top of page

95 results found with an empty search

  • TOP OF MIND AJA GAK CUKUP. HARUS JADI TOP OF MEANING

    Top Of Mind Aja Gak Cukup. Harus Jadi Top Of Meaning   Untuk jadi Top of Mind diantara para pesaing anda aja sudah setangah mati susahnya. Itu baru untuk jadi yang paling diingat. Apalagi Top of Mean. Apa itu Top of Mean? Jika Top of Mean mengacu pada sebuah konsep yang berasal dari pengalaman dan pengetahuan tacit, atau pengetahuan yang diperoleh melalui praktik berkelanjutan selama bertahun-tahun, dan tidak mudah untuk diartikulasikan atau dijelaskan secara eksplisit. Tacit knowledge adalah jenis pengetahuan yang secara intrinsik pribadi dan kontekstual, seringkali sulit untuk dikomunikasikan kepada orang lain. Jika “Top of Mean” dianggap sebagai tacit knowledge yang diperoleh dari praktik berpuluh-puluh tahun, maka ini bisa merujuk pada pemahaman mendalam dan intuitif tentang apa yang membuat suatu produk bermakna bagi konsumen, yang telah dikembangkan melalui pengalaman panjang dalam bisnis atau industri tertentu. Ini mungkin melibatkan pemahaman nuansa perilaku konsumen, preferensi pasar yang berubah, dan bagaimana nilai-nilai dan kebutuhan sosial mempengaruhi persepsi nilai produk. Dalam hal ini, “Top of Meaning” bisa berarti memahami dan menerapkan pengetahuan tersebut untuk menciptakan atau menawarkan produk yang tidak hanya memenuhi kebutuhan fungsional tetapi juga memiliki makna dan nilai tambah yang signifikan bagi pembeli, yang pada gilirannya dapat memperkuat loyalitas dan keterikatan merek. Konsep ini menekankan pentingnya menggabungkan pengetahuan tacit yang diperoleh dari pengalaman panjang dengan strategi bisnis dan pemasaran untuk menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi konsumen dan diferensiasi di pasar. Follow  @subiakto  dan  @pakbi  buat anda bisa bikin brand. Bukan cuma bisa bikin logo #brand #branding #brandpositioning #shortcutbranding

