83 results found with an empty search
- WORKSHOP INTERNAL PERUSAHAAN
Workshop Internal Perusahaan Terinspirasi dari workshop khusus bagi team internal @SporkyMaxi yang dikelola oleh mas @hergun81di Bandung dengan topik Behavior Science dimana team harus melanjutkan Brand Plan yang sudah disusun berdasarkan 15 Langkah Magnet Branding dalam bentuk Storytelling. Namun kenyataan di lapangan, strategi baru bisa dieksekusi apabila team pelaksana memahami perilaku calon konsumennya. Karena itu mas @hergun81 meminta team BBB menjelaskan Behavior Science sebelum diterapkan menjadi Storytelling. Jadi nggak cuma telling a story. Berdasarkan pengalaman tersebut, kami team BBB membuka kesempatan workshop bagi team internal perusahaan untuk menterjemahkan Strategic Plan menjadi eksekusi Storytelling maupun Copywriting mulai dari memahami Consumers Behavior. Buat perusahaan yang berminat hubungi admin Tanya Kasim di nomor +62 852-2394-4575 Subiakto, CBS https://www.instagram.com/reel/DUXtTlyEtjP/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
- HATI HATI. KALAU ADA YANG NGAKU PAKAR BRAND, LIHAT DULU BRAND APA YANG SUDAH DIA BIKIN
Hati hati. Kalau adayang Ngaku Pakar Brand, Lihat dulu Brand apa yang Sudah dia Bikin “Di sosmed, teori bertebaran. tinggal copy paste. Terus claim Pakar Brand. Semua orang bisa bicara… seolah paling tahu. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dipalsukan. “PENGALAMAN” Teori bisa dihafal. Slide bisa disalin. Quote bisa dicomot. Tapi pengalaman… harus dialami sendiri. Salah. Jatuh. Bangkit. Ketemu masalah. Ketemu solusi. Ketemu konsekuensi. Itulah kenapa brand yang kuat tidak lahir dari teori yang ramai di posting, tapi dari pengalaman yang berulang. Disebut Tacit Knowledge. Kalau brand Anda hanya pintar bicara, konsumen bakalan lupa. Tapi kalau brand Anda lahir dari pengalaman nyata, konsumen akan percaya karena terbukti. Bukan cuma teori Karena itu kalau ada yang mengaku pakar, Brand, tanya dulu “brand apa saja yg dia sudah bikin” bukan merek bukan Logo ya Subiakto, CBS https://www.instagram.com/reel/DUFPA6Ako7b/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
- PERSONAL BRANDING?
PERSONAL BRANDING? Di bio Instagram ngakunya problem solver. Tapi, nyatanya malah problematik. Gimana sih? Semenjak ada media sosial, mungkin banyak orang yang salah kaprah tentang personal branding. Banyak yang mikir “Personal branding itu tinggal nulis di bio Instagram, posting di feeds, kelar”. Itu memang penting untuk personal branding, tapi ada yang nggak kalah penting. Menurut Mas Bezos: “Brand is what other people say about you when you are not in the room”. Brand itu apa yang orang-orang bilang tentang kamu saat kamu lagi nggak di ruangan itu. Yang lebih penting dari sekadar nulis di bio Instagram itu omongan orang lain tentang kamu. “Pak Bi, gimana biar omongannya bagus?” Ya, level up. Naikin skill, banyak belajar, perbanyak pengalaman.Kalau bisa sampai 50 tahun juga seperti saya. Scrpt credit to @srikandikandikandi Subiakto, CBS https://www.instagram.com/reel/DUSECx9Erib/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
