113 results found with an empty search
- 15. REBRANDING — DARI DECLINE MENJADI REBOUND
15. REBRANDING Kalau bisnis Anda sedang decline, jangan buru-buru menyalahkan produknya. Bisa jadi yang sudah tua bukan produknya, tapi persepsi konsumennya. Di sinilah rebranding dibutuhkan. Rebranding bukan sekadar ganti logo, ganti warna, atau bikin tagline baru. Rebranding adalah memperbarui cara pasar memandang sebuah brand, persepsinya, supaya kembali relevan dengan perubahan zaman, pasar, dan generasi konsumennya. Brand yang dulu hebat bisa masuk fase matang, lalu decline. Konsumennya menua, kompetitor berubah, teknologi berubah, bahkan gaya hidup berubah. Kalau brand-nya tidak ikut berubah, lama-lama ditinggalkan. Maka tugas rebranding adalah mencari kembali: apa yang masih kuat dari brand lama, apa yang harus ditinggalkan, dan apa yang harus diperbarui. Yang bagus jangan dibuang. Memorinya dipertahankan, relevansinya diperbarui. Karena tujuan rebranding bukan sekadar terlihat baru. Tujuannya satu: mengubah DECLINE menjadi REBOUND. Brand lama, dapat kehidupan baru. Lengkap sudah istilah branding yang baku diakui dunia Internasional. Subiakto CBS Praktisi Branding 50 tahun
- PLACE BRANDING, DESTINATION BRANDING, CITY BRANDING
PLACE BRANDING, DESTINATION BRANDING, CITY BRANDING Ketiganya memang sering tumpang tindih, tetapi objek dan tujuan branding-nya berbeda satu sama lain. Destination Branding - Tempat sebagai tujuan kunjungan/wisata. Membuat orang ingin datang dan berkunjung. Bali sebagai destinasi wisata Place Branding Sebuah tempat secara menyeluruh. Membentuk reputasi tempat untuk wisata, investasi, bisnis, talenta, tempat tinggal. Singapura sebagai tempat hidup, bekerja, investasi, sekaligus wisata City Branding- Kota sebagai entitas. Membentuk identitas dan reputasi sebuah kota. “I ❤️ NY”, Amsterdam, Bandung, Jakarta Jadi Place Branding adalah payung besarnya. Di bawah atau dalam praktiknya bisa terdapat City Branding dan Destination Branding—meskipun dalam literatur akademik batas istilahnya tidak selalu dibuat kaku. Kalau memakai pengalaman Purwakarta: jamannya kang @dedimulyadi71 masih jadi bupatinya, ketika Sate Maranggi dipakai sebagai tipping point agar orang mau mampir dan datang, itu lebih tepat disebut Destination Branding karena objektif utamanya mendatangkan pengunjung. Tetapi kalau strateginya diperluas sehingga Purwakarta ingin dikenal sebagai kota dengan identitas Sate Maranggi untuk wisatawan, warga, investor, pengusaha, dan talenta, itu sudah masuk Place Branding. Sedangkan City Branding menekankan perilaku warganya sebagai identitas kotanya. Pertanyaannya bukan cuma, “Mengapa orang harus datang?” tetapi “Purwakarta ingin dikenal sebagai kota apa?” Saya sederhanakan begini: Destination Branding → “Datanglah ke sini.” City Branding → “Kenali kota kami.” Place Branding → “Percayalah pada tempat ini.” Dan satu perbedaan penting: Destination Branding menjual alasan untuk datang; Place Branding membangun alasan untuk datang, tinggal, bekerja, berbisnis, berinvestasi, bahkan bangga menjadi bagian dari tempat tersebut. Subiakto CBS Praktisi Branding 50 tahun
- 7. LUXURY BRANDING — KETIKA PRESTISE TURUN KELAS, BUKAN TURUN NILAI