  • KATA PAK BI TENTANG POSITIONING

    Kata Pak Bi Tentang Positioning   Kalau Anda mem-follow Pak Bi di Instagram, Anda pasti kerap mendengar istilah  positioning  dari postingan-postingan beliau atau pembahasan di Instagram Live.   Seperti yang biasa Pak Bi sebut di dalam workshopnya seperti Bisa Bikin Brand (BBB), sebuah brand harus menjadi yang pertama dalam sebuah kategori.    “‘Lebih baik menjadi yang pertama daripada menjadi yang lebih baik’ adalah ide positioning paling kuat sejauh ini,” kata Al Ries dan Trout dalam buku  Positioning: The Battle for Your Mind.   Kalau tidak bisa menjadi yang pertama, ciptakanlah sebuah kategori baru dan jadilah yang pertama dalam kategori baru tersebut, yang menurut Ries dan Trout merupakan “ide positioning nomor dua terkuat.”   Menurut 15 langkah Magnet Branding, temukan terlebih dahulu  Brand DNA, Core Value,  dan  Added Value  yang kemudian menjadi dasar  Positioning  brand Anda. Kalau kata Pak Bi, Anda dapat melakukan ini dengan cara menambahkan “yang” di belakang kategori yang sudah ada. Contohnya, “kerudung yang punya empat motif berbeda dalam sehelai kain,” burger yang dagingnya asli dibakar,” dan lain sebagainya.   Al Ries dan Jack Trout pertama kali mencetuskan konsep positioning dalam artikel di akhir 60an dan awal 70an, namun baru populer sekitar tahun 80an. Buku  Positioning: The Battle for Your Mind  pertama kali dirilis oleh Ries dan Trout di tahun 1980, yang hingga hari ini menjadi pegangan banyak praktisi branding dan periklanan di dunia termasuk Pak Bi sendiri.   Agar dapat lebih memahami positioning menurut Ries dan Trout, artikel ini berisi terjemahan dan penjelasan dari buku  Positioning: The Battle for Your Mind dalam bahasa Indonesia.   Kita mulai dengan pengertian positioning, yaitu apa yang Anda lakukan kepada pikiran calon pelanggan, atau dengan kata lain bagaimana cara Anda membedakan diri atau brand Anda di benak mereka.   Positioning bukan berarti menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda, karena ini sebenarnya adalah memanipulasi apa yang sudah berada di benak calon konsumen Anda atau menjembatani koneksi yang sudah ada.   Kata Ries dan Trout, sebagai pertahanan terhadap volume komunikasi saat ini, pikiran menyaring dan menolak banyak informasi yang ditawarkan. Secara umum, pikiran hanya menerima apa yang sesuai dengan pengetahuan atau pengalaman sebelumnya.    “Ketika keputusan telah dibuat, maka akan susah untuk mengubahnya. Pendekatan terbaik di dalam masyarakat kita yang berkomunikasi secara berlebihan adalah pesan yang sangat disederhanakan,” begitu bunyi salah satu kutipan dari buku  Positioning: The Battle for Your Mind.   Anda harus mempertajam pesan Anda untuk bisa menembus pikiran, dan juga harus membuang amiguitas, menyederhanakan pesannya, lalu kemudian menyederhanakannya lagi jika Anda ingin membuat kesan yang bertahan lama. Begitu Anda memiliki sebuah kata dalam pikiran [konsumen], maka Anda harus menggunakannya atau menghilangkannya.   Esensi dari pemikiran positioning adalah untuk menerima persepsi sebagai kenyataan, kemudian merestrukturisasi persepsi tersebut untuk menciptakan posisi yang Anda inginkan. Ries dan Trout menyebut proses ini sebagai pemikiran “luar-dalam.”   Positioning adalah sistem terorganisir untuk mencari jendela dalam pikiran. Hal ini berdasarkan pada konsep bahwa komunikasi hanya bisa terjadi pada waktu dan dalam keadaan yang tepat. Maka dari itu, cara termudah untuk masuk ke pikiran seseorang adalah menjadi yang pertama.   Apabila Anda ingin sukses dalam cinta maupun bisnis, Anda harus menghargai pentingnya masuk ke dalam pikiran terlebih dahulu.   “Apabila Anda tidak masuk ke dalam benak calon konsumen Anda (baik secara personal, politis, maupun korporat), maka Anda memiliki masalah positioning.”   Penulis: Nadia VH @nadiavetta

  • MENGENAL KEY SOUND SEBAGAI ‘MNEMONIC DEVICE’

    Mengenal Key Sound Sebagai ‘Mnemonic Device’   Apakah persamaan di antara “Xonce-nya mana?,” “Indomie Seleraku,” hingga “Kamu nanyea?” yang dipopulerkan oleh content creator Alif Cepmek?   Kalau Anda menebak ketiganya memiliki cara pengucapan yang khas, Anda benar! Nah, key sound seperti ini ternyata sangat penting untuk brand, karena ini termasuk pada mnemonic device. Wah, istilah apa lagi ini?   Mnemonic device, yang juga dikenal sebagai memory device, adalah teknik pembelajaran apapun yang membantu penyimpanan atau pengambilan informasi dalam memori manusia untuk pemahaman yang lebih baik — singkatnya, perangkat untuk menarik ingatan dalam benak konsumen tentang brand kita.   Nah, hal ini bisa dilihat dari teori pengkondisian klasik (classical conditioning) yang ditemukan oleh Ivan Pavlov melalui percobaan yang ia lakukan dengan anjing. Awalnya, anjing meneteskan air liur ketika diberikan makanan, yang merupakan stimulus tanpa syarat. Air liur yang dikeluarkan anjing adalah respon bawaan tanpa syarat.    Selanjutnya, anjing diberikan stimulus netral berupa bel, yang kemudian dibunyikan setiap mereka diberi makan. Hasilnya, anjing bisa dikondisikan untuk mengeluarkan air liur ketika mendengar suara bel, apabila suara tersebut berulang kali diperdengarkan di saat yang sama mereka diberikan makanan.    Pak Bi menerapkan teori Pavlov dengan menciptakan kondisi yang secara refleks akan mengingatkan konsumen pada brand yang beliau garap. Contohnya, cara pengucapan “Xoncenya mana?” pada iklan Xonce, atau jinglet seperti “Manalagi selain di McD” dan “Indomie Seleraku.”   Cara pengucapan tagline, jinglet, maupun jinglet merupakan mnemonic device yang dikategorikan sebagai key sound. Sama halnya dengan “Kamu nanyea?” yang akan segera mengingatkan Anda kepada Alif Cepmek.   Selain key sound, ada juga bentuk mnemonic device lainnya yaitu key visual dan key words. Mnemonic device ini bisa dipakai sebagai alat untuk mendisrupsi pesaing dan memonopoli pasar, lho.   Penasaran bagaimana caranya? Untuk para alumni Bisa Bikin Brand (BBB) yang ingin tahu lebih banyak lagi tentang mnemonic device, jangan sampai lewatkan workshop BISA BIKIN BRAND.   Kata Pak Bi, ilmu tertinggi yang beliau bagikan kepada para alumni hanya terdapat di workshop ini. Pendaftaran bisa dilakukan melalui link yang terdapat di bio Instagram @Subiakto atau klik di sini , atau Anda juga bisa menghubungi admin Kasim melalui WhatsApp di 085223944575.   Penulis: NadiaVH @nadiavetta