- BRAND STORYTELLING YANG BENAR DIMATA GEN-Z
BRAND STORYTELLING Pernah liat gak, post dari brand yang tulisannya: ‘Desainer kita lagi cuti’ atau ‘Desainer kita lagi galau’. Terus desainnya ngawur, kayak bikinan anak TK. Tapi kok malah viral? Kalau di zaman saya, brand itu desainnya mesti bagus, keren, pokoknya harus paling gong supaya dilirik sama konsumen. Tapi, kalau Gen Z udah beda lagi. Memang, desain kayak gini itu ngawur. Tapi yang dilihat sama Gen Z itu bukan desainnya, tapi cara ngomongnya. Cerita yang jujurnya Gen Z itu nggak cari brand yang sok sempurna. Mereka cari brand yang jujur, humble, dan kayak temen sendiri. Ngaku salah? Ngaku seadanya? Itu bukan kelemahan tapi kedekatan. Branding di era dijilat ini, eh, saya ulangi lagi, di era digital ini bukan soal kelihatan jago. Tapi kelihatan jujur. Kadang jujurnya kebablasan. Dan itu justru laku. Storyline credit to @srikandikandikandi Subiakto, CBS
- MEREK ADALAH IDENTITAS PRODUK. BRAND ADALAH IDENTITAS KONSUMEN
Merek adalah Identitas Produk. Brand adalah Identitas Konsumen GEN Z bertanya: Pak Bi, jujur ya… di kepala kami tuh merek sama brand itu sama aja. Logo, nama, kemasan. Bedanya di mana sih sebenarnya? PAK BI menjawab : Nah… justru itu masalahnya. Karena kalau dianggap sama, bisnisnya biasanya juga… jalan di tempat. GEN Z bertanya : Oke, kita lurusin. Apa definisi paling sederhananya menurut Pak Bi? PAK BI menjawab : Gini. Merek itu identitas produk. Brand itu identitas manusianya yang pakai produk itu. Merek milik perusahaan. Brand… milik konsumen GEN Z bertanya : Masih agak abstrak sih Pak. Bisa contoh yang relate ke hidup sehari-hari? PAK BI menjawab : Sip. Kamu pakai sepatu Nike. Secara merek, itu yang nempel di sepatu Tapi secara brand… itu bisa berarti: “Gue anak Nike. gue anak lari pagi.” “Gue anak street culture.” “Gue anak gunung.” Produknya sama-sama sepatu. Identitas manusianya beda. GEN Z bertanya: Berarti brand lebih penting dari produk dong? PAK BI menjawab: Bukan lebih penting. Tapi menentukan panjang pendeknya umur bisnis. Produk bisa ditiru. Harga bisa dikalahkan. Fitur bisa disamai. Tapi kalau sudah masuk ke identitas diri, Trust, orang akan bilang: “Ini gue banget.” Dan manusia jarang mau mengganti identitas dirinya. GEN Z bertanya: Kesalahan paling sering Merek zaman sekarang apa, Pak? PAK BI menjawab: Terlalu sibuk bicara sama kaca. GEN Z bertanya : Ke kaca? PAK BI menjawab: Iya. Fokuss sama dirinya “Produk kami begini…” “Produk kami begitu…” Padahal konsumen lagi sibuk bertanya: “Kalau gue pakai produk ini, hidup gue berubah nggak? Berubah jadi siapa?” Kalau pertanyaan itu gak dijawab, brand gak pernah lahir. GEN Z bertanya: Berarti brand itu bukan soal kelihatan keren? PAK BI menjawab: Bukan. Brand itu soal dibela bila dibully. Soal dipertahankan. Soal dirindukan saat gak dijual lagi Kalau belum sampai ke situ, itu baru merek, belum jadi brand yang punya makna bagi konsumennya. Subiakto, CBS https://www.instagram.com/reel/DUICx_PErtV/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
- BRAND VALUATION. MILIK SIAPA?
