top of page

Search this site

113 results found with an empty search

  • PERSONAL BRANDING iTU ADA STRATEGINYA. GAK SEMBARANGAN

    Personal Branding itu ada Strateginya. Gak Sembarangan Di bio Instagram ngakunya problem solver. Tapi, nyatanya malah problematik. Gimana sih? Semenjak ada media sosial, mungkin banyak orang yang salah kaprah tentang personal branding. Banyak yang mikir “Personal branding itu tinggal nulis di bio Instagram, posting di feeds, kelar”. Itu memang penting untuk personal branding, tapi ada yang nggak kalah penting. Menurut Mas Bezos: “Brand is what other people say about you when you are not in the room”. Brand itu apa yang orang-orang bilang tentang kamu saat kamu lagi nggak di ruangan itu. Yang lebih penting dari sekadar nulis di bio Instagram itu omongan orang lain tentang kamu. “Pak Bi, gimana biar omongannya bagus?” Ya, level up. Naikin skill, banyak belajar, perbanyak pengalaman. Kalau bisa sampai 50 tahun juga seperti saya hehehe Scrip dan visual credit to @srikandikandikandi Subiakto, CBS https://www.instagram.com/reel/DUU6z2zEkM5/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==

  • Recap Workshop BBB Januari 2026 di Bandung

    Selamat datang di keluarga Workshop BBB Terima kasih untuk seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam Workshop Bisa Bikin Brand, sekaligus menjadi workshop pertama di tahun 2026, yang diselenggarakan pada Rabu, 22 Januari 2026 di Hotel Ibis Trans Studio Bandung. Sebagai workshop kedua dengan format baru, kelas kali ini kembali membuktikan bahwa kesiapan peserta adalah kunci. Dengan membaca Kitab BBB 1 & 2 sebelum hadir, diskusi terasa lebih hidup, pertanyaan lebih tajam, dan interaksi berjalan dua arah. Suasana kelas tetap sama seperti workshop-workshop sebelumnya: hangat, aktif, dan penuh energi. Meski cuaca Bandung sempat diguyur hujan di beberapa sesi, semangat peserta tidak surut. Kelas tetap berjalan intens, peserta fokus berdiskusi, bertanya, dan saling berbagi insight dari pengalaman masing-masing. Terima kasih atas antusiasme dan kepercayaannya. Selamat datang di Keluarga Alumni Workshop Bisa Bikin Brand! Sampai bertemu di lain waktu!✨ Dan terima kasih juga kepada para sponsor yang telah mendukung terselenggaranya acara ini: Kisera, Sauyunan, Sporky Maxi, Lagi Kreatif, dan Milk n’ Mind 🙏 #bisabikinbrand #subiakto #workshopbranding

  • SERIAL TAGLINE YANG SAYA CIPTAKAN SEPANJANG KARIER SAYA (13)

    Yang Ketigabelas Demikian kata orang tua tua tentang believenya mereka. Awalnya saya gak percaya sampai saya mengalami sendiri. Awal tahun 80 an. Datanglah seorang pengusaha dari Maluku pedalaman bawa produknya menemui GM saya waktu itu mas Doni Prianto (alm). Mereknya Minyak Kayu Putih 99. Singkat kata karena hangatnya langsung berasa gak kayak minyak kayu putih lainnya, saya langsung setuju ketika team mengusulkan Tagline “Seng ada lawan”. Dan betul setelah kita campaign 3 bulan di televisi salesnya meledak sampai kewalahan pabrik gak bisa ngejar produksi. Disini saya curiga. Saya kirim mas Doni (alm) ke Maluku meninjau pabriknya. Ternyata yang diakui sebagai pabrik adalah sebuah gudang dengan beberapa buruh mengisi minyak kayu putih ke botol secara manual. Dan betul ternyata pengusaha itu gak bisa bayar biaya iklannya sebesar 2.5M. Ini pertama kali saya tertipu dalam usaha saya. Dan saya menjadi lebih berhati-hati karena peristiwa itu. Subiakto, CBS (Bersambung)

  • SERIAL PRODUK YANG SAYA CIPTAKAN SEPANJANG KARIER SAYA (1)

