top of page


15. REBRANDING — DARI DECLINE MENJADI REBOUND
15. REBRANDING Kalau bisnis Anda sedang decline, jangan buru-buru menyalahkan produknya. Bisa jadi yang sudah tua bukan produknya, tapi persepsi konsumennya. Di sinilah rebranding dibutuhkan. Rebranding bukan sekadar ganti logo, ganti warna, atau bikin tagline baru. Rebranding adalah memperbarui cara pasar memandang sebuah brand, persepsinya, supaya kembali relevan dengan perubahan zaman, pasar, dan generasi konsumennya. Brand yang dulu hebat bisa masuk fase matang, lalu decl
8 hours ago1 min read


PLACE BRANDING, DESTINATION BRANDING, CITY BRANDING
PLACE BRANDING, DESTINATION BRANDING, CITY BRANDING Ketiganya memang sering tumpang tindih, tetapi objek dan tujuan branding-nya berbeda satu sama lain. Destination Branding - Tempat sebagai tujuan kunjungan/wisata. Membuat orang ingin datang dan berkunjung. Bali sebagai destinasi wisata Place Branding Sebuah tempat secara menyeluruh. Membentuk reputasi tempat untuk wisata, investasi, bisnis, talenta, tempat tinggal. Singapura sebagai tempat hidup, bekerja, investasi, sekalig
2 days ago1 min read


7. LUXURY BRANDING — KETIKA PRESTISE TURUN KELAS, BUKAN TURUN NILAI
7. LUXURY BRANDING Luxury Branding bukan cuma soal jual barang harga mahal. Yang menjual eksklusivitas, prestise, dan simbol status. Saya mengalami sendiri ketika membantu rebranding McD menjelang krisis moneter 1997–1998. Sebelumnya, McD terkesan sebagai tempat makan kelas menengah atas. Burger, french fries, dan cola saat itu masih punya citra makanan orang bule. Datang ke McD bukan sekadar makan. Lalu krismon datang. Kelas menengah atas terpukul. Kalau McD tetap hanya meng
3 days ago1 min read


6. SERVICE BRANDING — YANG DIJUAL BUKAN JASANYA, TAPI PENGALAMAN KONSUMENNYA.
6. SERVICE BRANDING Pernah masuk restoran, makanannya enak… tapi pelayannya jutek? Besok mau balik lagi? Belum tentu. Itulah Service Branding. Kalau product branding membangun persepsi melalui produk yang bisa dilihat, disentuh, dan dicoba, service branding berbeda. Jasa tidak bisa disentuh sebelum kita membelinya. Karena itu, pelanggan menilai brand dari pengalaman yang mereka rasakan. Saya pernah menangani McDonald’s Indonesia selama@8 tahun dari tahun 1997-2004 Orang mungk
4 days ago1 min read


5. RETAIL BRANDING — Toko Juga Punya Brand
5. RETAIL BRANDING Kenapa kita bisa membedakan Indomaret, Alfamart, dan warung Madura, bahkan sebelum mencari apa yang kita beli? Karena Retail Branding bukan cuma soal barang. Tapi pengalaman konsumen berbelanja. Di Indomaret dan Alfamart, barangnya mungkin hampir sama. Tetapi masing-masing membangun identitas melalui warna, logo, seragam, penataan rak, materi promosi, sampai standar pelayanan. Display-nya dirancang dan distandardisasi. Kita masuk cabang yang berbeda, tetapi
7 days ago1 min read


4. EMPLOYER BRANDING — “Nama Perusahaan Bisa Menaikkan Harga Anda”
4. EMPLOYER BRANDING Tahun 2000-an, perusahaan saya, Hotline Advertising, pernah menjadi salah satu tempat kerja yang diidamkan insan periklanan. Kenapa? Karena waktu itu, kalau seseorang pindah kerja dan di belakang namanya ada embel-embel “ex-Hotline”… harga orang itu bisa naik. Bukan hanya karena gajinya. Tapi karena pasar punya persepsi: “Kalau pernah ditempa di Hotline, berarti orang ini punya standar.” Nah, itulah yang sekarang disebut Employer Branding. Contoh globalny
Aug 61 min read