7. LUXURY BRANDING Luxury Branding bukan cuma soal jual barang harga mahal. Yang menjual eksklusivitas, prestise, dan simbol status. Saya mengalami sendiri ketika membantu rebranding McD menjelang krisis moneter 1997–1998. Sebelumnya, McD terkesan sebagai tempat makan kelas menengah atas. Burger, french fries, dan cola saat itu masih punya citra makanan orang bule. Datang ke McD bukan sekadar makan. Lalu krismon datang. Kelas menengah atas terpukul. Kalau McD tetap hanya mengandalkan audience lama, pasarnya ikut mengecil. Maka audience-nya diperlebar ke kelas menengah bawah yang sedang naik secara aspirasi. Yang menarik, persepsinya jangan ikut diturunkan. McD tetap harus terasa sebagai tempat makan bergengsi, tetapi sekarang lebih terjangkau untuk dinikmati lebih banyak orang. Untuk itu disajikan makanan orang Indonesia yang merasa belum makan kalau belum makan nasi lauk ayam goreng. Saya pakai strategi “SEE AND TO BE SEEN” — melihat dan terlihat. Kelas menegah bangga terlihat makan di McD, seolah makan burger-fries-cola padahal makan nasi-ayam goreng-cola sambil melihat siapa yang datang makan. Di situlah pelajarannya: Rebranding bukan sekadar mengganti komunikasi. Kadang kita mengganti audience, tanpa membuang aspirasi yang membuat brand itu diinginkan. Prestigenya tetap. Yang diperlebar adalah pintu masuknya. Subiakto CBS Praktisi Branding 50 Tahun
- 6. SERVICE BRANDING — YANG DIJUAL BUKAN JASANYA, TAPI PENGALAMAN KONSUMENNYA.
6. SERVICE BRANDING Pernah masuk restoran, makanannya enak… tapi pelayannya jutek? Besok mau balik lagi? Belum tentu. Itulah Service Branding. Kalau product branding membangun persepsi melalui produk yang bisa dilihat, disentuh, dan dicoba, service branding berbeda. Jasa tidak bisa disentuh sebelum kita membelinya. Karena itu, pelanggan menilai brand dari pengalaman yang mereka rasakan. Saya pernah menangani McDonald’s Indonesia selama@8 tahun dari tahun 1997-2004 Orang mungkin berpikir McDonald’s menjual burger, ayam, dan kentang goreng. Padahal kekuatan brand-nya bukan cuma makanan. Ada QSCV: Quality, Service, Cleanliness, dan Value. Bagaimana pelanggan disambut. Seberapa cepat dilayani. Seberapa bersih restorannya. Sampai bagaimana pelanggan merasa mendapatkan value. Semua itu menjadi bagian dari brand. Membangun persepsi layanannya cepat ingat McD, layanan cepat ingat McD, crewnya ramah ingat McD dll. Karena dalam Service Branding, karyawan bukan sekadar bekerja untuk produk tapi juga bagian dari brand McDonald’s. Mereka adalah brand. Disampaikan oleh Tagline “Manalagi selain di McD” Produk bisa ditiru. Harga bisa disaingi. Tapi pengalaman yang konsisten akan tinggal dalam memori pelanggan. Service Branding bukan apa yang Anda janjikan. Tapi apa yang pelanggan alami. Subiakto CBS Praktisi Brand 50 tahun
- 5. RETAIL BRANDING — Toko Juga Punya Brand
