Search this site
113 results found with an empty search
- BOWLING MARKETING VS PINBALL MARKETING
Bowling Marketing VS Pinball Marketing Dulu pasar itu ibarat bowling. Target market ibarat pin yg terhausun rapih tersegmentasi. Jalur mulus tidak belak belok naik turun. Permainan mulai kalau pemain melempar bola. Artinya apa? Marketing harus terus mendorong. Bola ibarat marketing cost. besar dan berat. Iklan jalan. Promo jalan. Diskon jalan. Baru pasar bergerak. Itu logika bowling. Linear. Terukur. Tapi tergantung dorongan terus-menerus. Sekarang pasar berubah. Bukan lagi bowling. Tapi ibarat permainan pinball. Di pinball, pemain cukup dorong bola sekali. Setelah itu permainan hidup sendiri. Bola memantul. Kena bumper. Kena cahaya. Bikin skor. Gerakannya liar. Cepat. Tidak linear. Begitulah perilaku konsumen hari ini. Mental ke TikTok. Terpental ke marketplace. Lompat ke review. Balik lagi karena diskon. Yang bikin bola tetap memantul adalah Brand. Marketing bisa mendorong bola. Tapi brand menentukan bola itu tetap memantul dan mencetak score Dengan brand, sekali dorong. Bikin score dan permainan jadi hidup lama. Subiakto, CBS Untuk melihat kontennya: https://www.instagram.com/reel/DVQCPZ_gFp4/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
- BRAND VS TREND: MENDING "NGIKUT" ATAU PUNYA JATI DIRI
BRAND VS TREND Value Brand kamu itu beneran punya arah… atau cuma ikut-ikutan yang lagi rame?” Gini ya. Trend itu kayak ombak. Lagi tinggi, semua orang pengen naik. Ada challenge baru di TikTok, ikut. Ada format baru di Instagram, bikin juga. Nggak salah. Tapi kalau tiap minggu kamu berubah cuma karena takut ketinggalan… itu bukan strategi. Itu FOMO. Kalau brand, beda lagi. Brand itu sikap. Brand itu bukan filter, tapi fondasi. Makna produk kamu buat pembelinya. Kalau kamu tiap minggu ganti gaya cuma karena algoritma berubah, itu bukan adaptif. Itu panik. Brand dengan value yang kuat boleh ikut trend.Tapi dia tidak kehilangan jati dirinya. Trend bikin kamu dilihat. Brand bikin kamu diingat. Trend bisa kasih views. Brand bakal kasih trust. Kalau kamu cuma ikut trend, kamu mungkin viral. Tapi kalau kamu bangun brand, pembeli akan beli lagi beli lagi. Subiakto, CBS Untuk melihat kontennya: https://www.instagram.com/reel/DVD8b5xkuSC/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
- MENGAPA MICRO INFLUENCER SEMAKIN DIBUTUHKAN?
Mengapa Micro Influencer Semakin Dibutuhkan? Mungkin, di dunia nyata, kamu nggak suka diomongin di belakang. Kalau ada yang ngomongin, kamu marah. Terus kamu musuhin. Tapi, kalau dalam branding, kamu nggak boleh marah, karena omongan itulah pendapat jujur yang menunjukkan brand kamu sebenarnya Sini saya jelasin. Konsumen zaman sekarang itu lebih percaya konsumen lain dari pada beribu-ribu iklan yang kita bikin. Kamu boleh aja bikin iklan keren. Visual bagus. Copy puitis. Budget besar. Atau mungkin sampai hire macro influencer Tapi sebelum orang checkout, mereka ngapain? Mereka baca review. Mereka cari komentar jujur. Satu review aja yang bilang “Gue repeat order, karena emang sebagus itu.” itu lebih kuat dari 10 billboard. Campaign bikin orang tahu, tapi review dari community bikin orang yakin. Brand yang kuat itu bukan yang sering dipromote macro influencer, tapi yang paling sering dapat komentar jujur dari micro influencer. Kalau kamu mau diomongin yang baik-baik di belakang, kamu harus kasih pengalaman yang baik buat consumer dan community kamu. Jangan bikin iklan aja. Subiakto, CBS Sumber: https://www.instagram.com/reel/DVIzZn-ks1a/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
- CARI INFLUENCER YANG NICHENYA SAMA DENGAN PRODUCT KAMU
