top of page

91 results found with an empty search

  • PAK BI NGGAK PERCAYA MARKET RESEARCH. MENGAPA?

    Pak Bi Nggak Percaya Market Research. Mengapa?   Market research (riset pasar) atau marketing research (riset pemasaran) adalah serangkaian teknik yang digunakan untuk mengumpulkan informasi dan lebih mengerti target market perusahaan. Suatu bisnis atau perusahaan menggunakan Informasi yang didapat dari riset untuk beragam fungsi, seperti melihat tren di pasar, merancang produk yang lebih baik, menyusun strategi pemasaran yang menarik calon konsumen baru, atau meningkatkan penjualan. Pak Bi adalah salah satu orang nggak percaya dengan riset, mengapa? Menurut beliau, konsumen sesungguhnya tidak tahu apa yang mereka mau saat riset dilakukan. Jawaban yang mereka berikan berdasarkan referensi masa lalu dan sulit dipakai sebagai basis inovasi masa depan. Kalau kita mengikuti jawaban mayoritas kemauan konsumen, maka bisnis kita akan “aman” karena pembelinya sudah ada. Namun kenyataannya, brand harus melayani konsumen dan ke depannya seakan disetir oleh konsumen — padahal, pikiran mereka sebenarnya fleksibel dan siap menerima hal baru. Mengutip dari Steve Jobs, penemu Apple, inilah yang membuatnya tidak percaya kepada market research: “Some people say give the customers what they want, but that’s not my approach. Our job is to figure out what they’re going to want before they do. I think Henry Ford once said, ‘If I’d ask customers what they wanted, they would’ve told me a faster horse.’ People don’t know what they want until you show it to them. That’s why I never rely on market research. Our task is to read things that are not yet on the page.” Terjemahan bahasa Indonesianya: “Beberapa orang mengatakan berikan pelanggan apa yang mereka mau, tapi itu bukanlah pendekatan saya. Pekerjaan kami adalah untuk mencari tahu apa yang akan mereka inginkan sebelum mereka menginginkannya. Saya pikir, Henry Ford pernah berkata, ‘Jika saya menanyakan konsumen apa yang mereka mau, mereka akan memberitahu saya kalau mereka ingin kuda yang lebih cepat.’  “Orang tidak tahu apa yang mereka inginkan sampai Anda menunjukkannya kepada mereka. Itulah mengapa saya tidak pernah mengandalkan riset pasar. Tugas kami adalah membaca hal-hal yang belum tertera di halaman.” Namun jangan keliru, bukannya Steve Jobs nggak mau mendengar apa kata konsumen, lho. Kutipan di atas sebenarnya adalah kritiknya terhadap cara riset pasar yang konvensional seperti wawancara maupun survey, yang biasanya hanya berisi masukan untuk menjadi lebih baik dari produk-produk yang sudah ada di pasaran. Brand yang lebih banyak “bergerak” dari insight yang kurang mendalam serta dimotivasi oleh apa yang dilakukan oleh kompetitor tentunya tidak akan menjadi brand yang dapat mendobrak pasar. Pak Bi sendiri lebih percaya pada pengamatan perilaku konsumen dibandingkan dengan jawaban dari sederet pernyataan dalam riset yang dapat saja dibuat-buat agar terkesan “cantik” di atas kertas. Kebetulan, beliau memiliki sebuah pengalaman menarik saat menciptakan permen Kopiko. Saat itu, pihak klien pernah mendorong Pak Bi untuk melakukan FGD (focus group discussion) sebelum meluncurkan Kopiko yang memiliki value “Gantinya Ngopi,” dengan konsep permen yang bukan hanya memiliki rasa kopi, tapi juga ada kandungan kafeinnya.  Hasil FGD, yang waktu itu melibatkan beberapa grup dari demografi yang berbeda-beda, menunjukkan kalau permen tidak akan pernah bisa menggantikan pengalaman ngopi karena tidak ada sensasi hangat atau otak yang “bangun” terkena kafein, tidak ada menyeruput kopi dari gelas, dan lainnya.  Pak Bi menciptakan kategori produk baru dengan Kopiko sebagai penyelamat ngantuk di saat kopi tidak tersedia, misalnya ketika naik kendaraan umum atau berada di dalam kelas. Saat itu, mendorong klien untuk melakukan trial memasarkan Kopiko selama tiga bulan terasa sulit sekali, namun untungnya CEO Mayora saat itu, Jogi Hendra Atmadja, berani mengambil resiko. And the rest is history. Seperti potongan dari kutipan Steve Jobs di atas, “Tugas kami adalah membaca hal-hal yang belum tertera di halaman,” untuk bisa menjadi brand yang inovatif di tengah pasar yang sangat kompetitif, maka Anda harus memiliki pemahaman yang mendalam mengenai siapa konsumen Anda. Pengetahuan yang intimate inilah yang membuat brand Anda bisa mengetahui apa yang sebenarnya mereka butuhkan selama ini. Lalu, gabungkan pengetahuan tentang konsumen dengan sumber daya yang dimiliki untuk menciptakan sesuatu yang baru dan melayani kebutuhan mereka dengan lebih baik dari sebelumnya.   Penulis: Nadia VH @nadiavetta

