top of page

95 results found with an empty search

  • SERIAL TAGLINE YANG SAYA CIPTAKAN SEPANJANG KARIER SAYA (10)

    Yang Kesepuluh Lagi lagi saya dipanggil buat ngebranding Grand Compo Grand Master. “Sekarang Grand Compo Grand Master bisa karaoke pak. Buatkan iklannya pak” Jaman dulu ngomongnya ‘iklanin pak’. Biro iklan biasa rata rata langsung menonjolkan fitur dan manfaatnya. Sudah. Tidak dipikirkan lebih lanjut “jadi apa maknanya buat pembeli. Ingat beda manfaat dengan makna yang lama kelamaan menjadi ‘believe’ yang menjadi esensi dari branding. Biro iklan saya gak begitu cara kerjanya. Yang penting ’Ingat Grand Master, ingat Coba Dulu, baru beli’ dengan tambahan ‘bisa karaoke lagi’. Kalimat ini saya pakai sebagai Tagline untuk membangun Band/makna dari produknya. ‘Bisa karaoke lagi’ jadi Boom!!! Grand Master jadi populer gara gara kalimat itu dipakai buat ‘yang bermaksud iseng’ hahaha Mau dilanjut? Silahkan komen lanjut buat yang ingin saya share Tagline ke sebelas@dan seterusnya Subiakto, CBS (Bersambung)

  • SERIAL TAGLINE YANG SAYA CIPTAKAN SEPANJANG KARIER SAYA (9)

    Yang Kesembilan Sebelum lompat ke Digitec, ada cerita seru dari Grand Compo Polytron Bassoke. Mau dengar? Begini. Pada awal tahun 80an pak Chandra bilang “Pak Biakto. POLYTRON bakal ngeluarin Grand compo dengan merek GrandMaster. Ini bisa jadi pesaing Grand Compo Bazoka punya Sony”. Gila Polytron pede banget mau bersaing sama merek international SONY. “ Berani bersaing sama SONY emang apa keunggulannya pak?” Tanya saya. “Grand compo Polytron suara bassnya lebih Oke dari Bazoka. Yang lainnya sama aja” Saat itu juga saya bilang suara bassnya lebih nendang. Kasih nama BASSOKE aja pak Lawan langsung sama Bazoka. BASSOKE maknanya grand compo yang suara bassnya lebih oke pak” “Sip”Kata pak Chandra langsung ambil telpon nelpon pabrik yang sedang cetak karton Grand Master “Ganti merek paka BASSOKE. Be A eS eS O K E . Ya jangan salah. Yang sudah terlanjur dicetak Grandmaster dibalik aja kartonnya”. “Trus Taglinenya apa pak?” tanya pak Chandra. “Taglinenya ‘BASSOKE, Bassnya oke banget pak” kata saya “Trus jinglenya pakai rock & roll aja biar bassnya berasa tendangannya” kata saya. “Trus yang nyanyi siapa pak?” Tanya pak Chandra lagi “Yang suaranya ngebass ya Idang Rasidi pak” kata saya “Oke kapan bisa rekaman. Telpon Idang pak” Saya telpon Idang, kebetulan malam ini dia bisa rekaman, Elva sebagai musisi juga bisa dan dapat jadwal studio Trpple M shift ketiga. Jadilah malam itu rekaman jingle : Bass bass bass Bassoke. Bass bass bass Bassoke. Bass bass bass Bassoke. Bass bass bass Bassoke. Tagline : “Bassoke. bassnya oke banget” Dan besoknya PH Jatayu punya pak hari Simon siap shooting lagi. Jadilah TVC Film tercepat yang saya buat mulai dari konsep Storyboard, jingle sampai editing. Subiakto, CBS (Bersambung)

  • SERIAL TAGLINE YANG SAYA CIPTAKAN SEPANJANG KARIER SAYA (8)