  • KESALAHAN UKM ADALAH PRODUK YANG GENERIK, TERUS BAGAIMANA CARA BERSAINGNYA?

    Kesalahan Ukm Adalah Produk Yang Generik, Terus Bagaimana Cara Bersaingnya?   Apakah Anda menyadari kalau di UKM ada banyak brand yang menawarkan produk generik? Padahal, hal ini akan menyulitkan pelaku UKM untuk membangun brandnya, lho.  Secara definisi, Produk generik  (generic product)  adalah produk yang memenuhi fungsi produk yang paling dasar, atau seringkali dijual dengan nama produknya ketimbang dengan nama brandnya, contohnya brand toko  (store brand)  atau produk supermarket  (supermarket goods).  Menurut Pak Bi, produk generik adalah produk yang sudah dikenal masyarakat umum. Pada umumnya, UKM selalu melakukan ATM (amati, tiru, modifikasi), tapi tidak jauh-jauh dari produk yang sudah kuat di pasar — bahkan  packaging,  logo, pemilihan warna juga terkadang meniru merek yang sudah besar sehingga tidak bisa bersaing. Karena inilah banyak UKM berada di kategori yang sama, memenuhi kebutuhan konsumen yang sama, memiliki fitur produk yang sama sehingga nyaris tidak memiliki perbedaan satu sama lain. Apakah salah kalau kita menjual produk yang sama? Apabila produk Anda tidak ada bedanya dengan milik brand UKM lainnya, maka konsumen tidak memiliki alasan mengapa mereka harus memilih produk Anda, bukannya produk dari brand lain. Pak Bi mengajarkan bahwa produk sama tidak apa-apa tapi carilah pembeda dengan membuat kategori baru, yaitu menambahkan kata “yang.” Misalnya Anda memiliki restoran spesialis Sate Madura. Kalau mau diterima di kategori tersebut, maka pengolahan sate, bumbu, cara membakarnya, bahkan aroma asapnya pun harus sama dengan Sate Madura lainnya. Kalau ada aspek yang berbeda, konsumen bisa saja berkomentar kalau produk Anda bukanlah Sate Madura. Setelah banyak yang menjual Sate Madura, Anda bisa bingung menemukan perbedaan dengan restoran lainnya agar konsumen memiliki alasan untuk membeli produk Anda, bukannya restoran Sate Madura lainnya. Makanya, rata-rata pelaku UKM kesulitan membangun brandnya karena brand dibangun dari perbedaannya, bukannya dengan menerapkan “Sate Madura yang…” Bagaimana caranya agar bisa menemukan sesuatu yang dapat membedakan produk Anda dengan produk dari brand lainnya? Jawabannya dapat ditemukan di Workshop BISA BIKIN BRAND. Penulis: Nadia VH @nadiavetta

  • PAK BI NGGAK PERCAYA MARKET RESEARCH. MENGAPA?