  • WALK THE TALK

    Walk The Talk   Yang di omongin ya harusnya yang pernah dilakukan. Nasehat para sepuh “Mun ncan kabukti mah bohong”. Cerita kisah sukses anda buat menginspirasi. Bukan dibuat formula. Karena jaman berubah. Marketing 1.0 (4P) yang fokus memuji keunggulan produk (iklan) populer sebagai Marketing modern tahun 1960-an. Sudah beralih ke Marketing 2.0 pada tahun 1990-an yang fokus pada Branding berbasis habit konsumen. Sudah beralih ke Marketing 3.0 pada tahun 2000-an yg fokus pada cocreation. Dan beralih ke Marketing 4.0 pada tahun 2015-an yang fokus pada engagement komunitas. Ini menurut Phillip Kotler loh. Bukan karangan saya. Malah menurut Kotler dunia sedang berproses bergeser lagi ke Marketing 5.0 yang lebih melibatkan teknologi seperti NFT, tokenomic, crypto dan bitcoin sebagai solusi Finance diluar rezim perbankan. UKM boleh saja masih mengandalkan produk budaya warisan leluhur tapi harus tetap open minded thd perubahan jaman. Biar gak kudet. Selaku praktisi Branding yang sudah 50 tahun praktek, ilmu Brand justru semakin relevan karena Branding itu berbasis VALUE. Bukan tempat bersejarah. Kecuali tempat itu sendiri sudah memiliki VALUE seperti Jabal Tsoor yang memiliki Value HIJRAH sejak RasululLah mendapat perintah AlLah SWT. Formula sukses Brand mah tetap relevan. Yang berubah adalah cara pendekatan pasarnya. Karena pasar berubah. Sementara Value tetap relevan. Kecuali kamu nggak ngerti. Follow 👉🏿  @subiakto Follow 👉🏿  @subiakto Follow 👉🏿  @subiakto #brand #bisnis #nobrandnobisnis #budiismanofficial #subiakto #bisabikinbrand #dewaekaprayoga #tribespakbi