    Yang Pertama Tahun 1972. Saya masih bekerja di PT Guru Indonesia. Suatu hari, di dapur rumah yang saya sulap jadi kantor, datang Pak Tjipto Sosrodjojo ke rumah saya. Kami bicara soal desain kemasan teh. Lalu saya nyeletuk iseng: “Kalau Amerika bangga dengan Cola, Indonesia harusnya bangga dengan Teh pak. Ready to drink … dalam botol.” Pak Tjip ragu, “Emang laku?. Siapa yang mau minum teh basi?” Saya ajak beliau ke depan SD Gaharu. Duduk di bangku penjual rokok. “Tanya anak-anak yang pulang bawa botol kosong. Tadi isinya apa?” Jawabannya sama: “Tadi isinya teh panas manis.” Saya bilang, “Kalau tiap hari mereka bawa botol isi teh manis, apa itu bukan market?” “Coba mas Biakto buatin mobkup botolnya” Mengingat kata boss saya waktu saya di rekrut “ Selain tugas kantor produksi kemasan karton, kalau kamu mau side job diluar jam kantor ya silahkan saja” Seminggu kemudian saya kembali Ke pak Tjip dengan mockup botol. Singkat cerita diproduksi lah. Dan lahirlah Teh Botol pertama. Dengan tujuan masuk hotel, restoran, kafe. Bukan karena teknologinya yang menciptakan pasar. Tapi karena kebiasaan orang Indonesia sudah siap. Minum teh. Jadi ritual malah. Brand besar selalu lahir bukan dari ide keren, tapi dari membaca ritual kecil yang diabaikan orang lain. Subiakto, CBS (Bersambung)

  • SERIAL TAGLINE YANG SAYA CIPTAKAN SEPANJANG KARIER SAYA (12)

    Yang Keduabelas Dapat tamu dari Surabaya, pak Daroono dan pak Setiadi. Pemilik kopi hitam mwrwk GLATIK. Singkat kata saya diminta terbang ke Surabaya meninjau pabriknya yang lumayan besar. Uniknya terletak di are perumahan yang radius 2 kilometer sudah tercium aroma kopi dari pabrik roasting kopinya. “Ini roaster kopi JITU pak Biakto” kata PAK Darpono. Wah hebat saya pikir ramuan JITU alias andalan. Ternyata … “Siji kopi, pitu jagung” ini kesukaan petani petani kebun teh khususnya daerah Jawa barat. “Kopinya di tubruk, sambil diminum kopinya, jagungnya di kletisin pak. Ada daerah yang sukanya jagunggya terendam bersama ampas kopinya, ada yang suka jagungnya mengambang ketika diseduh”. “ Kenapa gak 100% kopi pak?” Tanya saya. “pasar sukanya kopi ‘jitu’ pak. Ya kita melayani permintaan pasar” Baru ini saya ketemu klien yang produknya dibuat disesuaikan dengan selera pasar. Kopi tubruk jitu. Saya baru tau ternyata setiap desa beda selera. Setia gang beda racikan @Ada yang jagungnya maunya kasar, ada yang jagungnya halus, ada yang tenggelam, ada yang ngambang. “Pantesan pak Darpono bilang ini roaster jitu. Rupanya ada cerita dibalik produknya. Marketing memang berangkat dai PRODUCT. Tapi ketika berangkat dari CONSUMERS BEHAVIOR jadilah dia branding. Produknya jadi kebiasaan konsumennya. Yang lucu lagi peredarannya di daerah petani tembakau di Madura Banyuwangi disamping petani teh di Jawa Barat. Ternyata ada satu kata yang artinya sama dalam bahasa Sunda dan bahasa Madura. Kata ‘Tahiye’ dalam bahasa Sunda dan ‘Taiye’ dalam bahas Masura Punya arti yang sama sama yaitu ‘Ini dia’. Wah unik juga nih. Sekali tepok dua lalat terkena. Maka kerika bikin tvc untuk menyampaikan branding kopi GLATIK SP, pilihan jatuh ke grup lawak Abah Usus and the geng. Menyanyikan Tagline “Tah iye Kopi Tubruk GLATIK” pakai iringan musik calung Sunda dengan gendang rampak Madura hehehe. Silahkan kaomen ‘lanjutkan’ buat tagline berikutnya Subiakto, CBS (Bersambung)

  • SERIAL TAGLINE YANG SAYA CIPTAKAN SEPANJANG KARIER SAYA (11)