    Pak Bi Nggak Percaya Market Research. Mengapa?   Market research (riset pasar) atau marketing research (riset pemasaran) adalah serangkaian teknik yang digunakan untuk mengumpulkan informasi dan lebih mengerti target market perusahaan. Suatu bisnis atau perusahaan menggunakan Informasi yang didapat dari riset untuk beragam fungsi, seperti melihat tren di pasar, merancang produk yang lebih baik, menyusun strategi pemasaran yang menarik calon konsumen baru, atau meningkatkan penjualan. Pak Bi adalah salah satu orang nggak percaya dengan riset, mengapa? Menurut beliau, konsumen sesungguhnya tidak tahu apa yang mereka mau saat riset dilakukan. Jawaban yang mereka berikan berdasarkan referensi masa lalu dan sulit dipakai sebagai basis inovasi masa depan. Kalau kita mengikuti jawaban mayoritas kemauan konsumen, maka bisnis kita akan “aman” karena pembelinya sudah ada. Namun kenyataannya, brand harus melayani konsumen dan ke depannya seakan disetir oleh konsumen — padahal, pikiran mereka sebenarnya fleksibel dan siap menerima hal baru. Mengutip dari Steve Jobs, penemu Apple, inilah yang membuatnya tidak percaya kepada market research: “Some people say give the customers what they want, but that’s not my approach. Our job is to figure out what they’re going to want before they do. I think Henry Ford once said, ‘If I’d ask customers what they wanted, they would’ve told me a faster horse.’ People don’t know what they want until you show it to them. That’s why I never rely on market research. Our task is to read things that are not yet on the page.” Terjemahan bahasa Indonesianya: “Beberapa orang mengatakan berikan pelanggan apa yang mereka mau, tapi itu bukanlah pendekatan saya. Pekerjaan kami adalah untuk mencari tahu apa yang akan mereka inginkan sebelum mereka menginginkannya. Saya pikir, Henry Ford pernah berkata, ‘Jika saya menanyakan konsumen apa yang mereka mau, mereka akan memberitahu saya kalau mereka ingin kuda yang lebih cepat.’  “Orang tidak tahu apa yang mereka inginkan sampai Anda menunjukkannya kepada mereka. Itulah mengapa saya tidak pernah mengandalkan riset pasar. Tugas kami adalah membaca hal-hal yang belum tertera di halaman.” Namun jangan keliru, bukannya Steve Jobs nggak mau mendengar apa kata konsumen, lho. Kutipan di atas sebenarnya adalah kritiknya terhadap cara riset pasar yang konvensional seperti wawancara maupun survey, yang biasanya hanya berisi masukan untuk menjadi lebih baik dari produk-produk yang sudah ada di pasaran. Brand yang lebih banyak “bergerak” dari insight yang kurang mendalam serta dimotivasi oleh apa yang dilakukan oleh kompetitor tentunya tidak akan menjadi brand yang dapat mendobrak pasar. Pak Bi sendiri lebih percaya pada pengamatan perilaku konsumen dibandingkan dengan jawaban dari sederet pernyataan dalam riset yang dapat saja dibuat-buat agar terkesan “cantik” di atas kertas. Kebetulan, beliau memiliki sebuah pengalaman menarik saat menciptakan permen Kopiko. Saat itu, pihak klien pernah mendorong Pak Bi untuk melakukan FGD (focus group discussion) sebelum meluncurkan Kopiko yang memiliki value “Gantinya Ngopi,” dengan konsep permen yang bukan hanya memiliki rasa kopi, tapi juga ada kandungan kafeinnya.  Hasil FGD, yang waktu itu melibatkan beberapa grup dari demografi yang berbeda-beda, menunjukkan kalau permen tidak akan pernah bisa menggantikan pengalaman ngopi karena tidak ada sensasi hangat atau otak yang “bangun” terkena kafein, tidak ada menyeruput kopi dari gelas, dan lainnya.  Pak Bi menciptakan kategori produk baru dengan Kopiko sebagai penyelamat ngantuk di saat kopi tidak tersedia, misalnya ketika naik kendaraan umum atau berada di dalam kelas. Saat itu, mendorong klien untuk melakukan trial memasarkan Kopiko selama tiga bulan terasa sulit sekali, namun untungnya CEO Mayora saat itu, Jogi Hendra Atmadja, berani mengambil resiko. And the rest is history. Seperti potongan dari kutipan Steve Jobs di atas, “Tugas kami adalah membaca hal-hal yang belum tertera di halaman,” untuk bisa menjadi brand yang inovatif di tengah pasar yang sangat kompetitif, maka Anda harus memiliki pemahaman yang mendalam mengenai siapa konsumen Anda. Pengetahuan yang intimate inilah yang membuat brand Anda bisa mengetahui apa yang sebenarnya mereka butuhkan selama ini. Lalu, gabungkan pengetahuan tentang konsumen dengan sumber daya yang dimiliki untuk menciptakan sesuatu yang baru dan melayani kebutuhan mereka dengan lebih baik dari sebelumnya.   Penulis: Nadia VH @nadiavetta