  • KALAU SUDAH PUNYA BRAND, NGGAK USAH PERANG BRAND

    Kalau Sudah Punya Brand, Nggak Usah Perang Brand   Ada banyak sekali brand yang ada di pasaran apapun kategori produknya. Pertanyaannya: perang brand itu ada nggak, sih? Kata Pak Bi, pada dasarnya nggak ada perang brand karena konsumen sudah percaya dengan valuenya — sehingga brand dalam kategori yang sama tidak perlu berebutan konsumen. Kalau sudah jatuh cinta, maka akan susah pindah ke brand yang lain. Contohnya, dua jaringan minimarket terbesar di Indonesia, Alfamart dan Indomaret, bisa bersanding — bahkan tak jarang tokonya bersebelahan. Kedua brand tersebut mungkin aja menjual produk yang sama, namun masing-masing dari mereka memiliki Brand DNA, Brand Core Value, Brand Added Value, dan Brand Positioning yang berbeda. Bagaimana dengan perang merek? Menurut Pak Bi, hal ini mungkin saja terjadi karena masing-masing merek yang ada belum memiliki value, sehingga mereka adu keren dalam nama, logo, kemasan, serta aspek lainnya. Singkat kata, merek bukan brand karena brand harus memiliki value; jadi, kalau belum memiliki value, ya baru sampai merek. Rumus brand adalah nama plus makna yang memiliki Call To Action. Karena konsumen belum merasakan makna dari kehadiran merek, maka merek akan tetap menjadi merek yang bersaing kehadirannya di benak konsumen. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh sebuah brand untuk berani bersanding tanpa takut bersaing antara lain keluar dari posisi generik produk, perang harga, red ocean, lalu membuat kategori baru tanpa pesaing. Untuk melakukan hal-hal tadi, Anda dapat menganalisa brand Anda dengan menggunakan 15 Langkah Magnet Branding, mulai dari Product Insight hingga Brand Experience. Kalau ingin tahu bagaimana caranya brand Anda memiliki value di hati konsumen, jangan lewatkan BISA BIKIN BRAND . Penulis: Nadia VH @nadiavetta

  • INDONESIA SPICING THE WORLD

    Indonesia Spicing The World Host: Pak Bi. Apa sih Gerakan Indonesia Spicing The World itu “Bukan sekadar slogan pemerintah, ini adalah sebuah gerakan para pelaku UKM Indonesia melakukan Rebranding Indonesia. Indonesia Membumbui Dunia. hal ini yang mendasari Pak Bi mengajar dan membekali para UKM Indonesia supaya berani tampil percaya diri membumbui dunia.” Host: Mengapa Pak Bi memilih bumbu sebagai DNA Indonesia? “Karena Indonesia terkenal dengan rempahnya sejak dahulu. Membuat penjajah datang ke Indonesia untuk mencari rempah dan dibawa ke negaranya. Boleh dibilang Indonesia itu DNAnya bumbu. Tanpa Indonesia, dunia berasa hambar.” Host: kapan dimulainya gerakan ini, Pak Bi? “Pertama diadakan pada tanggal 24 Agustus 2019 bertepatan hari ulang tahun Pak bi ke 70 dan bertepatan 50 tahun berkarya di dunia branding. Sebuah peristiwa yang tidak bisa diulang.” Host: Apakah gerakan ini hanya untuk UKM makanan saja, Pak Bi? “Tentunya bukan hanya makanan. Membumbui disini kiasan bahwa tanpa Indonesia dunia tidak memiliki rasa, hambar. Semua pelaku UKM bisa membumbui dunia dengan cara masing2.” “Tahun 2023, Indonesia Spicing The World kembali digelar offline pertama kali setelah pandemi, dan di sanalah Kitab BBB pertama diluncurkan—tentang evolusi Selling, Marketing, dan Branding 1.0 sampai 4.0.” “Dan sekarang di tahun 2025. Indonesia Spicing The World kembali hadir di Bandung. Bukan hanya meluncurkan Kitab BBB kedua 15 Langkah Magnet Branding, tapi juga buku penting “Brand adalah Kebenaran Baru”. Karena di era cognitive war, yang dipercaya konsumen bukan fakta, tapi persepsi.” “Indonesia Spicing The World bukan event tahunan. Tapi titik kumpul dan titik lompat UKM Indonesia untuk membumbui dunia.” Catat tanggalnya. Jangan lewatkan. Jangan ketinggalan Tiket hadir bisa dibeli di lynk.id/pakbi Setiap peserta akan memperoleh buku BBB3 dengan judul Brand adalah kebenaran baru Sampai jumpa di Bandung

  • MULA-MULA PIKIRANMU, LAMA-LAMA RUMAHMU, LAMA-LAMA KEHIDUPANMU.

