top of page

95 results found with an empty search

  • BRANDING TIDAK MENGENAL KOL

    Branding tidak mengenal KOL KOL = Key Opinion Leader Istilah ini berasal dari PR & Influencer Marketing, bukan ilmu Branding. Branding hanya mengenal dua kekuatan organik:    •   Evangelist : fans yang mencintai value & konten kita    •   Brand Advocate : pengguna yang mencintai produk & pengalaman kita. Membangun TRUST - kepercayaan akan suatu produk KOL berbayar bukan membentuk makna. KOL berbayar tidak membangun trust. KOL hanyalah alat distribusi informasi yang bersifat sementara. Membangun awareness. Memanfaatkan jumlah followernya.

  • KESIMPULAN

    Kesimpulan KOL = traffic instan. Evangelist = awareness organik. Advocate = trust jangka panjang. KOC = pelanggan biasa yang:    •   aktif review    •   punya kredibilitas karena mereka memang membeli & memakai    •   dianggap lebih jujur daripada KOL    •   punya pengaruh di komunitas kecil / niche Apakah KOC penting untuk Branding? Penting. Tapi bukan pembentuk makna. Mereka membuktikan makna yang sudah brand ciptakan. Brand menciptakan meaning Product menciptakan experience Customer menciptakan evidence KOC menciptakan public proof KOC = kombinasi antara:    •   micro reviewer    •   early adopter    •   repeat buyer yang vokal Sebenarnya, KOC = bagian dari Brand Advocate, hanya lebih vokal dan lebih “review-friendly”.Branding bukan tentang seberapa keras kita bicara, tapi seberapa dalam makna produk masuk ke hidup konsumen. “KOL bisa membuat ramai, tapi Evangelist & Advocates yang membuat brand bertahan.” — Subiakto Priosoedarsono Saya bisa saja salah. Silahkan komen

  • PERAN KOL DALAM BRANDING

    Peran KOL dalam Branding Branding = menciptakan makna, mengubah perilaku konsumen, membangun reputasi Dalam langkah branding,    •   Evangelist = distributor makna    •   Advocate = bukti sosial & repetisi    •   KOL = pengeras suara berbayar bikin awareness sesaat KOL hanya memperluas jangkauan, awareness konsumen, tidak membangun ritual, tidak menciptakan kategori, tidak menambah value. Makna brand tidak pernah lahir dari pihak yang dibayar. Makna lahir dari konsumen yang tersentuh. Brand itu sekali dilihat langsung diingat

  • PERBEDAAN FUNDAMENTAL EVANGELIST VS ADVOCATE VS KOL

    Perbedaan Fundamental Evangelist VS Advocate VS KOL Evangelist    •   Suka dengan konten & value brand kita    •   Tidak dibayar. Kehendak sendiri    •   Tidak wajib pengguna produk kita    •   Loyal pada makna produk walaupun belum menggunakannya Brand Advocate    •   Pengguna nyata yang sudah menggunakan Brand/produk    •   Kepuasan menggunakan produk mendorong rekomendasi    •   Tidak dibayar    •   Loyal pada produk/ Brand   •   Layak membela/ testimoni produk/Brand kita KOL    •   Dibayar    •   Tidak wajib pakai produk    •   Loyal pada fee    •   Bagian dari taktik, bukan strategi brand Influencer = orang yang punya pengikut (followers) dan bisa memengaruhi perilaku mereka melalui konten. Istilah lahir dari platform digital: Instagram, TikTok, YouTube, Twitter (X). Influencer = content-based authority, bukan product-based authority. Perbedaan Dasar dengan KOL KOL - punya otoritas karena profesinya Influencer -punya otoritas karena kontennya Contoh:    •   Influencer = beauty vlogger, travel vlogger, gamer, selebgram Influencer dibayar untuk membuat konten, bukan karena keahlian formal. Kesimpulan: Brand dibangun oleh Evangelist & Advocate, bukan KOL atau Influencer

  • PRODUK TIDAK MEMBERIKAN KEPASTIAN. BRAND MEMBERIKAN KEPASTIAN MASA DEPAN

    Product Tidak Memberikan Kepastian . Brand Memberikan Kepastian Masa Depan Orang tidak beli produk. Orang beli kepastian. Kepastian bahwa hidupnya lebih baik setelah memakai produk Anda. Produk hanya menjawab: “Apa manfaatnya?” • Murah? Besok ada yang lebih murah. • Canggih? Minggu depan ada yang lebih canggih. • Banyak fitur? Kompetitor tinggal tiru. Produk selalu bisa disalip. Dan tidak ada kepastian. Brand menjawab: “Apa makna yang saya dapat?” • Tentang siapa saya. • Tentang masa depan yang saya ingin. • Tentang rasa aman bahwa pilihan saya tidak salah. Brand memberi kepastian emosional: “Saya sudah di jalan yang benar.” Contoh Simpel Indomie bukan sekadar mi. Itu seleraku - kepastian selera. Kopiko bukan sekadar permen. Itu gantinya ngopi - kepastian fungsi. Extra Joss bukan sekadar energi. Itu biangnya - kepastian efek. Yang dibeli bukan produknya. Yang dibeli kepastian hidup konsumen. Mengapa Gen Z Sangat Butuh Kepastian? Generasi dengan: • High Anxiety • Low Resilience • Banyak pilihan tapi takut salah pilih Produk bikin ragu. Brand bikin percaya diri. Kalau Anda masih jualan produk, Anda sedang menjual ketidakpastian. Kalau Anda sudah jualan Brand, Anda sedang memastikan masa depan. Mau belajar bikin Brand yang memberi kepastian? Bukan sekadar jualan produk?