    Yang Kedelapan BOOM!!! Tagline sebelumnya “TV eropa, Harga Jepang”membuat Polytron bergeser dari posisi ke 32 menjadi posisi single digit. Ini membuat pak Chandra memanggil saya lagi untuk diskusi. “Bahaya mengandalkan atau ‘menjanjikan’ harga murah ke konsumen, sementara harga spareparts naik. Akhirnya untuk mempertahan momentum yang sedang naik, berdasarkan filosofi ‘tempa besi selagi panas’ saya bikin tagline “The Winning Theme, wins again”. Lagi lagi saya pakai siapa yang bicara akan mengangkat tagline itu dengan cepat. kita sepakat dibuatlah jingle yang dinyanyikan oleh Ruth Sahanaya pemenang Pop Singer saat itu dengan musik iringan alm Elva Secoria, Jingle@simple sbb : “Today is the time for a decision. Now is the time to join The Winning Team. We are the one, we are the only, The Winning Theme Wins again” Berangkat lah rombongan ke Malaysia buat bikin TVC Thematic ini. Dan lagu ini membuat POLYTRON semakin populer sehingga diputuskan memproduksi merek kedua sebagai fighting brand “DIGITEC” untuk melindungi Polytron dari TEC TEC TV lokal berharga murah yg lain. Dengan kedua merek tersebut membuat POLYTRON berada di puncak pasar TV Nasional. (Bersambung) Subiakto CBS

  • SERIAL TAGLINE YANG SAYA CIPTAKAN SEPANJANG KARIER SAYA (7)

    Yang Ketujuh Lagi lagi pak Beny Ligna yang kelihatannya puas sama Tagline yang saya buat, memperkenalkan saya pada pak Chandra Adisusanto yang waktu itu menjabat sebagai promotion Manager POLYTRON di usia yang sangat muda (24 tahun) tapi sudah lulus cumlaude S1nya. Singkat kata saya diminta melakukan rebranding Polytron yang berada diurutan ke 32 dari 32 merek televisi di Indonesia, padahal sudah ditangani biro iklan asing. Setelah berpikir satu minggu saya menemukan jawabannya. Polytron itu TV Eropa. Dalam artian sparepartnya semua dari Phillips, hsnya di assebling di Kudus, Jawa Tengah. Sehingga persepsinya dipasar, teknologinya rendahan. Karena itu sudah ditawarkan kesemua toko elektronik gak pada mau nyetok. Satu satunya jalan yang mereka tahu adalah ‘kasih diskon’ atau ‘potong harga’. Saking banyaknya potongannya sampai sampai harganya beda tipis atau sama dengan Tv buatan Jepang yang saat itu kualitasnya masih dipersepsikan lebih rendah dari kualitas TV Eropa yang dimotori oleh Phillips. Kondisi ini saya manfaatkan sebagai positioning rebranding POLYTRON. “TV Eropa, harga Jepang”. Yang kemudian dikenal Polytron melakukan disrupsi dpasar TV Eropa dengan harga murah, dan melakukan disrupsi dipasar TV Jepang dengan kualitas Eropa. Ini membuat TV Eropa dan TV Jepang mati langkah. Makan buah simalakama. Subiakto, CBS (Bersambung)

  • SERIAL TAGLINE YANG SAYA CIPTAKAN SEPANJANG KARIER SAYA (1)

    Yang Pertama Sepulang dikirim oleh menteri perindustrian saat itu belajar ikut program industrial design Colombo Plan di Jepang tahun 1974, dan gara-gara ikut kelas advertising LPWI ISWI, 2 tahun kemudian pak Bi mantab resign dari perusahaan yang sejak lulus SMA ditahun 1968 menjadi tempat belajar tentang graphic design dan percetakan diberbagai nirmala datar. Saya pulang dengan penuh harapan. “Dunia periklanan yang gemerlap”. Menjanjikan masa depan. Saya melamar ke mana-mana. Rata rata biro iklan asing. Ditolak. Ditolak lagi, ditolak lagi. Sampai akhirnya saya resmi menyandang gelar: pengangguran. Saya tidak marah. Tidak menyerah. Tidak diam. Saya bekerja. Saya cetak kartu nama untuk orang lain. Ratusan. Bahkan mungkin Ribuan. Ironisnya…saya sendiri tidak punya kartu nama. Di titik itu saya sadar: nama dan jabatan tidak menunjukkan kemampuan. Saya bikin kartu nama. Dengan kalimat yang kemudian saya kenal sebagi “Tagline”. Dan ternyata itu Tagline saya yg pertama dalam karier saya : “Creative person looking for creative client.” Yang menjelaskan “Saya pekerja kreatif yang akan mengubah anda menjadi klien yang kreatif. Saya datang ke acara dimana saya tidak diundang. Masuk ke ruangan yang tidak seorang pun mengenal saya. Sebar kartu nama ke orang yang tidak saya kenal. Nekat? Memang. Saya tidak punya pilihan. Karena dunia ini tidak memberi tempat bagi yang menunggu. Ia hanya memberi tempat buat orang yang nekat (Bersambung) Subiakto, CBS

