95 results found with an empty search
- DIKIRA KALAU SUDAH NGONTEN SUDAH BIKIN BRAND?
“Dikira Kalau Sudah Ngonten Sudah Bikin Brand?” “Sekarang semua orang ngonten. Setiap hari posting. Reels, carousel, story… jalan terus.” Dan diam-diam muncul rasa: “Kayaknya brand saya sudah mulai kebentuk.” Tapi coba berhenti sebentar. Kalau saya tanya: “Arah brand Anda ke mana?” Tidak semua bisa jawab. Karena yang sering terjadi… konten dianggap sebagai brand. Padahal konten itu hanya alat. Alat untuk menyampaikan sesuatu. Masalahnya… kalau tidak jelas apa yang mau disampaikan… maka konten hanya jadi ramai… tapi kosong. Hari ini bicara motivasi. Besok jualan. Lusa edukasi. Semua ada… tapi tidak ada yang benar-benar diingat. Brand itu arah. Konten itu kendaraan. Kalau arah tidak jelas… kendaraan hanya muter-muter. Jadi pertanyaannya bukan: “Sudah ngonten atau belum?” Tapi: “Konten Anda… sedang membawa orang ke mana?” Kalau tidak ke mana-mana… jangan heran kalau orang juga tidak kembali. tidak bisa ditebak. Harus diputuskan dengan benar.” Di workshop BBB tgl 21 Mei 2026, anda akan bawa 1 keputusan penting buat bisnis anda. Arah Brand yang jelas. Daftar di lynk.id/pakbi
- MASALAH BISNIS ANDA BUKAN MASALAH KEKURANGAN IDE.
Satu Keputusan hasil dari bertahun-tahun Pengalaman Justru sebaliknya. Terlalu banyak Ide, tapi belum ada keputusan. Hari ini, AI bisa kasih Anda…ratusan bahkan ribuan saran. Strategi. Konsep. produk Semua terlihat benar. Dan Anda kebingungan memutuskan. Bisnis Anda hanya butuh satu keputusan yang tepat. Dan keputusan itu Anda ambil berdasarkan pengalaman. Kalau Anda terus tanya AI, Anda akan mendapat jawaban banyak kemungkinan. Bukan keputusan. Karena AI membantu berpikir. Tapi tidak pernah menggantikan keputusan. Sementara itu… orang lain sudah mulai: • lebih jelas positioning nya • lebih mudah dipahami • lebih dipercaya Dan konsumen selalu bergerak ke arah yang jelas. Hari ini bukan lagi soal produk yang paling bagus. Tapi produk yang paling dipercaya. Dan kepercayaan… tidak datang dari banyaknya ide. Tapi dari keputusan positioning yang jelas… dan konsisten. Workshop Bisa Bikin Brand disusun dari puluhan tahun pengalaman, ribuan keputusan. Bukan dari popularitas, dan sekadar menambah pengetahuan. Ini 15 langkah proses untuk membantu Anda menentukan : • Brand Anda sebenarnya menjawab apa • Untuk perilaku apa Brand itu dibuat • Dan kenapa orang harus memilih Anda Kalau Branding belum Anda putuskan, konsumen akan nge-branding Anda. Bukan kurang ide.Tapi belum ada keputusan. AI bisa membantu Anda berpikir. Tapi bisnis tetap butuh arah. Dan arah hanya datang dari keputusan yang jelas. Hari ini, banyak brand terlihat. Tapi hanya sedikit yang dipercaya. “Brand yang kuat lahir dari satu keputusan… Workshop offline Bisa Bikin Brand tanggal 21 Mei 2026 di Ibis Style hotel Simatupang Jakarta Selatan. Silahkan mendaftar di lynk.id/pakbi . Samai Jumpa
- ERA PRODUCT ECONOMY