  • ALGORITMA

    Algoritma Banyak yang nanya apa sih algoritma IG itu? Mengapa kita harus mengikutinya ? supaya relevan? Mana Algoritma nya ganti-ganti? Mana yang bener? Algoritma itu sebenarnya sangat sederhana kalau dijelaskan dengan bahasa “orang hidup sehari-hari.” Bukan istilah teknis yang ribet. Algoritma = urutan langkah yang pasti untuk mendapatkan hasil yang pasti. Dalam bahasa Pak Bi: Algoritma itu “cara kerja” yang diulang-ulang sampai hasilnya konsisten. Kalau langkahnya berubah, hasilnya juga berubah. Contoh paling mudah (sehari-hari) 1. Cara bikin teh manis Langkahnya: 1. Panasin air 2. Masukkan teh 3. Tambah gula 4. Aduk 5. Sajikan Kalau langkahnya dibalik → hasilnya beda. Kalau gulanya kurang → manisnya beda. Itu algoritma. 2. Google juga pakai algoritma Saat Anda mengetik “bakso enak”, Google menjalankan ratusan langkah untuk:    •   Memilih rekomendasi    •   Menilai reputasi    •   Mengurutkan    •   Menampilkan hasil terbaik Itu juga algoritma : langkah terstruktur menuju hasil tertentu. 3. Branding pun pakai algoritma Brand itu bukan seni. Brand itu algoritma perilaku. Contoh dalam Magnet Branding: 1. Purpose nya apa 2. Value Added 3. Reputasi 4. Meaning 5. Distribusi Makna 6. Ritual konsumen Setiap langkah berurutan = algoritma menciptakan makna jadi brand. Kalau langkah dilompati, brand nggak jadi. Kalau langkah salah urut, maknanya nggak nempel. Jadi kesimpulannya Algoritma = pola langkah yang menghasilkan pola hasil. Dalam digital era:    •   Algoritma IG = pola yang menentukan konten mana muncul    •   Algoritma TikTok = pola yang memprediksi siapa suka apa    •   Algoritma YouTube = pola yang memetakan minat - lalu mendorong konten relevan Di sosmed Algoritma dibuat oleh manusia. Pemilik apps masing masing tujuannya bisnis. Bagaimana mereka memperoleh uang dari konsumen nya Dalam kehidupan:    •   Algoritma makan : sehat atau sakit    •   Algoritma kerja : sukses atau stuck    •   Algoritma brand : dipercaya atau dilupakan Subiakto, CBS

  • TAHUKAH ANDA BEDANYA MANFAAT DAN MAKNA?

    Tahukah anda bedanya Manfaat atau Makna? Manfaat sendal itu sederhana: Dipakai setelah wudhu, biar kaki bersih tidak kotor lagi saat melangkah ke masjid. Manfaatnya jelas : alas kaki. Tapi… Begitu sendal yang sama dikasihkan ke pak Bi, tiba-tiba bukan lagi soal alas kaki. Maknanya berubah total. Sekarang ia bukan alas kaki, tapi hadiah. Dan sebagai hadiah, ia tidak ditaruh di depan pintu… tapi disimpan rapi di lemari, bersama hadiah-hadiah lain yang punya nilai emosi atau memori. Manfaatnya hilang, maknanya tumbuh. Itu sebabnya dalam branding kita selalu bilang: produk bekerja karena manfaatnya… tapi brand hidup karena maknanya. Sepasang sendal tadinya manfaatnya bisa jadi alas kaki, bisa juga jadi simbol perhatian. Makna selalu lebih kuat dari manfaat. Karena manfaat dipakai, makna disimpan di hati. Makna selalu lebih kuat dari manfaat. Karena manfaat dipakai, makna disimpan di hati. Makanya kenapa pak Bi selalu bilang : Jangan jualan produk atau manfaatnya. Jual lah makna dari produknya

  • BANYAK PEBISNIS TIDAK TAHU BAHWA DIA SEDANG ‘TIDAK TAHU’