Cari Influencer yang Nichenya sama dengan Product kamu Produk kamu ngegandeng influencer viral jadi brand ambassador. Tapi produknya malah nggak laku. Mereknya gak diingat. Kok bisa? Gini ya. Viral itu bikin rame. Tapi rame nggak berarti relevan. Pertama, value influencer dan brand harus sefrekuensi. Kalau brand kamu valuenya sophisticated, serius, tapi influencer yang kamu hire cengengesan, ya nggak bakal ketemu. Kedua, target audience influencer dan target behavior brand-mu harus sama. Bukan sama-sama followers, tapi yang nonton konten si influencer ini harus merupakan orang-orang yang tertarik dengan value brand kamu. Artinya produk kamu punya makna buat konsumennya. Kalau yang nonton bukan calon pembeli, ya wajar kalau cuma di-like. Bayangin Tasya Farasya disuruh jadi brand ambassador mewakili value semen. Masa semen dijadiin masker sama penontonnya? Jadi ingat: Viral itu bonus. Relevan dengan value itu wajib. Jangan cari influencer yang bikin merek kamu rame. Cari influencer yang bikin brand kamu dibicarakan dan dipilih. Subiakto, CBS Sumber: https://www.instagram.com/reel/DUceNMWkn_X/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
- Pesan Buat Gen-Z yang mau Membangun Bisnis
Pesan Buat Gen-Z yang mau Membangun Bisnis GEN ZKalau satu pesan buat Gen Z yang mau bangun bisnis? PAK BIJangan mulai dari:“Produk gue apa?” Mulailah dari: “Konsumen gue mau jadi siapa?” Kalau itu ketemu,produk tinggal dibikin GEN ZJadi kesimpulannya? PAK BISederhana. Merek itu nama di kemasan produkBrand itu nama yang menunjukkan siapa dirinya. Kalau brand sudah jadi identitas,promosi tinggal pengingat. GEN ZDalem sih Pak…Makanya banyak merek yang cepet viral tapi cepet hilang. PAK BIKarena mereka membangun produk,tapi lupa membangun maknanya Makanya belajar Bisa Bikin Brand Subiakto, CBS Sumber : https://www.instagram.com/reel/DUPpPqEkrwC/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
- BANYAK ORANG MENGIRA BRANDING ITU CUMA SOAL LOGO DAN PROMOSI. PADAHAL TIDAK!
Banyak orang mengira branding itu cuma soal logo dan promosi. Padahal tidak! 15 Langkah Magnet Branding itu adalah strategic thinking — cara berpikir untuk menentukan kemenangan brand sejak awal. Kita menentukan: siapa yang kita menangkan, konflik apa yang kita selesaikan, dan makna apa yang kita tanamkan di benak konsumen. Ini di tingkat direksi perusahaan. Lalu masuk ke tahap kedua: Strategic Interpretation. Strategi harus diterjemahkan supaya orang “mengerti dan merasa” Karena orang membeli bukan hanya dengan logika, tapi merasakan kehadirannya dalam kehidupan mereka. Ini ditingkat Strategic planner. Tahap ketiga adalah dasar strategic execution — bagaimana strategi tadi diubah menjadi sistem kerja agar kemenangan itu bisa terjadi, bukan hanya jadi konsep di kertas. Ini ditingkat manajer atau supervisor. Dan akhirnya, strategic execution diwujudkan lewat storytelling. Karena cerita membuat brand hidup, dipercaya, dan diingat. Ini ditingkat eksekutor atau content creator. Jadi, strategi menentukan kemenangan. Eksekusi membuat kemenangan itu nyata. Brand bukan dibuat. Brand dimenangkan Subiakto, CBS Sumber: https://www.instagram.com/reel/DUn5G2pEhND/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
- WORKSHOP INTERNAL PERUSAHAAN