  • WALK THE TALK

    Walk The Talk   Yang di omongin ya harusnya yang pernah dilakukan. Nasehat para sepuh “Mun ncan kabukti mah bohong”. Cerita kisah sukses anda buat menginspirasi. Bukan dibuat formula. Karena jaman berubah. Marketing 1.0 (4P) yang fokus memuji keunggulan produk (iklan) populer sebagai Marketing modern tahun 1960-an. Sudah beralih ke Marketing 2.0 pada tahun 1990-an yang fokus pada Branding berbasis habit konsumen. Sudah beralih ke Marketing 3.0 pada tahun 2000-an yg fokus pada cocreation. Dan beralih ke Marketing 4.0 pada tahun 2015-an yang fokus pada engagement komunitas. Ini menurut Phillip Kotler loh. Bukan karangan saya. Malah menurut Kotler dunia sedang berproses bergeser lagi ke Marketing 5.0 yang lebih melibatkan teknologi seperti NFT, tokenomic, crypto dan bitcoin sebagai solusi Finance diluar rezim perbankan. UKM boleh saja masih mengandalkan produk budaya warisan leluhur tapi harus tetap open minded thd perubahan jaman. Biar gak kudet. Selaku praktisi Branding yang sudah 50 tahun praktek, ilmu Brand justru semakin relevan karena Branding itu berbasis VALUE. Bukan tempat bersejarah. Kecuali tempat itu sendiri sudah memiliki VALUE seperti Jabal Tsoor yang memiliki Value HIJRAH sejak RasululLah mendapat perintah AlLah SWT. Formula sukses Brand mah tetap relevan. Yang berubah adalah cara pendekatan pasarnya. Karena pasar berubah. Sementara Value tetap relevan. Kecuali kamu nggak ngerti. Follow 👉🏿  @subiakto Follow 👉🏿  @subiakto Follow 👉🏿  @subiakto #brand #bisnis #nobrandnobisnis #budiismanofficial #subiakto #bisabikinbrand #dewaekaprayoga #tribespakbi

  • KALAU SUDAH PUNYA BRAND, NGGAK USAH PERANG BRAND

    Kalau Sudah Punya Brand, Nggak Usah Perang Brand   Ada banyak sekali brand yang ada di pasaran apapun kategori produknya. Pertanyaannya: perang brand itu ada nggak, sih? Kata Pak Bi, pada dasarnya nggak ada perang brand karena konsumen sudah percaya dengan valuenya — sehingga brand dalam kategori yang sama tidak perlu berebutan konsumen. Kalau sudah jatuh cinta, maka akan susah pindah ke brand yang lain. Contohnya, dua jaringan minimarket terbesar di Indonesia, Alfamart dan Indomaret, bisa bersanding — bahkan tak jarang tokonya bersebelahan. Kedua brand tersebut mungkin aja menjual produk yang sama, namun masing-masing dari mereka memiliki Brand DNA, Brand Core Value, Brand Added Value, dan Brand Positioning yang berbeda. Bagaimana dengan perang merek? Menurut Pak Bi, hal ini mungkin saja terjadi karena masing-masing merek yang ada belum memiliki value, sehingga mereka adu keren dalam nama, logo, kemasan, serta aspek lainnya. Singkat kata, merek bukan brand karena brand harus memiliki value; jadi, kalau belum memiliki value, ya baru sampai merek. Rumus brand adalah nama plus makna yang memiliki Call To Action. Karena konsumen belum merasakan makna dari kehadiran merek, maka merek akan tetap menjadi merek yang bersaing kehadirannya di benak konsumen. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh sebuah brand untuk berani bersanding tanpa takut bersaing antara lain keluar dari posisi generik produk, perang harga, red ocean, lalu membuat kategori baru tanpa pesaing. Untuk melakukan hal-hal tadi, Anda dapat menganalisa brand Anda dengan menggunakan 15 Langkah Magnet Branding, mulai dari Product Insight hingga Brand Experience. Kalau ingin tahu bagaimana caranya brand Anda memiliki value di hati konsumen, jangan lewatkan BISA BIKIN BRAND . Penulis: Nadia VH @nadiavetta