    Yang Kesebelas Pangsa pasar Televisi Eropa sudah didominasi POLYTRON berkat brand/ value yang mendisrupsi yang disampaikan lewat tagline “TV Eropa harga Jepang”. Rupanya televisi buatan Jepang dan asembling lokal menyerang balik dengan merek Fujitec lah, apatec lah seolah Televisi Jepang versi murah. Akhirnya polytron mengeluarkan fighting brand buat melindungi pamgsa pasarnya. Dengan merek DIGITEC. Supaya diterima di pasar televisi Jepang saya kasih nicked name NINJA. Jadi DIGITEC NINJA. Yang kemudian begitu keluar versi 20 inchinya dikasih nama DIGITEC SUMO hahaha. Ada peristiwa licu waktu shooting filmnya. Adegan ibu ibu mau beli DIGITEC NINJA. Masalahnya talent penjaga tokonya terlalu ganteng. Sebagai sutradara saya jadi pusing. Alhamdulillah ada crew lighting Film istilahnya tukang gulung kabel dengan muka lucu dan unik (mudah dikenal) lewat depan saya. Saya tanya “Siapa Namamu?” “Bagus pak” “Mau main jadi pelayan toko?” “Mau pak” “Bisa?”. “Sana ganti baju dan makeup” Singkat kata dia dengan mukanya yang lucu masuk set dan … “Digitec memang moooy”. Gak sampai sebulan tayang di televisi langsung “Boom” VIRAAAAL. kata anak jaman sekarang berkat actingnya yang surprisingly “Lucu”. Dan client pun tidak berhenti tertawa sepanjang proses shooting film menertawakan bukan cuma ‘actingnya’ tapi juga angka salesnya yang tiba tiba melonjak. Komen lanjut kan kalau mau saya cerita tagline selanjutnya. Subiakto, CBS (Bersambung )

  • SERIAL TAGLINE YANG SAYA CIPTAKAN SEPANJANG KARIER SAYA (10)

    Yang Kesepuluh Lagi lagi saya dipanggil buat ngebranding Grand Compo Grand Master. “Sekarang Grand Compo Grand Master bisa karaoke pak. Buatkan iklannya pak” Jaman dulu ngomongnya ‘iklanin pak’. Biro iklan biasa rata rata langsung menonjolkan fitur dan manfaatnya. Sudah. Tidak dipikirkan lebih lanjut “jadi apa maknanya buat pembeli. Ingat beda manfaat dengan makna yang lama kelamaan menjadi ‘believe’ yang menjadi esensi dari branding. Biro iklan saya gak begitu cara kerjanya. Yang penting ’Ingat Grand Master, ingat Coba Dulu, baru beli’ dengan tambahan ‘bisa karaoke lagi’. Kalimat ini saya pakai sebagai Tagline untuk membangun Band/makna dari produknya. ‘Bisa karaoke lagi’ jadi Boom!!! Grand Master jadi populer gara gara kalimat itu dipakai buat ‘yang bermaksud iseng’ hahaha Mau dilanjut? Silahkan komen lanjut buat yang ingin saya share Tagline ke sebelas@dan seterusnya Subiakto, CBS (Bersambung)

  • SERIAL TAGLINE YANG SAYA CIPTAKAN SEPANJANG KARIER SAYA (9)

    Yang Kesembilan Sebelum lompat ke Digitec, ada cerita seru dari Grand Compo Polytron Bassoke. Mau dengar? Begini. Pada awal tahun 80an pak Chandra bilang “Pak Biakto. POLYTRON bakal ngeluarin Grand compo dengan merek GrandMaster. Ini bisa jadi pesaing Grand Compo Bazoka punya Sony”. Gila Polytron pede banget mau bersaing sama merek international SONY. “ Berani bersaing sama SONY emang apa keunggulannya pak?” Tanya saya. “Grand compo Polytron suara bassnya lebih Oke dari Bazoka. Yang lainnya sama aja” Saat itu juga saya bilang suara bassnya lebih nendang. Kasih nama BASSOKE aja pak Lawan langsung sama Bazoka. BASSOKE maknanya grand compo yang suara bassnya lebih oke pak” “Sip”Kata pak Chandra langsung ambil telpon nelpon pabrik yang sedang cetak karton Grand Master “Ganti merek paka BASSOKE. Be A eS eS O K E . Ya jangan salah. Yang sudah terlanjur dicetak Grandmaster dibalik aja kartonnya”. “Trus Taglinenya apa pak?” tanya pak Chandra. “Taglinenya ‘BASSOKE, Bassnya oke banget pak” kata saya “Trus jinglenya pakai rock & roll aja biar bassnya berasa tendangannya” kata saya. “Trus yang nyanyi siapa pak?” Tanya pak Chandra lagi “Yang suaranya ngebass ya Idang Rasidi pak” kata saya “Oke kapan bisa rekaman. Telpon Idang pak” Saya telpon Idang, kebetulan malam ini dia bisa rekaman, Elva sebagai musisi juga bisa dan dapat jadwal studio Trpple M shift ketiga. Jadilah malam itu rekaman jingle : Bass bass bass Bassoke. Bass bass bass Bassoke. Bass bass bass Bassoke. Bass bass bass Bassoke. Tagline : “Bassoke. bassnya oke banget” Dan besoknya PH Jatayu punya pak hari Simon siap shooting lagi. Jadilah TVC Film tercepat yang saya buat mulai dari konsep Storyboard, jingle sampai editing. Subiakto, CBS (Bersambung)

