisan-lapisan kosmetik dan memosisikan brand sebagai:
• jujur
• relevan
• responsif
• berani mengakui kekurangan
• berani tampil apa adanya
Kita bahas yuk di workshop 29 November 2025 di Ibis Style Hotel Simatupang Jakarta Selatan.
Pendaftaran di lynk.id/pakbi.
Workshop berikutnya Januari 2026
sampai jumpa dikelas