  • SERIAL TAGLINE YANG SAYA CIPTAKAN SEPANJANG KARIER SAYA (3)

    Yang Ketiga Saya pikir Sakura film membutuhkan Tagline yang kuat buat memenangkan hati masyarakat Indonesia. Bukan sekedar klaim “Lebih Indah dari warna aslinya”. Harus lebih dari itu Setelah saya pikir seminggu saya ambil thema ‘Sakura Film pilihan masyarakat Indonesia.’ Pilihan Indonesia berarti harus diwakili oleh suku suku bangsa di Indonesia. Maka saya buatkan Tagline yang mewakili pilihan suku suku bangsa di Indonesia  Masalahnya bahasa yang dipakai. bahasa Indonesia kah? Bahasa Daerahkah? Akhirnya saya pakai bahasa Indonesia dengan ‘slank’ daerah masing-masing. Jadilah konsep Tagline sbb : 1. “Sakura Film rancak bana” pasangan berbusana Sumatera Barat mewakili wilayah Sumatera 2. “Abdi mah pilih Sakura Film”pasangan berbusana adat Sunda mewakili Jawa Barat 3. “kawulo pilih Sakura Film” pasangan berbusana adat Jawa mewakili Jawa Tengah. 4. “Aboo, saya pilih Sakura tak iye” pasangan berbusana Madura mewakili suku Madura 5. “Sakura filmo” pasangan berbusana adat Papua mewakili suku suku dari Indonesia Timur. Ada peristiwa lucu waktu shooting TVC 30 detik buat iklan TVRI. Sang sutradara dari Hongkong yang di hire PH Leo Jade film ngambek dan balik kehotel menyerah pada scene pertama l, karena gak paham ‘slank’ masing masing daerah Terpaksalah saya sebagai Creative Director ambil alih menjadi sutradara “dadakan”. Saya diajari crew yang lain cara call sutradara “Silent pleace, standby, sound, camera roll, and action” lalu setelah selesai harus teriak “Cut”. Saat itu juga di lokasi saya jadi sutradara ‘dadakan’ kebacut sampai sekarang. Dan jadilah TVC “sakura Film rancak bana” ini debutan film pertama saya sepanjang karier saya yang lebih dari 50 tahun (Bersambung) Subiakto, CBS

  • SERIAL TAGLINE YANG SAYA CIPTAKAN SEPANJANG KARIER SAYA (4)

    Yang Keempat Masih di Nirwana photo. Dimana saya memimpin Inhouse Agency yang saya kasih nama LUBERZKI Advertising kependekan dari Luber Rizki Adv, saya dapat penugasan membranding kamera Vinon, yang waktu itu diimpor dari Hongkong buat libur Lebaran. Yang kalau laku akan diimpor setiap menyambut bulan Ramadhan Saat campign pertama fokus saya ‘Create Awareness’ mengingat merek kamera ini baru dan belum dikenal seperti Nikon atau Canon. Lagiyan kamera ini kamera murahan bukan kamera serius kayak kedua merek diatas. Disini Tagline memang penting tapi siapa yang menyampaikan dan storytellingnya bagaimana. Saat itu pasangan Bagio dan Esther lagi ngetop. Kami putuskan memakai mereka sebagai yang menyampaikan tagline dengan storyline bertema sederhana ‘Salah pengucapan’. Maka jadilah story telling sederhana : Ester berperan sebagai tuan rumah dan Bagio berperan sebagai tukang kebun. Esther : “pak Bagio. Nanti lebaran saya pulang kampung bawa kamera ini pak. Namanya kamera VINON” Bagio : “ PINON? Eather : “Bukan Pinon pak. VINON” Bagio : “oh PINON” Esther : “Bukan Pinon pak. VINON” Ucapan Esther itu adalah pesan Tagline buat camera Vinon.“Bukan Pinon. VIIII-NON” Karena Esther menyebut kamera buat pulang kampung maka campaign yang rencananya 3 bulan harus distop dalam 2 minggu karena stock habis. (Bersambung) Subiakto, CBS

  • SERIAL TAGLINE YANG SAYA CIPTAKAN SEPANJANG KARIER SAYA (6)