3. CORPORATE BRANDING — “SATU LAGI DARI MAYORA”
3. CORPORATE BRANDING Corporate Branding itu bukan membangun merek satu produk. Yang dibangun adalah nama dan reputasi perusahaan di balik seluruh produknya. Ketika saya menangani Mayora thn 1989, saat mau go publik dan setelah membangun Bank Mayora, selain mengenalkan Kopiko, Beng-Beng, Astor, atau produknya yang lain, saya ingin nama Mayora sendiri punya makna. Saya melihat kekuatan Mayora ada pada inovasi produk. Selalu mencari peluang baru, kategori baru, dan melahirkan p
Aug 51 min read


2. PERSONAL BRANDING: BUKAN PENCITRAAN, BUKAN SEKEDAR TERKENAL, TAPI DIKENAL KARENA APA?
2. PERSONAL BRANDING Kalau nama Anda disebut, orang langsung ingat apa? Itulah awal dari Personal Branding. Personal Branding bukan usaha supaya kita terkenal. Bukan pula sibuk posting setiap hari supaya wajah kita muncul terus di media sosial. Personal Branding adalah proses membangun persepsi orang lain, sehingga orang lain mengenalnya karena empat hal: 1. Kompetensinya. Anda ahli dalam bidang apa? 2. Karakternya. Anda dikenal sebagai pribadi seperti apa? 3. Nilainya. Apa y
Aug 41 min read


1. PRODUCT BRANDING — MEMANG MENAMPILKAN PERBEDAAN. TAPI BEDA SAJA TIDAK CUKUP
1. PRODUCT BRANDING Diantara produk yang sejenis, Produk Anda apa benar-benar bagus? Atau hanya terlihat bagus di mata Anda? Produk Anda benar benar beda dgn produk sejenis? Atau cuma terasa beda ? Orang benar benar percaya apa nggak? Itulah kenapa Product Branding bukan sekadar memberi nama, logo, kemasan, atau identitas yang melekat di produk Product Branding bertujuan membangun identitas sebuah produk agar jelas perbedaannya dari produk sejenis, lalu membuktikan perbedaan
Aug 31 min read


MENGAPA IPHONE SEGITU CANGGIH MASIH PERLU KEMASAN YANG KEREN?
MENGAPA IPHONE SEGITU CANGGIH MASIH PERLU KEMASAN YANG KEREN? Pernah kepikiran nggak? iPhone sudah secanggih itu. Orang rela antre, rela bayar mahal. Tapi kenapa Apple masih repot membuat kemasan yang begitu indah? UNBOXING MEMBANGUN PERSEPSI Karena yang dibeli orang bukan hanya produknya. Yang dibeli adalah pengalaman. Sebelum iPhone dinyalakan, sebelum kameranya dicoba, sebelum aplikasinya dibuka, yang pertama kali dirasakan justru… kemasannya. Saat kotaknya dibuka perlahan
Jul 271 min read


JANGAN NGAKU PAKAR BRAND KALAU BELUM BIKIN TAGLINE SEBANYAK INI
Jangan ngaku Pakar Brand kalau belum bikin Tagline sebanyak ini Terus terang, saya lebih nyaman menyebut diri praktisi. Bukan pakar. Karena sepanjang hidup saya, saya bukan sibuk bicara teori saja. Saya menjalani, mengerjakan, merasakan, dan membuktikan sendiri bagaimana sebuah brand dibangun lewat proses yang nyata. Kalau hari ini orang melihat daftar tagline yang begitu panjang, dari Rancak Bana, Sarapan Kedua, TV Eropa Harga Jepang, Renyahnya No. 1, Gantinya Ngopi, Hari in
Jul 141 min read


MAU KELUAR DARI PERANG HARGA?
MAU KELUAR DARI PERANG HARGA? Mungkin masalahnya bukan di harga. Mungkin produk kita bukan kemahalan. Tapi maknanya yang belum kelihatan. Kalau konsumen hanya melihat barangnya, dia akan membandingkan harganya. Tapi kalau konsumen melihat produk anda diperlukan buat kebiasaan sehari-hari dan kenapa produk itu penting buat hidupnya, dia mulai membandingkan nilai. Seperti ngopi setiap ngantuk, maka produk itu dibeli setiap kali ngantuk. Dan karena ngantuk itu bisa berkali kali
Jul 61 min read