5. RETAIL BRANDING Kenapa kita bisa membedakan Indomaret, Alfamart, dan warung Madura, bahkan sebelum mencari apa yang kita beli? Karena Retail Branding bukan cuma soal barang. Tapi pengalaman konsumen berbelanja. Di Indomaret dan Alfamart, barangnya mungkin hampir sama. Tetapi masing-masing membangun identitas melalui warna, logo, seragam, penataan rak, materi promosi, sampai standar pelayanan. Display-nya dirancang dan distandardisasi. Kita masuk cabang yang berbeda, tetapi tetap merasa berada di toko yang sama. Sekarang bandingkan dengan warung Madura. Barangnya juga kebutuhan sehari-hari. Tetapi display-nya lebih padat, fleksibel, dekat dengan pembeli, dan yang paling kuat: banyak yang buka sampai larut, bahkan 25 jam. Haha Jadi bedanya bukan sekadar apa yang dijual. Indomaret dan Alfamart membangun pengalaman berbelanja lewat sistem dan konsistensi jaringan. Warung Madura membangun pengalaman lewat kedekatan, fleksibilitas, dan ketersediaan. Itulah Retail Branding. Barang boleh sama. Yang membuat orang kembali adalah ‘vibe’nya. Suasananya. pengalaman belanja di tokonya. Dan jangan kaget, waktu saya ngebranding McD thn 1997. Saya mulai dari TOILET-nya. Kalau toiletnya bersih, wangi, nyaman membangun persepsi bahwa dapurnya, pelayanannya juga bersih, wangi dan nyaman. Jangan lupa, mayoritas konsumen dari luar menuju toilet dulu sebelum order makanan di menu. Subiakto CBS Praktisi Branding 50 tahun
- 4. EMPLOYER BRANDING — “Nama Perusahaan Bisa Menaikkan Harga Anda”
4. EMPLOYER BRANDING Tahun 2000-an, perusahaan saya, Hotline Advertising, pernah menjadi salah satu tempat kerja yang diidamkan insan periklanan. Kenapa? Karena waktu itu, kalau seseorang pindah kerja dan di belakang namanya ada embel-embel “ex-Hotline”… harga orang itu bisa naik. Bukan hanya karena gajinya. Tapi karena pasar punya persepsi: “Kalau pernah ditempa di Hotline, berarti orang ini punya standar.” Nah, itulah yang sekarang disebut Employer Branding. Contoh globalnya : Google. Orang ingin bekerja di Google bukan cuma karena gaji atau kantornya keren. Tetapi karena nama Google di CV menjadi reputasi yang ikut menempel pada dirinya. Jadi Employer Branding bukan sekadar bagaimana perusahaan mencari orang hebat. Tapi bagaimana perusahaan membangun reputasi sampai orang hebat ingin bekerja di sana. Karena employer brand yang kuat membuat nama perusahaan bukan cuma tempat bekerja… tapi ikut menaikkan harga orang yang pernah bekerja di dalamnya. Subiakto CBS Praktisi Branding 50 Tahun
- 3. CORPORATE BRANDING — “SATU LAGI DARI MAYORA”
3. CORPORATE BRANDING Corporate Branding itu bukan membangun merek satu produk. Yang dibangun adalah nama dan reputasi perusahaan di balik seluruh produknya. Ketika saya menangani Mayora thn 1989, saat mau go publik dan setelah membangun Bank Mayora, selain mengenalkan Kopiko, Beng-Beng, Astor, atau produknya yang lain, saya ingin nama Mayora sendiri punya makna. Saya melihat kekuatan Mayora ada pada inovasi produk. Selalu mencari peluang baru, kategori baru, dan melahirkan produk baru. Maka lahirlah tagline: “SATU LAGI DARI MAYORA” Kalimatnya sederhana. Tapi menggambarkan sebuah visi: Seakan tiada hari tanpa produk baru dari “Mayora”. Setiap kali muncul produk baru, nama Mayora ikut naik. Produk menjadi bukti atas value corporate brand-nya. Jadi Corporate Branding bukan sekadar bikin perusahaan terkenal. Produk boleh berganti. Produk baru boleh terus lahir. Tapi semuanya memperkuat value satu nama: MAYORA. Itulah Corporate Branding. Bukan cuma apa yang di jual perusahaan, tetapi perusahaan itu ingin dipercaya dan dikenal sebagai apa. Subiakto CBS Praktisi Branding 50 tahun
- 2. PERSONAL BRANDING: BUKAN PENCITRAAN, BUKAN SEKEDAR TERKENAL, TAPI DIKENAL KARENA APA?