    Yang keenam Adalah pak Beny Marketing Manager Ligna Furniture menghubungi saya menyampaikan niatnya untuk bikin brosure. Saya bayangkan alangkah repotnya mengangkut bermacam macam furniture ke studio. Akhirnya diputuskan bikin set studio di pabrik. Set yang bisa digeser geser jadi bermacam macam kamar. Repot ngangkut props seperti kamar tamu, kamar anak, kamar utama saja. Jadilah pemotretan 3 hari dan saya beserta photographer harus nginep di pabriknya. Setelah jadi layout brosurnya pak Beny nyletuk “Bikinin taglinenya dong pak” 3 hari saya mikirin tagline. Produk Ligna itu lengkap. Mulai dari sofa tamu, meja makan, lemari, tempat tidur, meja rias dll. Dari logika saya, kebiasaan orang beli tempat tidur, lemari baju, meja rias dan meja makan itu sekali seumur hidup. Biasanya pas habis nikah. Gak kepikiran beli yang baru. Yang paling sering diganti adalah sofa. Hampor setiap lebaran beli sofa baru gantiin sofa lama yang robek atau kempot. Sofa adalah alat duduk ngobrol sama tamu atau keluarga. Kalau sudah ngobrol lupa yang lain. Jadilah Tagline berdasarkan ritual ‘kebiasaan’ orang Indonesia.”Kalau sudah duduk, lupa berdiri”. Surprisingly “Approved” kata pak Beny. Awalnya saya ragu karena tidak menyebut produk dan kelebihannya. Saking populernya sempat jadi guyonan buat pejabat yang ogah diganti (Bersambung) Subiakto, CBS

  • SERIAL TAGLINE YANG SAYA CIPTAKAN SEPANJANG KARIER SAYA (5)

    Yang Kelima Setelah 3 tahun memimpin Luberizki Inhouse Agency, saya tertantang buat bikin Ad Agency independen yang lebih menantang dengan Klien beragam, gak cuma pemilik Inhouse Agency saja. 1979 tahun yang saya anggap tepat buat resign dan membangun Ad Agency bersama 2 kawan. Yang 1 jagoan Clents service satu lagi jagoan media. Jaman itu lagi hype singkatan nama Pemiliknya jadi nama Ad Agencynya. Jadilah nama Agency kami BB&E. Singkatan dari Baty, Biakto & Erry Suhartono. Sayang Erry Suhartono gak bertahan. Tinggalah Baty dan Biakto dengan singkatan B&B Advertising. Klien pertama kami adalah Multi Vitamin Engran 1. Situasi saat itu Marketing banget. Masih menganggap Brand adalah ‘identitas’ produk. Karena Engran mengandung zat besi Jadilah Tagline “Lesu darah? Anda perlu Engran” 2. Campaign kedua kliennya masih fokus Brand Awareness. Pas banget masa Pemilu. Beruntung Golkar kampanye “Coblos No2” kebetulan logo Engran berupa dua jari tangan. Kita memanfaatkan situasi dengan Tagline “Pilih no2” 3. Klien lebih mudeng tentang Brand. Dia mau ketika saya usul berdasar ritual sarapan. Karena Engran menyempurnakan metabolisme tubuh setelah sarapan maka saya bikin Tagline “Engran SARAPAN KEDUA”. Saking populernya kalau sekretaris dipanggil bossnya karyawan lain ngeledekin “Dapet SARAPAN KEDUA” dari boss Ada kejadian lain yang membekas di hati saya adalah ketika thn 1989 saya bikin sendiri Hotline Advertising Presdir Engar ini pak Wigan Margana memilih bergabung bersama saya karena yakin masalah bisnis kedepan adalah “Branding” (Bersambung) Subiakto, CBS

  • SERIAL TAGLINE YANG SAYA CIPTAKAN SEPANJANG KARIER SAYA (2)

    Yang Kedua Tak disangka, kerja kecil itu berbuah besar. Datanglah seseorang bernama Andi Widjajaya, promotion manager utusan bossnya. Saya dipanggil ke PT Nirwana Photo. Singkat kata saya bertemu Presiden Direkturnya pak Hartono di kantornya. “Pak Subiakto bisa bikinin saya In-house Agency kah? Saya gaji sebagai Creative Director dan pimpinan Inhouse Agency dibawah Promotion Manager”. duuuaar!!!. Lebih dari harapkan saya, saya kira cuma bikin iklan Sakura Film. Singkat kata saya kerja di Nirwana Photo. Bikin tactical ad “undian hadiah emas total 1kg” tiap 3 bulan. Saat itu pesaing Utamanya Fuji film yang Market Sharenya 70% bikin tagline bagus “Seindah Warna Aslinya”. Dan Market share Sakura Film tergerus pelan pelan. Sakura terdesak. Tugas saya pertama diminta merespons tagline itu. Gak sampai seminggu saya bikin tagline berbasis produk Sakura Film yang cetakan fotonya lebih ‘marong’ atau bahasa kerennya ‘saturasinya lebih pekat’. Yang lalu menjadi Tagline saya yang kedua “Lebih Indah dari warna Aslinya” Hasilnya? Market share 30% bertahan. Di situ saya belajar: Tagline bukan cuma pajangan. Tagline adalah senjata. (Bersambung)