  • SERIAL TAGLINE YANG SAYA CIPTAKAN SEPANJANG KARIER SAYA (8)

    Yang Kedelapan BOOM!!! Tagline sebelumnya “TV eropa, Harga Jepang”membuat Polytron bergeser dari posisi ke 32 menjadi posisi single digit. Ini membuat pak Chandra memanggil saya lagi untuk diskusi. “Bahaya mengandalkan atau ‘menjanjikan’ harga murah ke konsumen, sementara harga spareparts naik. Akhirnya untuk mempertahan momentum yang sedang naik, berdasarkan filosofi ‘tempa besi selagi panas’ saya bikin tagline “The Winning Theme, wins again”. Lagi lagi saya pakai siapa yang bicara akan mengangkat tagline itu dengan cepat. kita sepakat dibuatlah jingle yang dinyanyikan oleh Ruth Sahanaya pemenang Pop Singer saat itu dengan musik iringan alm Elva Secoria, Jingle@simple sbb : “Today is the time for a decision. Now is the time to join The Winning Team. We are the one, we are the only, The Winning Theme Wins again” Berangkat lah rombongan ke Malaysia buat bikin TVC Thematic ini. Dan lagu ini membuat POLYTRON semakin populer sehingga diputuskan memproduksi merek kedua sebagai fighting brand “DIGITEC” untuk melindungi Polytron dari TEC TEC TV lokal berharga murah yg lain. Dengan kedua merek tersebut membuat POLYTRON berada di puncak pasar TV Nasional. (Bersambung) Subiakto CBS

  • SERIAL TAGLINE YANG SAYA CIPTAKAN SEPANJANG KARIER SAYA (7)

    Yang Ketujuh Lagi lagi pak Beny Ligna yang kelihatannya puas sama Tagline yang saya buat, memperkenalkan saya pada pak Chandra Adisusanto yang waktu itu menjabat sebagai promotion Manager POLYTRON di usia yang sangat muda (24 tahun) tapi sudah lulus cumlaude S1nya. Singkat kata saya diminta melakukan rebranding Polytron yang berada diurutan ke 32 dari 32 merek televisi di Indonesia, padahal sudah ditangani biro iklan asing. Setelah berpikir satu minggu saya menemukan jawabannya. Polytron itu TV Eropa. Dalam artian sparepartnya semua dari Phillips, hsnya di assebling di Kudus, Jawa Tengah. Sehingga persepsinya dipasar, teknologinya rendahan. Karena itu sudah ditawarkan kesemua toko elektronik gak pada mau nyetok. Satu satunya jalan yang mereka tahu adalah ‘kasih diskon’ atau ‘potong harga’. Saking banyaknya potongannya sampai sampai harganya beda tipis atau sama dengan Tv buatan Jepang yang saat itu kualitasnya masih dipersepsikan lebih rendah dari kualitas TV Eropa yang dimotori oleh Phillips. Kondisi ini saya manfaatkan sebagai positioning rebranding POLYTRON. “TV Eropa, harga Jepang”. Yang kemudian dikenal Polytron melakukan disrupsi dpasar TV Eropa dengan harga murah, dan melakukan disrupsi dipasar TV Jepang dengan kualitas Eropa. Ini membuat TV Eropa dan TV Jepang mati langkah. Makan buah simalakama. Subiakto, CBS (Bersambung)

  • SERIAL TAGLINE YANG SAYA CIPTAKAN SEPANJANG KARIER SAYA (1)