Era Product Economy (tokohnya Henry Ford) Kita bahas Era demi Era. Biar bisa detail. Kita mulai dari sekitar tahun 1800 sampai 1920… Di era ini… yang bisa bikin barang… bisa bikin uang. Ini zamannya pabrik. Zamannya produksi massal. Diawali oleh Henry Ford. Tahun 1908… dia produksi mobil Model T. Dan dia bilang: “Anda boleh pilih warna apa saja… sepanjang warna hitam.” Kenapa? Karena fokusnya bukan pilihan… tapi kecepatan produksi. Di era ini… product is the currency produk masih langka. Orang masih berburu barang. Kuncinya satu: barang harus tersedia. Karena beliefnya “Ada barang ada uang” Penulis: @subiakto - praktisi branding “50 TAHUN”
- SELAMAT DATANG KE ERA TRUST ECONOMY
Era Trust Economy Coba kita lihat… perjalanan dunia bisnis dalam 60 detik. Era per Era. Revolusi Industri melahirkan Era product economy. Siapa bisa bikin barang di bisa bikin uang. Eranya Ford. Product is currency. Barang banyak, masalahnya bagaimana masuk ke pasar. Masuklah ke era distribution Economy. Barang harus sampai ke pasar. Distribution is the currency. Distribusi sudah merata. Konsumen pun bingung. Perlu diciptakan demand. Demand creation. Berpindahlah ke marketing Economy. Demand is the currency. Berkembang lagi. Yang menang bukan produk… tapi persepsi. persepsi di benak konsumen. Perception is the currency. Dari persepsi berkembang ke era brand. produk jadi makna… jadi gaya hidup. Positioning di benak konsumen. Meaning is the currency. Muncullah era disruption… yang menang bukan yang besar… tapi yang merusak pasar. Grab, gojek, Rb&b. Disruption is the currency. Masuk era digital… semua serba cepat dan instan. rafi Achmad, om Ded, keluarga Halilintar. Access is the currency. Berkembang ke era attention economy. SIapa yang bisa menarik perhatian, dia memenangkan persaingan. Tokohnya Aldi Taher. Attention is the currency. Berikutnya era engagement. orang tidak cukup lihat… harus ikut. Komunitas. pandawara grup. Engagement is the currency. Dan hari ini… Semua orang bicara. Masalahnya mereka belum percaya. Karena sekarang… Trust is the currency. masuk ke Era Trust Economy. Bersiaplah membangun kepercayaan. Subiakto, CBS Untuk melihat kontennya : https://www.instagram.com/reel/DWfSWhTkzzc/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA== #Subiakto #PakBi #BisaBikinBrand #branding
- DISKON ATAU AFFILIATE
Diskon atau Affiliate Banyak pengusaha bingung: lebih baik kasih diskon 10%, atau kasih komisi affiliate 10%? Sekilas kelihatannya sama. Sama-sama keluar 10%. Tapi sebenarnya beda jauh. Kalau Anda kasih diskon 10%, uang itu langsung hilang dari margin Anda. Tidak ada yang membantu menjual. Tidak ada yang mempromosikan. Anda hanya menurunkan harga. Akibatnya apa? Konsumen jadi terbiasa menunggu diskon. Merek Anda lama-lama dianggap murah, bukan bernilai. Sekarang kita lihat affiliate 10%. Uang 10% itu bukan diskon. Itu komisi untuk orang yang membantu menjual produk Anda. Artinya Anda punya tentara penjual yang bekerja tanpa gaji tetap. Mereka hanya dibayar kalau berhasil menjual. Jadi bedanya jelas. Diskon 10% itu mengurangi nilai produk. Affiliate 10% itu memperluas tenaga penjual. Yang satu menghabiskan margin, yang satu menciptakan distribusi. Kalau saya disuruh pilih? Saya pilih affiliate 10%. Karena diskon membuat produk cepat habis, tapi affiliate membuat brand cepat menyebar. Subiakto, CBS Untuk melihat kontennya: https://www.instagram.com/reel/DVgbpGlkons/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
- KATANYA EKONOMI SULIT, KENAPA CAFE SELAU PENUH?