  • INDONESIA SPICING THE WORLD

    Indonesia Spicing The World Host: Pak Bi. Apa sih Gerakan Indonesia Spicing The World itu “Bukan sekadar slogan pemerintah, ini adalah sebuah gerakan para pelaku UKM Indonesia melakukan Rebranding Indonesia. Indonesia Membumbui Dunia. hal ini yang mendasari Pak Bi mengajar dan membekali para UKM Indonesia supaya berani tampil percaya diri membumbui dunia.” Host: Mengapa Pak Bi memilih bumbu sebagai DNA Indonesia? “Karena Indonesia terkenal dengan rempahnya sejak dahulu. Membuat penjajah datang ke Indonesia untuk mencari rempah dan dibawa ke negaranya. Boleh dibilang Indonesia itu DNAnya bumbu. Tanpa Indonesia, dunia berasa hambar.” Host: kapan dimulainya gerakan ini, Pak Bi? “Pertama diadakan pada tanggal 24 Agustus 2019 bertepatan hari ulang tahun Pak bi ke 70 dan bertepatan 50 tahun berkarya di dunia branding. Sebuah peristiwa yang tidak bisa diulang.” Host: Apakah gerakan ini hanya untuk UKM makanan saja, Pak Bi? “Tentunya bukan hanya makanan. Membumbui disini kiasan bahwa tanpa Indonesia dunia tidak memiliki rasa, hambar. Semua pelaku UKM bisa membumbui dunia dengan cara masing2.” “Tahun 2023, Indonesia Spicing The World kembali digelar offline pertama kali setelah pandemi, dan di sanalah Kitab BBB pertama diluncurkan—tentang evolusi Selling, Marketing, dan Branding 1.0 sampai 4.0.” “Dan sekarang di tahun 2025. Indonesia Spicing The World kembali hadir di Bandung. Bukan hanya meluncurkan Kitab BBB kedua 15 Langkah Magnet Branding, tapi juga buku penting “Brand adalah Kebenaran Baru”. Karena di era cognitive war, yang dipercaya konsumen bukan fakta, tapi persepsi.” “Indonesia Spicing The World bukan event tahunan. Tapi titik kumpul dan titik lompat UKM Indonesia untuk membumbui dunia.” Catat tanggalnya. Jangan lewatkan. Jangan ketinggalan Tiket hadir bisa dibeli di lynk.id/pakbi Setiap peserta akan memperoleh buku BBB3 dengan judul Brand adalah kebenaran baru Sampai jumpa di Bandung

  • MULA-MULA PIKIRANMU, LAMA-LAMA RUMAHMU, LAMA-LAMA KEHIDUPANMU.