BRAND VALUATION. MILIK SIAPA? Banyak pengusaha bangga ketika brand nya mendunia, bernilai miliaran, bahkan triliunan. Tapi jarang yang bertanya… Nilai brand Triliunan itu milik siapa? Produk milik perusahaan. Pabrik milik perusahaan. Kantor milik perusahaan. Distribusi milik perusahaan. Kendaraan milik perusahaan. Tapi… Nama merek, logo, dan tagline itu lahir dari siapa? Dari brand strategist. Dari brand agency. Dari para pencipta makna. Berapa hak mereka? Karena konsumen tidak sekadar membeli produk… mereka membeli makna di balik produk yang kita sebut brand. Dan secara hukum, elemen kekayaan intelektual melekat pada penciptanya, bukan otomatis pada pemilik perusahaan.”* Itulah sebabnya… Seorang pengusaha dan strategic planner harus paham Brand Valuation dan kepemilikan kekayaan intelektual. Supaya tidak salah kaprah: mana aset perusahaan, mana kekayaan intelektual pemilik dari brand.” Ikuti workshop Certified Brand Strategist (CBS) dari Universitas Airlangga bekerjasama denga Bisa Bikin Brand, yang membekali Anda memahami, melindungi, dan memaksimalkan nilai brand sebagai aset bisnis. Mengatur juga hak ciptanya. Silahkan mendaftar di lynk.id/pakbi . Karena di masa depan… yang paling mahal bukan pabriknya. Tapi brand-nya. Jangan sampai sebagai pengusaha besar tanpa sadar melanggar etika karena ketidak tahuan. CBS — Certified Brand Strategist. Subiakto,CBS https://www.instagram.com/reel/DUSxpq7kjAl/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
- PERSONAL BRANDING iTU ADA STRATEGINYA. GAK SEMBARANGAN
Personal Branding itu ada Strateginya. Gak Sembarangan Di bio Instagram ngakunya problem solver. Tapi, nyatanya malah problematik. Gimana sih? Semenjak ada media sosial, mungkin banyak orang yang salah kaprah tentang personal branding. Banyak yang mikir “Personal branding itu tinggal nulis di bio Instagram, posting di feeds, kelar”. Itu memang penting untuk personal branding, tapi ada yang nggak kalah penting. Menurut Mas Bezos: “Brand is what other people say about you when you are not in the room”. Brand itu apa yang orang-orang bilang tentang kamu saat kamu lagi nggak di ruangan itu. Yang lebih penting dari sekadar nulis di bio Instagram itu omongan orang lain tentang kamu. “Pak Bi, gimana biar omongannya bagus?” Ya, level up. Naikin skill, banyak belajar, perbanyak pengalaman. Kalau bisa sampai 50 tahun juga seperti saya hehehe Scrip dan visual credit to @srikandikandikandi Subiakto, CBS https://www.instagram.com/reel/DUU6z2zEkM5/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
- Recap Workshop BBB Januari 2026 di Bandung
Selamat datang di keluarga Workshop BBB Terima kasih untuk seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam Workshop Bisa Bikin Brand, sekaligus menjadi workshop pertama di tahun 2026, yang diselenggarakan pada Rabu, 22 Januari 2026 di Hotel Ibis Trans Studio Bandung. Sebagai workshop kedua dengan format baru, kelas kali ini kembali membuktikan bahwa kesiapan peserta adalah kunci. Dengan membaca Kitab BBB 1 & 2 sebelum hadir, diskusi terasa lebih hidup, pertanyaan lebih tajam, dan interaksi berjalan dua arah. Suasana kelas tetap sama seperti workshop-workshop sebelumnya: hangat, aktif, dan penuh energi. Meski cuaca Bandung sempat diguyur hujan di beberapa sesi, semangat peserta tidak surut. Kelas tetap berjalan intens, peserta fokus berdiskusi, bertanya, dan saling berbagi insight dari pengalaman masing-masing. Terima kasih atas antusiasme dan kepercayaannya. Selamat datang di Keluarga Alumni Workshop Bisa Bikin Brand! Sampai bertemu di lain waktu!