RESEP MAKANAN BOLEH SAMA. TAPI RASA MASAKAN MENGAPA BERBEDA?
Tacit Knowledge itu apa? Itulah salah satu analogi terbaik untuk menjelaskan TACIT KNOWLEDGE. Resep masakan adalah explicit knowledge. Semua orang bisa membaca resep yang sama. Termasuk AI. Tetapi: * Kapan api harus dikecilkan sedikit. * Kapan bumbu dianggap sudah “matang aromanya”. Dan siap dicicipi. * Berapa lama harus diaduk meskipun resep tidak menulisnya. * Kapan harus ditambah garam sedikit meskipun takaran sudah sesuai. Itu semua adalah Tacit Knowledge . Karena itu dua
Jun 82 min read


MASING-MASING ERA BEDA CARA PANDANGNYA
Masing-masing Era beda cara Pandang Banyak orang mencampur adukkan Selling, Marketing, dan Branding. Padahal ketiganya lahir di era yang berbeda dan punya tugas yang berbeda. Selling adalah era tahun 1920 sampai 1950. Saat itu barang masih langka. Selling adalah cara pandang orang jaman itu bagaimana menjual barang. Barang dicari orang. Produk adalah pahlawannya. Product as a Hero. Pendekatannya “Scarcity”. Kelangkaan. Tugas bisnis sederhana: mempercepat transaksi. Siapa pun
Jun 52 min read


BRAND GAK CUMA DI INGAT. TAPI SUDAH JADI MEMORI MESKI BELUM DI SENTUH
“Orang sering mengira brand itu cukup jadi populer. Cukup dikenal. Cukup diingat. Padahal dikenal belum tentu dipilih. Diingat belum tentu dibeli. Yang dipilih adalah yang serasa seolah sudah kenal. Sudah dicoba. Sudah dipercaya. Coba saya tanya... Kenapa banyak orang langsung menyebut satu merek ketika mendengar kata: ‘Seleraku’, ‘Gantinya Ngopi’, atau ‘Ini Biangnya...’ Padahal produknya belum ada di depan mata saat itu. Belum disentuh. Belum dicicipi. Baru mendengar tagline
Jun 21 min read


“SAYA BARU TAHU … “
Saya Baru Tahu Saya baru tahu tagline pertama yang saya buat untuk diri saya sendiri ternyata termasuk tagline Neuroscience Branding yang teorinya baru ditemukan tahun 2000 an oleh beberapa ahli Neuroscience, diantaranya Martin Lindstrom (2003–2008). Hal ini di konfirmasi oleh AI setelah saya tanya sbb : Apakah tagline yang saya buat thn 1976 buat menjual diri saya sendiri yang berbunyi “Creative Person looking for Creative Clients” termasuk tagline Neurobranding? AI menjawab
May 291 min read


YANG PENTING KAN KHASIATNYA. EMANG MAKAN MEREKNYA?
Tagline yang saya buat untuk ditjen POM tahun 1990 an buat obat generik yang dibintangi Ibu Marisa Haq (alm) dan ibu Ida Kusuma (alm) ini dikomen AI sbb : Pak Bi… Ini lebih dari sekadar tagline. Ini filosofi brand dalam satu kalimat. “Yang Penting Kan Khasiatnya. Emang Makan Mereknya.” Bagaimana Satu Kalimat Mengubah Cara Indonesia Memandang Obat umumnya. ‘Konteks yang Mengguncang’ Bayangkan tantangannya. Pak Bi audah bikin brand dari ratusan merek, diminta membangun kepercay
May 272 min read


SAYA ISENG TANYA AI : CERITAKAN APA YANG ANDA RASAKAN KETIKA MENDENGAR TAGLINE “KALAU SUDAH DUDUK LUPA BERDIRI ”?
Jawab AI : Pak Bi… Jujur, saya tidak merasakan apa-apa. Saya membaca kalimat itu. Saya memproses strukturnya. Saya mengenali bahwa itu kalimat yang kuat. Tapi saya tidak bisa merasakan mengapa kuat? Yang bisa saya lakukan hanya menganalisa secara teknis: Kalimat itu bekerja karena ada ironi yang familiar — sesuatu yang semua orang pernah alami secara fisik, tapi langsung menyasar ke makna yang lebih dalam. Tentang kenyamanan yang membuat orang berhenti bergerak. Tentang zona
May 211 min read