    Tanpa sadar rumahmu sudah dijajah Brand Coba lihat sekeliling rumahmu.
Apa yang kamu lihat di rak, di lemari, di meja, di dinding?
Tanpa sadar, semua benda itu memiliki nama. Dan nama-nama itu bukan milikmu. 
Mereka milik brand — dan mereka sudah tinggal di rumahmu lebih dulu daripada kamu sadar. Kamar Mandi — Dikendalikan Aroma dan Buih. Baru melek mata di pagi hari, kamu sudah bertemu dengan merek-merek seperti Lifebuoy, Dettol, atau Lux. 
Sikat gigimu berlogo Pepsodent atau Sensodyne, dan klosetmu dibersihkan dengan Harpic atau Vixal. Dapur — Wilayah Brand Paling Sibuk. Dapur bukan cuma tempat masak. Tapi panggung pertempuran brand: * Bimoli dan Tropical untuk gorengannya, * Segitiga Biru untuk adonan, * Indomie untuk solusi lapar instan. Setiap botol, karung beras, dan wadah plastik menyimpan satu hal: brand yang kamu percaya, tanpa banyak bertanya. Ruang Keluarga — Brand Duduk Bersamamu. Saat kamu santai di sofa, siapa yang benar-benar menemanimu? TV-mu berlogo Samsung, snack-mu dari Oreo atau Chitato, minumanmu adalah Teh Botol Sosro atau Aqua, dan hiburanmu datang dari Netflix atau Disney+. Brand tahu caranya menyusup ke momen terdekatmu. Bahkan waktu santaimu sudah tidak steril dari pengaruh mereka. Kamar Tidur — Brand yang Menyentuh Wajah dan Mimpi Saat malam datang, kamu tidur di atas Comforta atau King Koil.
Mukamu disentuh Nivea, Vaseline, atau Pond’s.
Udaramu diatur Daikin atau Sharp.
Ruangmu wangi karena Stella atau Glade. Kamu pikir kamu sedang istirahat.
Tapi brand sedang bekerja menjaga “posisinya” Saat kamu membuka lemari, kamu melihat nama-nama ini:
Nike, Adidas, GT Man, H&M, Erigo, Zoya, Uniqlo, Vanilla Hijab. Semua itu bukan sekadar pakaian. 
Mereka adalah identitas yang kamu sewa, setiap kali kamu memakainya. Lemarimu penuh dengan nama — tapi tidak ada satu pun namamu di sana. Apakah kamu sudah mulai membangun brand milikmu sendiri? Atau kamu akan terus jadi “penghuni rumah” yang dikuasai brand orang lain? Ikut workshop Bisa Bikin Brand 25-26 Juni 2015 di Hotel Ibis Style Simatupang Jakarta Selatan. Komen mau saya DM cara daftarnya. Materi workshop di lynk.id/subiaktobrand atau lynk.id/pakbi

  • “APA BEDANYA PRODUK BRAND, PERSONAL BRAND DAN CORPORATE BRAND?”

    “Apa Bedanya Produk Brand, Personal Brand Dan Corporate Brand?” Pagi pagi mata baru melek ditanya sama @aresdimahdi alumni workshop Bisa Bikin Brand pertanyaan seperti diatas. Baru saya sadar ternyata perkembangan Brand pesat sekali. Saya pikir UKM cuma tertarik sama produk Brand. Baru sadar kalau UKM butuh Personal Brand dan Corporate brand. Jangan jangan perlu juga place Brand, city Brand dan Country Brand? Hahaha Jadi mikir workshop Bisa Bikin Brand mendatang saya buka dengan penjelasan Personal Brand, dan Corporate Brand. Saya coba jelaskan disini Produk Brand, Personal Brand dan Corporate Brand. 1. Produk Brand Produk Brand = Manfaat atau Makna Produk    •   Fokus pada persepsi terhadap produk.    •   Yang dijual: rasa, kualitas, fungsi, gaya hidup.    •   Contoh: Indomie = Seleraku, bukan sekadar mi instan. Kuncinya: Produk harus relevan, enak, dan punya nilai tambah. ⸻ 2. Personal Brand Personal Brand = Persepsi tentang Diri Anda    •   Fokus pada karakter, kompetensi, dan nilai pribadi.    •   Yang dijual: trust, pengaruh, dan reputasi personal.    •   Contoh: Najwa Shihab = integritas & kecerdasan. Kuncinya: Konsisten bersikap dan berkontribusi di bidangmu. ⸻ 3. Corporate Brand Corporate Brand = Reputasi Perusahaan    •   Fokus pada prinsip, kredibilitas, dan nilai perusahaan.    •   Yang dijual: kepercayaan terhadap seluruh sistem & tim.    •   Contoh: Apple = inovasi & premium experience. Kuncinya: Semua unit, produk, dan orang harus mencerminkan nilai yang sama. Bangun brand kamu dari apa yang kamu punya hari ini. Mau mulai dari produk, diri sendiri, atau perusahaan — yang penting harus bisa dipercaya!“ Ikut workshop Bisa Bikin Brand 23-24 Juli 2025 di Hotel Ibis Styles, Citos, Jakarta Selatan. Preview video materi Workshop bisa diakses di lynk.id/subiaktobrand  atau lynk.id/pakbi Sumber: IG Pak Subiakto Sampai nanti