✨ Dan terima kasih juga kepada para sponsor yang telah mendukung terselenggaranya acara ini: Kisera, Sauyunan, Sporky Maxi, Lagi Kreatif, dan Milk n’ Mind 🙏 #bisabikinbrand #subiakto #workshopbranding
- SERIAL TAGLINE YANG SAYA CIPTAKAN SEPANJANG KARIER SAYA (13)
Yang Ketigabelas Demikian kata orang tua tua tentang believenya mereka. Awalnya saya gak percaya sampai saya mengalami sendiri. Awal tahun 80 an. Datanglah seorang pengusaha dari Maluku pedalaman bawa produknya menemui GM saya waktu itu mas Doni Prianto (alm). Mereknya Minyak Kayu Putih 99. Singkat kata karena hangatnya langsung berasa gak kayak minyak kayu putih lainnya, saya langsung setuju ketika team mengusulkan Tagline “Seng ada lawan”. Dan betul setelah kita campaign 3 bulan di televisi salesnya meledak sampai kewalahan pabrik gak bisa ngejar produksi. Disini saya curiga. Saya kirim mas Doni (alm) ke Maluku meninjau pabriknya. Ternyata yang diakui sebagai pabrik adalah sebuah gudang dengan beberapa buruh mengisi minyak kayu putih ke botol secara manual. Dan betul ternyata pengusaha itu gak bisa bayar biaya iklannya sebesar 2.5M. Ini pertama kali saya tertipu dalam usaha saya. Dan saya menjadi lebih berhati-hati karena peristiwa itu. Subiakto, CBS (Bersambung)
- SERIAL PRODUK YANG SAYA CIPTAKAN SEPANJANG KARIER SAYA (1)
Yang Pertama Tahun 1972. Saya masih bekerja di PT Guru Indonesia. Suatu hari, di dapur rumah yang saya sulap jadi kantor, datang Pak Tjipto Sosrodjojo ke rumah saya. Kami bicara soal desain kemasan teh. Lalu saya nyeletuk iseng: “Kalau Amerika bangga dengan Cola, Indonesia harusnya bangga dengan Teh pak. Ready to drink … dalam botol.” Pak Tjip ragu, “Emang laku?. Siapa yang mau minum teh basi?” Saya ajak beliau ke depan SD Gaharu. Duduk di bangku penjual rokok. “Tanya anak-anak yang pulang bawa botol kosong. Tadi isinya apa?” Jawabannya sama: “Tadi isinya teh panas manis.” Saya bilang, “Kalau tiap hari mereka bawa botol isi teh manis, apa itu bukan market?” “Coba mas Biakto buatin mobkup botolnya” Mengingat kata boss saya waktu saya di rekrut “ Selain tugas kantor produksi kemasan karton, kalau kamu mau side job diluar jam kantor ya silahkan saja” Seminggu kemudian saya kembali Ke pak Tjip dengan mockup botol. Singkat cerita diproduksi lah. Dan lahirlah Teh Botol pertama. Dengan tujuan masuk hotel, restoran, kafe. Bukan karena teknologinya yang menciptakan pasar. Tapi karena kebiasaan orang Indonesia sudah siap. Minum teh. Jadi ritual malah. Brand besar selalu lahir bukan dari ide keren, tapi dari membaca ritual kecil yang diabaikan orang lain. Subiakto, CBS (Bersambung)
- SERIAL TAGLINE YANG SAYA CIPTAKAN SEPANJANG KARIER SAYA (12)
