BRAND GAK CUMA DI INGAT. TAPI SUDAH JADI MEMORI MESKI BELUM DI SENTUH
- Levino Rionaldy
- Jun 2
- 1 min read

“Orang sering mengira brand itu cukup jadi populer. Cukup dikenal. Cukup diingat.
Padahal dikenal belum tentu dipilih. Diingat belum tentu dibeli.
Yang dipilih adalah yang serasa seolah sudah kenal. Sudah dicoba. Sudah dipercaya.
Coba saya tanya...
Kenapa banyak orang langsung menyebut satu merek ketika mendengar kata:
‘Seleraku’,
‘Gantinya Ngopi’,
atau
‘Ini Biangnya...’
Padahal produknya belum ada di depan mata saat itu.
Belum disentuh.
Belum dicicipi.
Baru mendengar taglinenya.
Tapi mereknya sudah muncul lebih dulu di kepala.
Di situlah kekuatan sebuah brand bekerja.
Brand yang kuat bukan sekadar membuat orang kenal.
Tetapi sebuah janji.
Sebuah pengalaman.
Sebuah nama.
Menempel begitu kuat di benak konsumen.
Sampai muncul sendiri ketika sebuah kebutuhan hadir.
Karena pada akhirnya...
Pertarungan brand bukan terjadi di rak toko. Bukan juga di marketplace.
Tetapi di ruang kecil di dalam kepala manusia.
Siapa yang lebih dulu hadir di sana,
dialah yang lebih dulu dipilih.
Itulah sebabnya selama 50 tahun saya tidak sekadar membuat tagline.
Saya menciptakan kalimat yang menempel lebih lama daripada iklannya.
Kalimat yang terus muncul bahkan ketika produknya tidak tersedia di pasar.
Karena brand yang hebat bukan yang paling sering dilihat. Tetapi yang pertama muncul ketika dibutuhkan.
Kalau Anda ingin tahu bagaimana sebuah kalimat bisa membuat sebuah merek hadir lebih dulu di kepala konsumen...
Saya akan membocorkannya di Workshop Bisa Bikin Brand.
24 Juni 2026.
Di Rumah UKM.
Jl. Fatmawati No. 30H, Jakarta Selatan 12430.
Silakan mendaftar di lynk.id/pakbi.
Sampai jumpa.”




Comments