    Tanpa sadar rumahmu sudah dijajah Brand Coba lihat sekeliling rumahmu.
Apa yang kamu lihat di rak, di lemari, di meja, di dinding?
Tanpa sadar, semua benda itu memiliki nama. Dan nama-nama itu bukan milikmu. 
Mereka milik brand — dan mereka sudah tinggal di rumahmu lebih dulu daripada kamu sadar. Kamar Mandi — Dikendalikan Aroma dan Buih. Baru melek mata di pagi hari, kamu sudah bertemu dengan merek-merek seperti Lifebuoy, Dettol, atau Lux. 
Sikat gigimu berlogo Pepsodent atau Sensodyne, dan klosetmu dibersihkan dengan Harpic atau Vixal. Dapur — Wilayah Brand Paling Sibuk. Dapur bukan cuma tempat masak. Tapi panggung pertempuran brand: * Bimoli dan Tropical untuk gorengannya, * Segitiga Biru untuk adonan, * Indomie untuk solusi lapar instan. Setiap botol, karung beras, dan wadah plastik menyimpan satu hal: brand yang kamu percaya, tanpa banyak bertanya. Ruang Keluarga — Brand Duduk Bersamamu. Saat kamu santai di sofa, siapa yang benar-benar menemanimu? TV-mu berlogo Samsung, snack-mu dari Oreo atau Chitato, minumanmu adalah Teh Botol Sosro atau Aqua, dan hiburanmu datang dari Netflix atau Disney+. Brand tahu caranya menyusup ke momen terdekatmu. Bahkan waktu santaimu sudah tidak steril dari pengaruh mereka. Kamar Tidur — Brand yang Menyentuh Wajah dan Mimpi Saat malam datang, kamu tidur di atas Comforta atau King Koil.
Mukamu disentuh Nivea, Vaseline, atau Pond’s.
Udaramu diatur Daikin atau Sharp.
Ruangmu wangi karena Stella atau Glade. Kamu pikir kamu sedang istirahat.
Tapi brand sedang bekerja menjaga “posisinya” Saat kamu membuka lemari, kamu melihat nama-nama ini:
Nike, Adidas, GT Man, H&M, Erigo, Zoya, Uniqlo, Vanilla Hijab. Semua itu bukan sekadar pakaian. 
Mereka adalah identitas yang kamu sewa, setiap kali kamu memakainya. Lemarimu penuh dengan nama — tapi tidak ada satu pun namamu di sana. Apakah kamu sudah mulai membangun brand milikmu sendiri? Atau kamu akan terus jadi “penghuni rumah” yang dikuasai brand orang lain? Ikut workshop Bisa Bikin Brand 25-26 Juni 2015 di Hotel Ibis Style Simatupang Jakarta Selatan. Komen mau saya DM cara daftarnya. Materi workshop di lynk.id/subiaktobrand atau lynk.id/pakbi

  • “APA BEDANYA PRODUK BRAND, PERSONAL BRAND DAN CORPORATE BRAND?”