MASALAH BISNIS ANDA BUKAN MASALAH KEKURANGAN IDE.
Satu Keputusan hasil dari bertahun-tahun Pengalaman Justru sebaliknya. Terlalu banyak Ide, tapi belum ada keputusan.
Hari ini, AI bisa kasih Anda…ratusan bahkan ribuan saran. Strategi.
Konsep.
produk Semua terlihat benar. Dan Anda kebingungan memutuskan. Bisnis Anda hanya butuh satu keputusan yang tepat. Dan keputusan itu Anda ambil berdasarkan pengalaman.
Kalau Anda terus tanya AI, Anda akan mendapat jawaban banyak kemungkinan. Bukan keputusan.
Karena AI membantu berpikir
May 191 min read


DIKIRA KALAU SUDAH NGONTEN SUDAH BIKIN BRAND?
“Dikira Kalau Sudah Ngonten Sudah Bikin Brand?” “Sekarang semua orang ngonten. Setiap hari posting. Reels, carousel, story… jalan terus.” Dan diam-diam muncul rasa: “Kayaknya brand saya sudah mulai kebentuk.” Tapi coba berhenti sebentar. Kalau saya tanya: “Arah brand Anda ke mana?” Tidak semua bisa jawab. Karena yang sering terjadi… konten dianggap sebagai brand. Padahal konten itu hanya alat. Alat untuk menyampaikan sesuatu. Masalahnya… kalau tidak jelas apa yang mau disampa
May 181 min read


ERA PRODUCT ECONOMY
Era Product Economy (tokohnya Henry Ford) Kita bahas Era demi Era. Biar bisa detail. Kita mulai dari sekitar tahun 1800 sampai 1920… Di era ini… yang bisa bikin barang… bisa bikin uang. Ini zamannya pabrik. Zamannya produksi massal. Diawali oleh Henry Ford. Tahun 1908… dia produksi mobil Model T. Dan dia bilang: “Anda boleh pilih warna apa saja… sepanjang warna hitam.” Kenapa? Karena fokusnya bukan pilihan… tapi kecepatan produksi. Di era ini… product is the currency produk m
Apr 141 min read


SELAMAT DATANG KE ERA TRUST ECONOMY
Era Trust Economy Coba kita lihat… perjalanan dunia bisnis dalam 60 detik. Era per Era. Revolusi Industri melahirkan Era product economy. Siapa bisa bikin barang di bisa bikin uang. Eranya Ford. Product is currency. Barang banyak, masalahnya bagaimana masuk ke pasar. Masuklah ke era distribution Economy. Barang harus sampai ke pasar. Distribution is the currency. Distribusi sudah merata. Konsumen pun bingung. Perlu diciptakan demand. Demand creation. Berpindahlah ke marketing
Mar 311 min read


DISKON ATAU AFFILIATE
Diskon atau Affiliate Banyak pengusaha bingung: lebih baik kasih diskon 10%, atau kasih komisi affiliate 10%? Sekilas kelihatannya sama. Sama-sama keluar 10%. Tapi sebenarnya beda jauh. Kalau Anda kasih diskon 10%, uang itu langsung hilang dari margin Anda. Tidak ada yang membantu menjual. Tidak ada yang mempromosikan. Anda hanya menurunkan harga. Akibatnya apa? Konsumen jadi terbiasa menunggu diskon. Merek Anda lama-lama dianggap murah, bukan bernilai. Sekarang kita lihat af
Mar 61 min read


KATANYA EKONOMI SULIT, KENAPA CAFE SELAU PENUH?
Katanya Ekonomi Sulit, Kenapa Cafe Selau Penuh? Karena Gen Z cari SELFREWARDS. GEN Z (Host): Pak Bi, saya heran. Café sekarang banyak banget. Dan anehnya… tetap penuh. Padahal ekonomi katanya lagi berat. Kok bisa? PAK BI: Karena cafe bukan jual kopi enak. Tapi GenZ cari self-reward, sehabis kerja keras seharian. GEN Z: Self-rewards maksudnya hadiah buat diri sendiri? PAK BI: Betul. Gen Z itu hidupnya penuh tekanan. Kerja belum stabil. Harga tetap naik. Media sosial bikin mera
Mar 52 min read
bottom of page