2. PERSONAL BRANDING Kalau nama Anda disebut, orang langsung ingat apa? Itulah awal dari Personal Branding. Personal Branding bukan usaha supaya kita terkenal. Bukan pula sibuk posting setiap hari supaya wajah kita muncul terus di media sosial. Personal Branding adalah proses membangun persepsi orang lain, sehingga orang lain mengenalnya karena empat hal: 1. Kompetensinya. Anda ahli dalam bidang apa? 2. Karakternya. Anda dikenal sebagai pribadi seperti apa? 3. Nilainya. Apa yang Anda perjuangkan, prinsip Anda dan tidak mudah di kompromikan? Dan akhirnya, 4. Reputasinya. Apa bukti karya yang membuat orang percaya kepada Anda? Karena itu, follower banyak bukan berarti punya Personal Brand yang kuat. Sebaliknya, orang yang jarang tampil pun bisa punya Personal Brand kuat kalau namanya sudah menjadi rujukan untuk bidang kompetensinya . Jadi pertanyaannya bukan: “Seberapa terkenal saya?” Tetapi: “Kalau nama saya disebut, seberapa orang percaya saya dalam urusan apa?” Itulah Personal Branding. Di sinilah Trust Score menjadi penting. Trust Score mengukur seberapa kuat kepercayaan orang orang terhadap Anda: dari konsistensi nya, identitasnya, relevansinya, bukti ucapannya, pengalaman yang sudah dikerjakannya, sampai rekomendasi orang lain. Karena pada akhirnya… Bukan soal terkenal. Atapi soal seberapa ucapan Anda dipercaya. Dinilai dari keselarasan Isi konten dengan kompetensi dan profesi Anda. Anda bisa memeriksa nya di bisabikinbrand.ai. Layakkah saya dipercaya dan dipilih? Subiakto CBS praktisi Branding 50 tahun
- 1. PRODUCT BRANDING — MEMANG MENAMPILKAN PERBEDAAN. TAPI BEDA SAJA TIDAK CUKUP
1. PRODUCT BRANDING Diantara produk yang sejenis, Produk Anda apa benar-benar bagus? Atau hanya terlihat bagus di mata Anda? Produk Anda benar benar beda dgn produk sejenis? Atau cuma terasa beda ? Orang benar benar percaya apa nggak? Itulah kenapa Product Branding bukan sekadar memberi nama, logo, kemasan, atau identitas yang melekat di produk Product Branding bertujuan membangun identitas sebuah produk agar jelas perbedaannya dari produk sejenis, lalu membuktikan perbedaan itu bisa dipercaya. Karena hari ini semua produk sama. Cafe latte sama. Kopi gula aren sama. Karena konsumen sekarang bisa mencari semuanya di internet. Mereka lihat review. Mereka baca rating. Mereka baca komentar. Mereka bandingkan pengalaman orang lain. Jadi brand tidak lagi cukup hanya mengklaim dirinya hebat. Harus ada bukti digital yang mendukung klaim tsb. Di sinilah Trust Score menjadi penting. Trust Score mengukur seberapa kuat jejak kepercayaan sebuah produk: dari konsistensi identitasnya, relevansinya, bukti penggunaannya, pengalaman konsumennya, sampai rekomendasi orang lain. Di nilai dari jejak digitalnya Karena pada akhirnya… Product Branding membuat produk berbeda. Trust Score membuktikan bahwa perbedaan itu layak dipercaya. Subiakto CBS Praktisi Branding 50 tahun
- MENGAPA IPHONE SEGITU CANGGIH MASIH PERLU KEMASAN YANG KEREN?