    “Apa Bedanya Produk Brand, Personal Brand Dan Corporate Brand?” Pagi pagi mata baru melek ditanya sama @aresdimahdi alumni workshop Bisa Bikin Brand pertanyaan seperti diatas. Baru saya sadar ternyata perkembangan Brand pesat sekali. Saya pikir UKM cuma tertarik sama produk Brand. Baru sadar kalau UKM butuh Personal Brand dan Corporate brand. Jangan jangan perlu juga place Brand, city Brand dan Country Brand? Hahaha Jadi mikir workshop Bisa Bikin Brand mendatang saya buka dengan penjelasan Personal Brand, dan Corporate Brand. Saya coba jelaskan disini Produk Brand, Personal Brand dan Corporate Brand. 1. Produk Brand Produk Brand = Manfaat atau Makna Produk    •   Fokus pada persepsi terhadap produk.    •   Yang dijual: rasa, kualitas, fungsi, gaya hidup.    •   Contoh: Indomie = Seleraku, bukan sekadar mi instan. Kuncinya: Produk harus relevan, enak, dan punya nilai tambah. ⸻ 2. Personal Brand Personal Brand = Persepsi tentang Diri Anda    •   Fokus pada karakter, kompetensi, dan nilai pribadi.    •   Yang dijual: trust, pengaruh, dan reputasi personal.    •   Contoh: Najwa Shihab = integritas & kecerdasan. Kuncinya: Konsisten bersikap dan berkontribusi di bidangmu. ⸻ 3. Corporate Brand Corporate Brand = Reputasi Perusahaan    •   Fokus pada prinsip, kredibilitas, dan nilai perusahaan.    •   Yang dijual: kepercayaan terhadap seluruh sistem & tim.    •   Contoh: Apple = inovasi & premium experience. Kuncinya: Semua unit, produk, dan orang harus mencerminkan nilai yang sama. Bangun brand kamu dari apa yang kamu punya hari ini. Mau mulai dari produk, diri sendiri, atau perusahaan — yang penting harus bisa dipercaya!“ Ikut workshop Bisa Bikin Brand 23-24 Juli 2025 di Hotel Ibis Styles, Citos, Jakarta Selatan. Preview video materi Workshop bisa diakses di lynk.id/subiaktobrand  atau lynk.id/pakbi Sumber: IG Pak Subiakto Sampai nanti

  • BUAT SAYA, KITAB BBB MAKNANYA BUKAN BUKU BIASA

    Buat Saya, Kitab Bbb Maknanya Bukan Buku Biasa Kenapa? Pertama, karena pak @subiakto menulis buku ini sebagai semangat untuk mempercepat pemulihan dari sakit. Melalui tulisan, Pak Bi mengulang dan mengingat kembali apa yang selama ini dishare saat Workshop #BisaBikinBrand . Saya menyaksikan sendiri semangatnya yang luar biasa utk mereview dan mengkoreksi meski sudah dibantu dg editor handal, @alan_t_h 👍Buat saya, ini yang paling penting. Mengembalikan semangat Pak Bi 🥰 Kedua, buku ini berisi pengalaman Pak Bi membangun brand2 nasional, berdasarkan pengalaman beliau sebagai Praktisi Brand lebih dari 50 tahun. Ketiga, Pak Bi ingin memberikan pemahaman yang benar tentang BRAND. Buku ini merupakan panduan pertama agar MINDSET teman2 terbangun dengan benar. Memang mencari di internet sangat mudah dan cepat, masalahnya apakah info yang Anda dapatkan itu berasal dari sumber yang tepat, benar dan terpercaya? Keempat, Pak Bi gak mau ada yang ketinggalan. Mungkin saat ini belum bisa ikut Workshop offline atau pun online, sehingga buku merupakan salah satu solusi untuk bertemu dengan ilmu praktis Pak Bi. Di mana pun, kapan pun. Oleh karena itu, tak berlebihan untuk menyebut buku ini sebagai KITAB karena akan menjadi acuan teman2 membangun Brand. Semoga Pak Bi masih tetap bersemangat untuk mengejar buku kedua, ketiga, keempat atau bahkan kelima 😍🤭 Dan teman2 di mana pun akan mendapatkan manfaat dari Kitab ini 🙏 Penulis: @dwitasoewarno Diambil dari Instgram pribadi bu  @dwitasoewarno #IndonesiaBisaBikinBrand #IndonesiaSpicingTheWorld #PakBi #Subiakto #PraktisiBrand #PakarBranding