    Yang Pertama Sepulang dikirim oleh menteri perindustrian saat itu belajar ikut program industrial design Colombo Plan di Jepang tahun 1974, dan gara-gara ikut kelas advertising LPWI ISWI, 2 tahun kemudian pak Bi mantab resign dari perusahaan yang sejak lulus SMA ditahun 1968 menjadi tempat belajar tentang graphic design dan percetakan diberbagai nirmala datar. Saya pulang dengan penuh harapan. “Dunia periklanan yang gemerlap”. Menjanjikan masa depan. Saya melamar ke mana-mana. Rata rata biro iklan asing. Ditolak. Ditolak lagi, ditolak lagi. Sampai akhirnya saya resmi menyandang gelar: pengangguran. Saya tidak marah. Tidak menyerah. Tidak diam. Saya bekerja. Saya cetak kartu nama untuk orang lain. Ratusan. Bahkan mungkin Ribuan. Ironisnya…saya sendiri tidak punya kartu nama. Di titik itu saya sadar: nama dan jabatan tidak menunjukkan kemampuan. Saya bikin kartu nama. Dengan kalimat yang kemudian saya kenal sebagi “Tagline”. Dan ternyata itu Tagline saya yg pertama dalam karier saya : “Creative person looking for creative client.” Yang menjelaskan “Saya pekerja kreatif yang akan mengubah anda menjadi klien yang kreatif. Saya datang ke acara dimana saya tidak diundang. Masuk ke ruangan yang tidak seorang pun mengenal saya. Sebar kartu nama ke orang yang tidak saya kenal. Nekat? Memang. Saya tidak punya pilihan. Karena dunia ini tidak memberi tempat bagi yang menunggu. Ia hanya memberi tempat buat orang yang nekat (Bersambung) Subiakto, CBS

  • SERIAL TAGLINE YANG SAYA CIPTAKAN SEPANJANG KARIER SAYA (3)

    Yang Ketiga Saya pikir Sakura film membutuhkan Tagline yang kuat buat memenangkan hati masyarakat Indonesia. Bukan sekedar klaim “Lebih Indah dari warna aslinya”. Harus lebih dari itu Setelah saya pikir seminggu saya ambil thema ‘Sakura Film pilihan masyarakat Indonesia.’ Pilihan Indonesia berarti harus diwakili oleh suku suku bangsa di Indonesia. Maka saya buatkan Tagline yang mewakili pilihan suku suku bangsa di Indonesia  Masalahnya bahasa yang dipakai. bahasa Indonesia kah? Bahasa Daerahkah? Akhirnya saya pakai bahasa Indonesia dengan ‘slank’ daerah masing-masing. Jadilah konsep Tagline sbb : 1. “Sakura Film rancak bana” pasangan berbusana Sumatera Barat mewakili wilayah Sumatera 2. “Abdi mah pilih Sakura Film”pasangan berbusana adat Sunda mewakili Jawa Barat 3. “kawulo pilih Sakura Film” pasangan berbusana adat Jawa mewakili Jawa Tengah. 4. “Aboo, saya pilih Sakura tak iye” pasangan berbusana Madura mewakili suku Madura 5. “Sakura filmo” pasangan berbusana adat Papua mewakili suku suku dari Indonesia Timur. Ada peristiwa lucu waktu shooting TVC 30 detik buat iklan TVRI. Sang sutradara dari Hongkong yang di hire PH Leo Jade film ngambek dan balik kehotel menyerah pada scene pertama l, karena gak paham ‘slank’ masing masing daerah Terpaksalah saya sebagai Creative Director ambil alih menjadi sutradara “dadakan”. Saya diajari crew yang lain cara call sutradara “Silent pleace, standby, sound, camera roll, and action” lalu setelah selesai harus teriak “Cut”. Saat itu juga di lokasi saya jadi sutradara ‘dadakan’ kebacut sampai sekarang. Dan jadilah TVC “sakura Film rancak bana” ini debutan film pertama saya sepanjang karier saya yang lebih dari 50 tahun (Bersambung) Subiakto, CBS

CONNECT

SUBIAKTO PRIOSOEDARSONO CBS

DBrand

Send me an email

Visit our website

Follow me on Twitter

Follow us on Twitter

Book me for an event

Apply for a position

Become a client

View my Book

© 2025 by subiakto.com

bottom of page