Katanya Ekonomi Sulit, Kenapa Cafe Selau Penuh? Karena Gen Z cari SELFREWARDS. GEN Z (Host): Pak Bi, saya heran. Café sekarang banyak banget. Dan anehnya… tetap penuh. Padahal ekonomi katanya lagi berat. Kok bisa? PAK BI: Karena cafe bukan jual kopi enak. Tapi GenZ cari self-reward, sehabis kerja keras seharian. GEN Z: Self-rewards maksudnya hadiah buat diri sendiri? PAK BI: Betul. Gen Z itu hidupnya penuh tekanan. Kerja belum stabil. Harga tetap naik. Media sosial bikin merasa ketinggalan. Akhirnya orang cari tempat buat bilang ke dirinya sendiri: “Gue pantas dapat penghargaan .” Dan café jadi tempat ritual itu. GEN Z: Jadi orang ke café bukan karena kopinya? PAK BI: Kopi cuma alasan. Yang dicari itu suasana. Merasa dihargai. Tempat merasa hidupnya masih oke. Makanya orang pesan kopi mahal, duduk dua jam, cuma buka laptop atau ngobrol. Itu terapi murah. GEN Z: Berarti brand yang menang itu bukan yang produknya enak? PAK BI: Produk tetap penting. Tapi hari ini yang menang adalah brand yang mengerti perasaan konsumennya. Gen Z itu beli ‘rasa diterima’ dan dihargai. Beli mood. Beli rasa “gue pantas menikmati hidup”. GEN Z: Pantesan café selalu ramai ya. PAK BI: Selama hidup makin berat, café akan terus dibutuhkan, sebagai tempat ‘merasa dihargai’ GEN Z: Kalau buat bisnis, pelajarannya apa Pak Bi? PAK BI: Jangan cuma jual produk. Cari tahu: produk Anda itu jadi ‘self-reward’ apa buat konsumen? Kalau brand Anda bisa jadi hadiah kecil buat hidup mereka, brand Anda akan dicari. GEN Z (closing): Jadi, orang ke café bukan cari kopi… tapi cari rasa dihargai. Self - rewards PAK BI: Dan brand yang ngerti itu… akan hidup lama. Bertahan bersama jaman Subiakto, CBS Untuk melihat kontennya: https://www.instagram.com/reel/DU8GcNCEhUD/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
- BOWLING MARKETING VS PINBALL MARKETING
Bowling Marketing VS Pinball Marketing Dulu pasar itu ibarat bowling. Target market ibarat pin yg terhausun rapih tersegmentasi. Jalur mulus tidak belak belok naik turun. Permainan mulai kalau pemain melempar bola. Artinya apa? Marketing harus terus mendorong. Bola ibarat marketing cost. besar dan berat. Iklan jalan. Promo jalan. Diskon jalan. Baru pasar bergerak. Itu logika bowling. Linear. Terukur. Tapi tergantung dorongan terus-menerus. Sekarang pasar berubah. Bukan lagi bowling. Tapi ibarat permainan pinball. Di pinball, pemain cukup dorong bola sekali. Setelah itu permainan hidup sendiri. Bola memantul. Kena bumper. Kena cahaya. Bikin skor. Gerakannya liar. Cepat. Tidak linear. Begitulah perilaku konsumen hari ini. Mental ke TikTok. Terpental ke marketplace. Lompat ke review. Balik lagi karena diskon. Yang bikin bola tetap memantul adalah Brand. Marketing bisa mendorong bola. Tapi brand menentukan bola itu tetap memantul dan mencetak score Dengan brand, sekali dorong. Bikin score dan permainan jadi hidup lama. Subiakto, CBS Untuk melihat kontennya: https://www.instagram.com/reel/DVQCPZ_gFp4/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
- BRAND VS TREND: MENDING "NGIKUT" ATAU PUNYA JATI DIRI
BRAND VS TREND Value Brand kamu itu beneran punya arah… atau cuma ikut-ikutan yang lagi rame?” Gini ya. Trend itu kayak ombak. Lagi tinggi, semua orang pengen naik. Ada challenge baru di TikTok, ikut. Ada format baru di Instagram, bikin juga. Nggak salah. Tapi kalau tiap minggu kamu berubah cuma karena takut ketinggalan… itu bukan strategi. Itu FOMO. Kalau brand, beda lagi. Brand itu sikap. Brand itu bukan filter, tapi fondasi. Makna produk kamu buat pembelinya. Kalau kamu tiap minggu ganti gaya cuma karena algoritma berubah, itu bukan adaptif. Itu panik. Brand dengan value yang kuat boleh ikut trend.Tapi dia tidak kehilangan jati dirinya. Trend bikin kamu dilihat. Brand bikin kamu diingat. Trend bisa kasih views. Brand bakal kasih trust. Kalau kamu cuma ikut trend, kamu mungkin viral. Tapi kalau kamu bangun brand, pembeli akan beli lagi beli lagi. Subiakto, CBS Untuk melihat kontennya: https://www.instagram.com/reel/DVD8b5xkuSC/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
- MENGAPA MICRO INFLUENCER SEMAKIN DIBUTUHKAN?