  • 2026, THE END OF KOL, THE RISE OF KOC

    2026, The End of KOL, The Rise of KOC “Perubahan besar sedang terjadi. Thn 2026, banyak Produk akan berhenti pakai KOL, mrk mulai ngejar KOC.” “Kenapa? Karena genZ makin kebal konten ‘opini’, dan makin percaya sama ‘pengalaman’ yang terbukti. “KOL itu Key Opinion Leader, terkenal karena opini dan Folowernya. KOC itu Key Opinion Consumer, dia dipercaya karena dia benar-benar pakai produk dan mengalaminya.” “Di 2026, Audience makin curiga: ‘Jangan-jangan ini dibayar ya?’ Kontennya ramai… tapi gak bikin konsumen balik dan beli lagi Viral memang cepat. tapi trust gak terjadi. Pada hal brand itu butuh trust. Trust butuh bukti. “KOC itu kecil-kecil… dipercaya karena mgalamin, bukan bikin orang ‘terpengaruh’, tapi bikin orang ‘yakin’ karena terbukti.” Cara main baru untuk brand “Mulai 2026, Bangun komunitas pemakai. Bikin mereka cerita. Bikin mereka bangga. “Kalau produk Anda masih mengira viral adalah tujuan… Anda akan capek sendiri. Tapi kalau Anda bangun KOC, anda sedang membangun mesin penjualan yang berulang. PELUANG TAHUN 2026 Di tahun 2026 di mana “ketidakpastian” menjadi situasi baru, maka “kepastian” menjadi kategori yang paling dicari konsumen. Di era ketidakpastian (ANXIETY) - Konsumen Mencari Rasa Aman Ekonomi global tidak stabil, mudah berubah, tidak bisa diprediksi Konsumen makin takut salah beli, salah pilih, salah percaya. Maka peluang terbesar adalah Produk yang memberi rasa aman, bukan sekadar fungsi. Manfaat. Makna: orang membayar untuk mengurangi kecemasan. 2026 era TRUST ECONOMY - era runtuhnya KOL & kebangkitan KOC (Key Opinion Consumer). Peluang: Profesi baru: TRUST CREATOR. Bukan influencer, bukan juga content creator. Tapi orang biasa yang dipercaya. Peluang bisnis: 1. Affiliate yang dipercaya 2. Produk digital berbasis solusi Uang mengikuti trust. Bukan konten. Selanjutnya kita bahas tanggal 15 Desember di MULA Citos ya. Gratis. Tapi daftar dulu ya di 085223944575. Tulis di komentar: tim KOL atau tim KOC?”

  • ROUND TABLE BRANDING, SESI YANG DITUNGGU-TUNGGU

    Round Table Branding, Sesi yang ditunggu-Tunggu Kami hadirkan Round Table Branding. Pembicaraan apa saja bersama pak Bi. Anda boleh tanya apa saja, diskusi apa saja penerapan teori bisa bikin Brand. Terbatas 10 orang peserta saja. Silahkan daftar di lynk.id/pakbi . Tempat terbatas 10 orang. Siapa cepat dia dapat. Dari batch pertama workshop Bisa Bikin Brand sampai Batch terakhir ini adalah sesi yang paling ditunggu. MAKAN SIANG. Bukan makanannya. Tapi ngobrolnya. Karena di sesi tsb peserta bisa nanya apa saja. “Kalau di ruang kelas yang dibahas teorinya. Kalau diruang makan yang dibahas Wisdomnya. Pengalaman pak Bi menerapkan teori yang dibahas dikelas. Jadilah kita sepakati setiap akhir workshop kita buat Round Table menghadirkan sesi tanya jawab penerapannya. Justru sesi ini menjadi sesi favorit para peserta. Jangan ketinggalan. Buruan SUBIAKTO,CBS

CONNECT

SUBIAKTO PRIOSOEDARSONO CBS

DBrand

Send me an email

Visit our website

Follow me on Twitter

Follow us on Twitter

Book me for an event

Apply for a position

Become a client

View my Book

© 2025 by subiakto.com

bottom of page