  • ROAD TO INDONESIA SPICING THE WORLD

    Road to Indonesia Spicing The World 💫 Langkah persiapan sudah kami lakukan dengan panitia kecil. Insya Allah kami siap menghadirkan kembali 50 tahun Milestone pak  @subiakto  dalam event ISTW 2025 yang rencananya akan diadakan di Bandung pada tanggal 28 Agustus 2025. Kitab ke 2 yang sedang disiapkan Pak Bi semoga memberikan lebih banyak inspirasi dan Kitab ke 3 yang membuka lebih luas lagi pengertian tentang Brand dan menyiapkan Indonesia Membumbui Dunia. Kami tidak berjalan sendiri. Semua teman2 Alumni Workshop BisaBikinBrand selalu mendampingi. Event yang berjalan sejak 2019 kemudian dilakukan online selama masa Covid dan kembali hadir tahun 2023 bersamaan dengan peluncuran Kitab BBB pertama yang sudah membawa BisaBikinBrand ke kampus Universitas Airlangga Surabaya. Terima kasih khusus untuk ibu  @najahfal  atas dukungan penuh yang tak pernah berhenti. Juga teman2 panitia sejak 2019. Insya Allah lanjut lagi di Agustus mendatang  Rencana ISTW tahun ini didukung penuh oleh teh  @inaardhina  dan team kreatif dari dapur  @kiseraid  serta venue oleh  @dbotanicabandung   Kami tunggu kehadiran teman2 semua. Sampai bertemu di update selanjutnya, lebih detail tentang acara, sponsorship dan link pendaftaran  Hatur nuhun      Penulis: Dwita Soewarno   #IndonesiaSpicingTheWorld #IndonesiaBisaBikinBrand #BisaBikinBrand #Subiakto   #PakBi #PraktisiBranding #PakarBrand

  • ERANYA SUDAH BERGESER. DAN ANDA MASIH TERPERANGKAP DI ERA LAMA. MOVE ON!!!

    Selling, Marketing dan Branding adalah disiplin ilmu yang bergeser mengikuti pergeseran era konsumen. Semuanya berubah. Generasinya, perilakunya, kebiasaannya, ritual nya, algoritma hariannya. Ini membutuhkan pendekatan jualan yang berbeda. Selling dibutuhkan ketika barang belum banyak, belum banyak saingan. Asal barangnya bagus, harganya murah sudah bisa jualan. Dan banyak dari kita yang terjebak terperangkap dalam alam pikiran era ini. Seolah kondisi siteris paribus. Diam tak bergerak. Keadaan sudah berubah. Barang dengan manfaat yang sama tersebar dimana mana. Lebih bagus dari barang kita, lebih murah dari barang kita, gara gara semua pakai ATM. konsumen pun yang dulunya harus menerima apa yang ditawarkan sekarang bebas memilih barang sesuai kebutuhan dan keinginan mereka. Kitapun dalam menjual barang maupun layanan juga harus berubah. Kalau dulu sibuk ‘menawarkan’ barang dipasar sekarang kita sibuk ‘mengarahkan’ persepsi dalam pikiran. Mau tahu cara mengarahkan persepsi dalam pikiran konsumen? Ikuti Workshop Bisa Bikin Brand 23-24 Juli 2025 di Ibis Style Hotel Simatupang Jakarta Selatan. Manfaatkan mumpung masih bisa bertemu langsung dengan pak Bi. Materi bisa diperoleh di lynk.id/pakbi Sampai jumpa

  • DISRUPSI MENGINTAI SETIAP SAAT

    Waspadalah Kesuksesan melahirkan rasa puas diri. Rasa puas diri melahirkan kegagalan. Hanya yang selalu waspada yang bisa bertahan. - Andy Grove, mantan CEO Intel, Kalau kamu sedang menang, justru itulah saatnya kamu harus paling waspada. Gangguan atau perubahan besar itu pasti akan datang. Jangan pernah terlalu nyaman dalam kesuksesan. Saat kamu merasa “aman-aman saja,” justru itulah saat paling berbahaya. Dunia terus berubah. Hanya mereka yang siap berubah yang bisa bertahan. Kalimat ini sangat relevan untuk pengusaha, brand, bahkan politikus: “Kalau kamu sekarang menang, jangan mabuk kemenangan. Karena besok bisa jadi giliran kamu digulingkan oleh perubahan yang kamu abaikan.” Serius mau belajar brand? Ikuti Workshop Bisa Bikin Brand 23-24 Juli 2025 di hotel Ibis Style Simatupang Jakarta Selatan. Video persiapan workahop bisa dibeli di lynk.id/pakbi WASPADALAH

  • APA ITU BRAND?