  • BUAT SAYA, KITAB BBB MAKNANYA BUKAN BUKU BIASA

    Buat Saya, Kitab Bbb Maknanya Bukan Buku Biasa Kenapa? Pertama, karena pak @subiakto menulis buku ini sebagai semangat untuk mempercepat pemulihan dari sakit. Melalui tulisan, Pak Bi mengulang dan mengingat kembali apa yang selama ini dishare saat Workshop #BisaBikinBrand . Saya menyaksikan sendiri semangatnya yang luar biasa utk mereview dan mengkoreksi meski sudah dibantu dg editor handal, @alan_t_h 👍Buat saya, ini yang paling penting. Mengembalikan semangat Pak Bi 🥰 Kedua, buku ini berisi pengalaman Pak Bi membangun brand2 nasional, berdasarkan pengalaman beliau sebagai Praktisi Brand lebih dari 50 tahun. Ketiga, Pak Bi ingin memberikan pemahaman yang benar tentang BRAND. Buku ini merupakan panduan pertama agar MINDSET teman2 terbangun dengan benar. Memang mencari di internet sangat mudah dan cepat, masalahnya apakah info yang Anda dapatkan itu berasal dari sumber yang tepat, benar dan terpercaya? Keempat, Pak Bi gak mau ada yang ketinggalan. Mungkin saat ini belum bisa ikut Workshop offline atau pun online, sehingga buku merupakan salah satu solusi untuk bertemu dengan ilmu praktis Pak Bi. Di mana pun, kapan pun. Oleh karena itu, tak berlebihan untuk menyebut buku ini sebagai KITAB karena akan menjadi acuan teman2 membangun Brand. Semoga Pak Bi masih tetap bersemangat untuk mengejar buku kedua, ketiga, keempat atau bahkan kelima 😍🤭 Dan teman2 di mana pun akan mendapatkan manfaat dari Kitab ini 🙏 Penulis: @dwitasoewarno Diambil dari Instgram pribadi bu  @dwitasoewarno #IndonesiaBisaBikinBrand #IndonesiaSpicingTheWorld #PakBi #Subiakto #PraktisiBrand #PakarBranding

  • ROAD TO INDONESIA SPICING THE WORLD

    Road to Indonesia Spicing The World 💫 Langkah persiapan sudah kami lakukan dengan panitia kecil. Insya Allah kami siap menghadirkan kembali 50 tahun Milestone pak  @subiakto  dalam event ISTW 2025 yang rencananya akan diadakan di Bandung pada tanggal 28 Agustus 2025. Kitab ke 2 yang sedang disiapkan Pak Bi semoga memberikan lebih banyak inspirasi dan Kitab ke 3 yang membuka lebih luas lagi pengertian tentang Brand dan menyiapkan Indonesia Membumbui Dunia. Kami tidak berjalan sendiri. Semua teman2 Alumni Workshop BisaBikinBrand selalu mendampingi. Event yang berjalan sejak 2019 kemudian dilakukan online selama masa Covid dan kembali hadir tahun 2023 bersamaan dengan peluncuran Kitab BBB pertama yang sudah membawa BisaBikinBrand ke kampus Universitas Airlangga Surabaya. Terima kasih khusus untuk ibu  @najahfal  atas dukungan penuh yang tak pernah berhenti. Juga teman2 panitia sejak 2019. Insya Allah lanjut lagi di Agustus mendatang  Rencana ISTW tahun ini didukung penuh oleh teh  @inaardhina  dan team kreatif dari dapur  @kiseraid  serta venue oleh  @dbotanicabandung   Kami tunggu kehadiran teman2 semua. Sampai bertemu di update selanjutnya, lebih detail tentang acara, sponsorship dan link pendaftaran  Hatur nuhun      Penulis: Dwita Soewarno   #IndonesiaSpicingTheWorld #IndonesiaBisaBikinBrand #BisaBikinBrand #Subiakto   #PakBi #PraktisiBranding #PakarBrand

CONNECT

SUBIAKTO PRIOSOEDARSONO CBS

DBrand

Send me an email

Visit our website

Follow me on Twitter

Follow us on Twitter

Book me for an event

Apply for a position

Become a client

View my Book

© 2025 by subiakto.com

bottom of page