Yang Keduabelas Dapat tamu dari Surabaya, pak Daroono dan pak Setiadi. Pemilik kopi hitam mwrwk GLATIK. Singkat kata saya diminta terbang ke Surabaya meninjau pabriknya yang lumayan besar. Uniknya terletak di are perumahan yang radius 2 kilometer sudah tercium aroma kopi dari pabrik roasting kopinya. “Ini roaster kopi JITU pak Biakto” kata PAK Darpono. Wah hebat saya pikir ramuan JITU alias andalan. Ternyata … “Siji kopi, pitu jagung” ini kesukaan petani petani kebun teh khususnya daerah Jawa barat. “Kopinya di tubruk, sambil diminum kopinya, jagungnya di kletisin pak. Ada daerah yang sukanya jagunggya terendam bersama ampas kopinya, ada yang suka jagungnya mengambang ketika diseduh”. “ Kenapa gak 100% kopi pak?” Tanya saya. “pasar sukanya kopi ‘jitu’ pak. Ya kita melayani permintaan pasar” Baru ini saya ketemu klien yang produknya dibuat disesuaikan dengan selera pasar. Kopi tubruk jitu. Saya baru tau ternyata setiap desa beda selera. Setia gang beda racikan @Ada yang jagungnya maunya kasar, ada yang jagungnya halus, ada yang tenggelam, ada yang ngambang. “Pantesan pak Darpono bilang ini roaster jitu. Rupanya ada cerita dibalik produknya. Marketing memang berangkat dai PRODUCT. Tapi ketika berangkat dari CONSUMERS BEHAVIOR jadilah dia branding. Produknya jadi kebiasaan konsumennya. Yang lucu lagi peredarannya di daerah petani tembakau di Madura Banyuwangi disamping petani teh di Jawa Barat. Ternyata ada satu kata yang artinya sama dalam bahasa Sunda dan bahasa Madura. Kata ‘Tahiye’ dalam bahasa Sunda dan ‘Taiye’ dalam bahas Masura Punya arti yang sama sama yaitu ‘Ini dia’. Wah unik juga nih. Sekali tepok dua lalat terkena. Maka kerika bikin tvc untuk menyampaikan branding kopi GLATIK SP, pilihan jatuh ke grup lawak Abah Usus and the geng. Menyanyikan Tagline “Tah iye Kopi Tubruk GLATIK” pakai iringan musik calung Sunda dengan gendang rampak Madura hehehe. Silahkan kaomen ‘lanjutkan’ buat tagline berikutnya Subiakto, CBS (Bersambung)
- SERIAL TAGLINE YANG SAYA CIPTAKAN SEPANJANG KARIER SAYA (11)
Yang Kesebelas Pangsa pasar Televisi Eropa sudah didominasi POLYTRON berkat brand/ value yang mendisrupsi yang disampaikan lewat tagline “TV Eropa harga Jepang”. Rupanya televisi buatan Jepang dan asembling lokal menyerang balik dengan merek Fujitec lah, apatec lah seolah Televisi Jepang versi murah. Akhirnya polytron mengeluarkan fighting brand buat melindungi pamgsa pasarnya. Dengan merek DIGITEC. Supaya diterima di pasar televisi Jepang saya kasih nicked name NINJA. Jadi DIGITEC NINJA. Yang kemudian begitu keluar versi 20 inchinya dikasih nama DIGITEC SUMO hahaha. Ada peristiwa licu waktu shooting filmnya. Adegan ibu ibu mau beli DIGITEC NINJA. Masalahnya talent penjaga tokonya terlalu ganteng. Sebagai sutradara saya jadi pusing. Alhamdulillah ada crew lighting Film istilahnya tukang gulung kabel dengan muka lucu dan unik (mudah dikenal) lewat depan saya. Saya tanya “Siapa Namamu?” “Bagus pak” “Mau main jadi pelayan toko?” “Mau pak” “Bisa?”. “Sana ganti baju dan makeup” Singkat kata dia dengan mukanya yang lucu masuk set dan … “Digitec memang moooy”. Gak sampai sebulan tayang di televisi langsung “Boom” VIRAAAAL. kata anak jaman sekarang berkat actingnya yang surprisingly “Lucu”. Dan client pun tidak berhenti tertawa sepanjang proses shooting film menertawakan bukan cuma ‘actingnya’ tapi juga angka salesnya yang tiba tiba melonjak. Komen lanjut kan kalau mau saya cerita tagline selanjutnya. Subiakto, CBS (Bersambung )