Workshop Internal Perusahaan Terinspirasi dari workshop khusus bagi team internal @SporkyMaxi yang dikelola oleh mas @hergun81di Bandung dengan topik Behavior Science dimana team harus melanjutkan Brand Plan yang sudah disusun berdasarkan 15 Langkah Magnet Branding dalam bentuk Storytelling. Namun kenyataan di lapangan, strategi baru bisa dieksekusi apabila team pelaksana memahami perilaku calon konsumennya. Karena itu mas @hergun81 meminta team BBB menjelaskan Behavior Science sebelum diterapkan menjadi Storytelling. Jadi nggak cuma telling a story. Berdasarkan pengalaman tersebut, kami team BBB membuka kesempatan workshop bagi team internal perusahaan untuk menterjemahkan Strategic Plan menjadi eksekusi Storytelling maupun Copywriting mulai dari memahami Consumers Behavior. Buat perusahaan yang berminat hubungi admin Tanya Kasim di nomor +62 852-2394-4575 Subiakto, CBS https://www.instagram.com/reel/DUXtTlyEtjP/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
- HATI HATI. KALAU ADA YANG NGAKU PAKAR BRAND, LIHAT DULU BRAND APA YANG SUDAH DIA BIKIN
Hati hati. Kalau adayang Ngaku Pakar Brand, Lihat dulu Brand apa yang Sudah dia Bikin “Di sosmed, teori bertebaran. tinggal copy paste. Terus claim Pakar Brand. Semua orang bisa bicara… seolah paling tahu. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dipalsukan. “PENGALAMAN” Teori bisa dihafal. Slide bisa disalin. Quote bisa dicomot. Tapi pengalaman… harus dialami sendiri. Salah. Jatuh. Bangkit. Ketemu masalah. Ketemu solusi. Ketemu konsekuensi. Itulah kenapa brand yang kuat tidak lahir dari teori yang ramai di posting, tapi dari pengalaman yang berulang. Disebut Tacit Knowledge. Kalau brand Anda hanya pintar bicara, konsumen bakalan lupa. Tapi kalau brand Anda lahir dari pengalaman nyata, konsumen akan percaya karena terbukti. Bukan cuma teori Karena itu kalau ada yang mengaku pakar, Brand, tanya dulu “brand apa saja yg dia sudah bikin” bukan merek bukan Logo ya Subiakto, CBS https://www.instagram.com/reel/DUFPA6Ako7b/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
- PERSONAL BRANDING?
PERSONAL BRANDING? Di bio Instagram ngakunya problem solver. Tapi, nyatanya malah problematik. Gimana sih? Semenjak ada media sosial, mungkin banyak orang yang salah kaprah tentang personal branding. Banyak yang mikir “Personal branding itu tinggal nulis di bio Instagram, posting di feeds, kelar”. Itu memang penting untuk personal branding, tapi ada yang nggak kalah penting. Menurut Mas Bezos: “Brand is what other people say about you when you are not in the room”. Brand itu apa yang orang-orang bilang tentang kamu saat kamu lagi nggak di ruangan itu. Yang lebih penting dari sekadar nulis di bio Instagram itu omongan orang lain tentang kamu. “Pak Bi, gimana biar omongannya bagus?” Ya, level up. Naikin skill, banyak belajar, perbanyak pengalaman.Kalau bisa sampai 50 tahun juga seperti saya. Scrpt credit to @srikandikandikandi Subiakto, CBS https://www.instagram.com/reel/DUSECx9Erib/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
- BRAND STORYTELLING YANG BENAR DIMATA GEN-Z
BRAND STORYTELLING Pernah liat gak, post dari brand yang tulisannya: ‘Desainer kita lagi cuti’ atau ‘Desainer kita lagi galau’. Terus desainnya ngawur, kayak bikinan anak TK. Tapi kok malah viral? Kalau di zaman saya, brand itu desainnya mesti bagus, keren, pokoknya harus paling gong supaya dilirik sama konsumen. Tapi, kalau Gen Z udah beda lagi. Memang, desain kayak gini itu ngawur. Tapi yang dilihat sama Gen Z itu bukan desainnya, tapi cara ngomongnya. Cerita yang jujurnya Gen Z itu nggak cari brand yang sok sempurna. Mereka cari brand yang jujur, humble, dan kayak temen sendiri. Ngaku salah? Ngaku seadanya? Itu bukan kelemahan tapi kedekatan. Branding di era dijilat ini, eh, saya ulangi lagi, di era digital ini bukan soal kelihatan jago. Tapi kelihatan jujur. Kadang jujurnya kebablasan. Dan itu justru laku. Storyline credit to @srikandikandikandi Subiakto, CBS