MENGAPA IPHONE SEGITU CANGGIH MASIH PERLU KEMASAN YANG KEREN? Pernah kepikiran nggak? iPhone sudah secanggih itu. Orang rela antre, rela bayar mahal. Tapi kenapa Apple masih repot membuat kemasan yang begitu indah? UNBOXING MEMBANGUN PERSEPSI Karena yang dibeli orang bukan hanya produknya. Yang dibeli adalah pengalaman. Sebelum iPhone dinyalakan, sebelum kameranya dicoba, sebelum aplikasinya dibuka, yang pertama kali dirasakan justru… kemasannya. Saat kotaknya dibuka perlahan, muncul rasa penasaran, rasa bangga, rasa bahwa kita sedang memegang sesuatu yang istimewa. Itulah branding bekerja. Produk menjawab kebutuhan. Kemasan membangun persepsi. Dan persepsi itulah yang menjadi awal sebuah memori. Kalau produk Anda bagus tapi tampil biasa saja, orang mungkin membeli sekali. Tapi kalau sejak kemasannya sudah meninggalkan kesan, peluang untuk diingat menjadi jauh lebih besar. Karena dalam branding, kemasan bukan pembungkus produk. Kemasan adalah pembungkus persepsi. Dan sering kali, persepsi itulah yang membuat sebuah brand layak dihargai lebih mahal. Langkah awal timbul rasa percaya. Subiakto Praktisi branding 50 tahun
- JANGAN NGAKU PAKAR BRAND KALAU BELUM BIKIN TAGLINE SEBANYAK INI
Jangan ngaku Pakar Brand kalau belum bikin Tagline sebanyak ini Terus terang, saya lebih nyaman menyebut diri praktisi. Bukan pakar. Karena sepanjang hidup saya, saya bukan sibuk bicara teori saja. Saya menjalani, mengerjakan, merasakan, dan membuktikan sendiri bagaimana sebuah brand dibangun lewat proses yang nyata. Kalau hari ini orang melihat daftar tagline yang begitu panjang, dari Rancak Bana, Sarapan Kedua, TV Eropa Harga Jepang, Renyahnya No. 1, Gantinya Ngopi, Hari ini kita puasa, Ini biangnya, buat apa botolnya, Manalagi selain di McD, sampai Bersama Kita Bisa… Itu bukan sekadar kumpulan kalimat. Itu adalah jejak perjalanan saya lebih dari 50 tahun. Saya mempraktikkan dan menyaksikan bahwa tagline yang baik bukan cuma enak didengar. Tagline yang baik itu harus masuk ke memori orang. Tinggal di ingatan mereka, mengubah cara orang melihat produk, bahkan mengubah perilaku mereka. Saya bersyukur, banyak orang masih ingat, masih mengulang, bahkan masih merasakan pengaruhnya sampai hari ini. Biar karya yang bicara. Biar hasil yang membuktikan. Biar masyarakat yang menilai. Dan ini belum selesai. Sampai hari ini saya masih berkarya, masih belajar, masih berbagi. Karena buat saya, membangun brand itu bukan pekerjaan sesaat. Itu adalah proses panjang. Proses memahami manusia. Memahami memori. Memahami perilaku. Dan selama saya masih bisa, saya akan terus berkarya. Karena saya seorang praktisi. Gak cuma bicara Tagline saya terbaru? “Satu suapan demi masa depan” - Sporky Maxi, Subiakto, CBS Praktisi Branding 50 tahun
- MAU KELUAR DARI PERANG HARGA?
MAU KELUAR DARI PERANG HARGA? Mungkin masalahnya bukan di harga. Mungkin produk kita bukan kemahalan. Tapi maknanya yang belum kelihatan. Kalau konsumen hanya melihat barangnya, dia akan membandingkan harganya. Tapi kalau konsumen melihat produk anda diperlukan buat kebiasaan sehari-hari dan kenapa produk itu penting buat hidupnya, dia mulai membandingkan nilai. Seperti ngopi setiap ngantuk, maka produk itu dibeli setiap kali ngantuk. Dan karena ngantuk itu bisa berkali kali dalam sehari orang bisa ngopi berkali kali. Di situlah branding bekerja. Branding bikin orang merasa, “Saya pilih yang ini, karena ini cocok buat saya.” Perang harga terjadi ketika semua terlihat sama. Hari ini Produk sama. Janji sama. Cara jualan sama. Bahkan diskonnya pun sama. Maka tugas kita bukan sekadar jual lebih murah. Tugas kita adalah membuat konsumen melihat perbedaan yang berarti. Karena itu Merek yang kuat tidak ikut perang harga. Merek yang kuat menciptakan Brand sebagai alasan untuk dipilih. Ingat, kalau Anda tidak membangun value, pasar akan memaksa Anda bermain harga. Dan kalau sudah masuk perang harga, yang menang bukan yang paling murah, Yang menang bukan anda, saingan anda pun kalah. Karena kalau anda murah, orang cari yang lebih murah. Kalau saingan anda murah orang cari yang lebih murah lagi. Alihkan fokus orang kepada siapa dibalik produk kamu. Bangunlah personal Brand Jadi masih mau perang harga? Subiakto, CBS