Mengapa Micro Influencer Semakin Dibutuhkan? Mungkin, di dunia nyata, kamu nggak suka diomongin di belakang. Kalau ada yang ngomongin, kamu marah. Terus kamu musuhin. Tapi, kalau dalam branding, kamu nggak boleh marah, karena omongan itulah pendapat jujur yang menunjukkan brand kamu sebenarnya Sini saya jelasin. Konsumen zaman sekarang itu lebih percaya konsumen lain dari pada beribu-ribu iklan yang kita bikin. Kamu boleh aja bikin iklan keren. Visual bagus. Copy puitis. Budget besar. Atau mungkin sampai hire macro influencer Tapi sebelum orang checkout, mereka ngapain? Mereka baca review. Mereka cari komentar jujur. Satu review aja yang bilang “Gue repeat order, karena emang sebagus itu.” itu lebih kuat dari 10 billboard. Campaign bikin orang tahu, tapi review dari community bikin orang yakin. Brand yang kuat itu bukan yang sering dipromote macro influencer, tapi yang paling sering dapat komentar jujur dari micro influencer. Kalau kamu mau diomongin yang baik-baik di belakang, kamu harus kasih pengalaman yang baik buat consumer dan community kamu. Jangan bikin iklan aja. Subiakto, CBS Sumber: https://www.instagram.com/reel/DVIzZn-ks1a/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
- CARI INFLUENCER YANG NICHENYA SAMA DENGAN PRODUCT KAMU
Cari Influencer yang Nichenya sama dengan Product kamu Produk kamu ngegandeng influencer viral jadi brand ambassador. Tapi produknya malah nggak laku. Mereknya gak diingat. Kok bisa? Gini ya. Viral itu bikin rame. Tapi rame nggak berarti relevan. Pertama, value influencer dan brand harus sefrekuensi. Kalau brand kamu valuenya sophisticated, serius, tapi influencer yang kamu hire cengengesan, ya nggak bakal ketemu. Kedua, target audience influencer dan target behavior brand-mu harus sama. Bukan sama-sama followers, tapi yang nonton konten si influencer ini harus merupakan orang-orang yang tertarik dengan value brand kamu. Artinya produk kamu punya makna buat konsumennya. Kalau yang nonton bukan calon pembeli, ya wajar kalau cuma di-like. Bayangin Tasya Farasya disuruh jadi brand ambassador mewakili value semen. Masa semen dijadiin masker sama penontonnya? Jadi ingat: Viral itu bonus. Relevan dengan value itu wajib. Jangan cari influencer yang bikin merek kamu rame. Cari influencer yang bikin brand kamu dibicarakan dan dipilih. Subiakto, CBS Sumber: https://www.instagram.com/reel/DUceNMWkn_X/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
- Pesan Buat Gen-Z yang mau Membangun Bisnis
Pesan Buat Gen-Z yang mau Membangun Bisnis GEN ZKalau satu pesan buat Gen Z yang mau bangun bisnis? PAK BIJangan mulai dari:“Produk gue apa?” Mulailah dari: “Konsumen gue mau jadi siapa?” Kalau itu ketemu,produk tinggal dibikin GEN ZJadi kesimpulannya? PAK BISederhana. Merek itu nama di kemasan produkBrand itu nama yang menunjukkan siapa dirinya. Kalau brand sudah jadi identitas,promosi tinggal pengingat. GEN ZDalem sih Pak…Makanya banyak merek yang cepet viral tapi cepet hilang. PAK BIKarena mereka membangun produk,tapi lupa membangun maknanya Makanya belajar Bisa Bikin Brand Subiakto, CBS Sumber : https://www.instagram.com/reel/DUPpPqEkrwC/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
- BANYAK ORANG MENGIRA BRANDING ITU CUMA SOAL LOGO DAN PROMOSI. PADAHAL TIDAK!
Banyak orang mengira branding itu cuma soal logo dan promosi. Padahal tidak! 15 Langkah Magnet Branding itu adalah strategic thinking — cara berpikir untuk menentukan kemenangan brand sejak awal. Kita menentukan: siapa yang kita menangkan, konflik apa yang kita selesaikan, dan makna apa yang kita tanamkan di benak konsumen. Ini di tingkat direksi perusahaan. Lalu masuk ke tahap kedua: Strategic Interpretation. Strategi harus diterjemahkan supaya orang “mengerti dan merasa” Karena orang membeli bukan hanya dengan logika, tapi merasakan kehadirannya dalam kehidupan mereka. Ini ditingkat Strategic planner. Tahap ketiga adalah dasar strategic execution — bagaimana strategi tadi diubah menjadi sistem kerja agar kemenangan itu bisa terjadi, bukan hanya jadi konsep di kertas. Ini ditingkat manajer atau supervisor. Dan akhirnya, strategic execution diwujudkan lewat storytelling. Karena cerita membuat brand hidup, dipercaya, dan diingat. Ini ditingkat eksekutor atau content creator. Jadi, strategi menentukan kemenangan. Eksekusi membuat kemenangan itu nyata. Brand bukan dibuat. Brand dimenangkan Subiakto, CBS Sumber: https://www.instagram.com/reel/DUn5G2pEhND/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==