    Apa itu Brand? Semalam saya ngobrol ngobrol sama prof @indrauno . Sampailah ke pertanyaan “pak Bi Kalo saya nanya ttg brand ke emak-emak yang jualan cireng di desa cisantana, kecamatan Cigugur, Kabupatén Kuningan saya rasa mereka akan jawab “atu da teu langkung cep” (ya terserah adén aja) Jawab saya singkat “apa yang hilang ketika cireng (produk) ibu hilang dari pasar. Gurihnya kah? Empuknya kah? Pedasnya kah? Nah itu brand anda“. Lebih jelasnya begini “Value seorang ibu itu adalah apa yang anda rasakan hilang dari kehidupanmu ketika anda kehilangan ibu” Selagi hidup kehadiran seorang ibu dirasa biasa biasa saja. Baru terasa makna/value seorang ibu ketika ibu menghilang dari kehidupan anda. Apa yang hilang? Tahu petis buatannya kah? Pelukannya kah? Perhatiannya kah? Yang hilang itulah value brand kamu. Serius mau belajar brand? Ikuti Workshop Bisa Bikin Brand 23-24 Juli 2025 di hotel Ibis Style Simatupang Jakarta Selatan. Video persiapan workshop bisa dibeli di lynk.id/pakbi

  • BISNIS KAMU MASIH NYARI PEMBELI ATAU SUDAH DICARI PEMBELI?

    Bisnis Kamu Masih Nyari Pembeli Atau Sudah Dicari Pembeli? “Kalau kamu berhenti pasang iklan promosi 3 hari… Masih ada yang beli gak?” Kalau jualanmu baru laku saat kamu nyari pembeli, itu artinya kamu masih di level Selling. Belum punya brand, value sebagai daya tarik. Selling adalah saat kamu menawarkan atau menjajakan produk langsung atau lewat iklan ke orang yang belum tentu butuh. Makanya kamu harus ngejar-ngejar calon pembeli lewat iklan yang bikin boncos. Tapi brand yang kuat… Dicari pembeli. Bahkan dibela belain pindah toko kalau lagi sold out. Contoh? Apple, Nike, Indomie. Kopiko. Extra Joss. Kamu kejar pembeli dengan segala cara, kenapa gak bikin pembeli yang ngejar kamu. Itulah bedanya jual produk sama bangun brand. Produk bisa dijual oleh siapa aja.Tapi brand… cuma kamu yang punya maknanya. Bisnis kamu mau terus nyari pembeli? Atau mulai dibangun biar dicari pembeli. Mau belajar cara bikin brand yang dicari pembeli? Gabung di Workshop Bisa Bikin Brand – bareng Pak Bi 26–27 Mei 2025 | Botanica Mall Pasteur, Bandung ikut Workshop Bisa Bikin Brand 23-24 Juli 2025 di Hotel Ibis Styles, Citos, Jakarta Selatan. Materi Workshop bisa di download di   lynk.id/subiaktobrand  atau di lynk.id/pakbi . Sumber: IG Pak Subiakto Sampai jumpa dikelas #brand #branding #bisabikinbrand

CONNECT

SUBIAKTO PRIOSOEDARSONO CBS

DBrand

Send me an email

Visit our website

Follow me on Twitter

Follow us on Twitter

Book me for an event

Apply for a position

Become a client

View my Book

© 2025 by subiakto.com

bottom of page