- MEREK ADALAH IDENTITAS PRODUK. BRAND ADALAH IDENTITAS KONSUMEN
Merek adalah Identitas Produk. Brand adalah Identitas Konsumen GEN Z bertanya: Pak Bi, jujur ya… di kepala kami tuh merek sama brand itu sama aja. Logo, nama, kemasan. Bedanya di mana sih sebenarnya? PAK BI menjawab : Nah… justru itu masalahnya. Karena kalau dianggap sama, bisnisnya biasanya juga… jalan di tempat. GEN Z bertanya : Oke, kita lurusin. Apa definisi paling sederhananya menurut Pak Bi? PAK BI menjawab : Gini. Merek itu identitas produk. Brand itu identitas manusianya yang pakai produk itu. Merek milik perusahaan. Brand… milik konsumen GEN Z bertanya : Masih agak abstrak sih Pak. Bisa contoh yang relate ke hidup sehari-hari? PAK BI menjawab : Sip. Kamu pakai sepatu Nike. Secara merek, itu yang nempel di sepatu Tapi secara brand… itu bisa berarti: “Gue anak Nike. gue anak lari pagi.” “Gue anak street culture.” “Gue anak gunung.” Produknya sama-sama sepatu. Identitas manusianya beda. GEN Z bertanya: Berarti brand lebih penting dari produk dong? PAK BI menjawab: Bukan lebih penting. Tapi menentukan panjang pendeknya umur bisnis. Produk bisa ditiru. Harga bisa dikalahkan. Fitur bisa disamai. Tapi kalau sudah masuk ke identitas diri, Trust, orang akan bilang: “Ini gue banget.” Dan manusia jarang mau mengganti identitas dirinya. GEN Z bertanya: Kesalahan paling sering Merek zaman sekarang apa, Pak? PAK BI menjawab: Terlalu sibuk bicara sama kaca. GEN Z bertanya : Ke kaca? PAK BI menjawab: Iya. Fokuss sama dirinya “Produk kami begini…” “Produk kami begitu…” Padahal konsumen lagi sibuk bertanya: “Kalau gue pakai produk ini, hidup gue berubah nggak? Berubah jadi siapa?” Kalau pertanyaan itu gak dijawab, brand gak pernah lahir. GEN Z bertanya: Berarti brand itu bukan soal kelihatan keren? PAK BI menjawab: Bukan. Brand itu soal dibela bila dibully. Soal dipertahankan. Soal dirindukan saat gak dijual lagi Kalau belum sampai ke situ, itu baru merek, belum jadi brand yang punya makna bagi konsumennya. Subiakto, CBS https://www.instagram.com/reel/DUICx_PErtV/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
- BRAND VALUATION. MILIK SIAPA?
BRAND VALUATION. MILIK SIAPA? Banyak pengusaha bangga ketika brand nya mendunia, bernilai miliaran, bahkan triliunan. Tapi jarang yang bertanya… Nilai brand Triliunan itu milik siapa? Produk milik perusahaan. Pabrik milik perusahaan. Kantor milik perusahaan. Distribusi milik perusahaan. Kendaraan milik perusahaan. Tapi… Nama merek, logo, dan tagline itu lahir dari siapa? Dari brand strategist. Dari brand agency. Dari para pencipta makna. Berapa hak mereka? Karena konsumen tidak sekadar membeli produk… mereka membeli makna di balik produk yang kita sebut brand. Dan secara hukum, elemen kekayaan intelektual melekat pada penciptanya, bukan otomatis pada pemilik perusahaan.”* Itulah sebabnya… Seorang pengusaha dan strategic planner harus paham Brand Valuation dan kepemilikan kekayaan intelektual. Supaya tidak salah kaprah: mana aset perusahaan, mana kekayaan intelektual pemilik dari brand.” Ikuti workshop Certified Brand Strategist (CBS) dari Universitas Airlangga bekerjasama denga Bisa Bikin Brand, yang membekali Anda memahami, melindungi, dan memaksimalkan nilai brand sebagai aset bisnis. Mengatur juga hak ciptanya. Silahkan mendaftar di lynk.id/pakbi . Karena di masa depan… yang paling mahal bukan pabriknya. Tapi brand-nya. Jangan sampai sebagai pengusaha besar tanpa sadar melanggar etika karena ketidak tahuan. CBS — Certified Brand Strategist. Subiakto,CBS https://www.instagram.com/reel/DUSxpq7kjAl/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==