    Banyak Pebisnis Tidak Tahu Bahwa Dia Sedang ‘Tidak Tahu’ Yang paling menakutkan dari sebuah bisnis bukan bangkrut. Yang paling menakutkan adalah kamu tidak sadar bisnis sedang sekarat. Semua terasa normal… sampai tiba-tiba terlambat. Banyak pemilik bisnis merasa aman karena: – produk laku, – ada pembeli baru, – omset kelihatan naik. Padahal mereka tidak melihat retakan halus yang terjadi setiap hari: pelanggan mulai tidak kembali. Ini bahaya. Karena pelanggan tidak pergi dengan marah. Mereka pergi dengan diam. Tidak ada notifikasi. Tidak ada pesan. Tidak ada warning. Dan alasan mereka pergi sederhana: mereka tidak MERASA MAKNA PRODUKMU BUAT DIA. tidak@merasakan kehadiran brand-mu. Mereka beli produkmu tanpa makna. Dan segala sesuatu tanpa makna mudah ditinggalkan. Jika kamu membaca ini dan merasa, “Kayaknya bisnis saya aman-aman saja…” justru itu tanda bahwa kamu masih tidak sadar apa yang sedang terjadi. Kamu tidak bisa memperbaiki sesuatu yang bahkan tidak kamu sadari. Di sinilah branding dimulai: dari SADAR. Subiakto CBS

  • APA ITU ANTI-BRANDING?

    Apa itu Anti Branding? Belakangan muncul istilah Anti Branding menjadi Gerakan Menolak Kepalsuan 1. Anti-branding muncul karena konsumen muak dengan:    •   klaim palsu    •   pencitraan berlebihan alias flexing    •   janji manis tanpa bukti    •   “keren di iklan, b aja di kenyataan” Anti-branding ingin brand lebih jujur, apa adanya, tanpa gimmick murahan. 2. Branding Tanpa Branding Ini paradoks: Brand-nya kuat, tapi tidak kelihatan jualan. Contohnya:    •   brand tampil sederhana    •   visual minimalis    •   komunikasi apa adanya    •   tidak pamer-pamer prestasi    •   tidak teriak “kami terbaik!” Justru karena tenang, orang percaya. 3. Disruption terhadap “Branding yang Ribet” Anti-branding menolak:    •   desain kemasan terlalu mewah    •   logo yang dipoles berlebihan    •   tagline bombastis Diganti dengan:    •   fakta    •   transparansi    •   voice of customer    •   real everyday story Anti-branding = branding yang tidak berusaha terlihat seperti branding. 4. Konsumen Gak Mau Dibodohi Lagi Khususnya Gen Z, mereka akan langsung:    •   skip    •   scroll lewat    •   block    •   expose di TikTok Kalau merasa brand memalsukan makna. Anti-branding adalah respons terhadap tren itu. Anti-branding bukan anti brand. Anti-branding adalah anti kebohongan, anti pamer, dan anti ribet. Brand-nya tetap kuat, tapi tampil:    •   sederhana    •   jujur    •   relevan    •   tidak menggurui    •   tidak memaksa Anti-branding artinya menghapus lapisan-lapisan kosmetik dan memosisikan brand sebagai:    •   jujur    •   relevan    •   responsif    •   berani mengakui kekurangan    •   berani tampil apa adanya Kita bahas yuk di workshop 29 November 2025 di Ibis Style Hotel Simatupang Jakarta Selatan. Pendaftaran di lynk.id/pakbi . Workshop berikutnya Januari 2026 sampai jumpa dikelas

  • APA ITU BRAND ?

    Apa itu Brand? Bulan lalu saya ngobrol ngobrol sama prof @indrauno . Sampailah ke pertanyaan “pak Bi Kalo saya nanya ttg brand ke emak-emak yang jualan cireng di desa cisantana, kecamatan Cigugur, Kabupatén Kuningan saya rasa mereka akan jawab “atu da teu langkung cep” (ya terserah adén aja) Jawab saya singkat “apa yang hilang ketika cireng (produk) ibu itu hilang dari pasar. Gurihnya kah? Empuknya kah? Pedasnya kah? Keramahannya kah? Nah itu brand anda“. Lebih jelasnya begini “Value seorang ibu itu adalah apa yang anda rasakan hilang dari kehidupanmu ketika anda kehilangan ibu” Selagi hidup kehadiran seorang ibu dirasa biasa biasa saja. Baru terasa makna/value seorang ibu ketika ibu menghilang dari kehidupan anda. Apa yang hilang? Tahu petis buatannya kah? Pelukannya kah? Perhatiannya kah? Yang hilang itulah value brand kamu. Serius mau belajar brand? Ikuti Workshop Bisa Bikin Brand 29 November 2025 di hotel Ibis Style Simatupang Jakarta Selatan. Video persiapan workahop bisa dibeli di lynk.id/pakbi

  • CONTENT PILAR = TAGLINE YANG MENJELASKAN MAKNA PRODUKBAGI KONSUMEN

    Akhirnya Pak Bi Bicara Bukan TREND atau berita yang lagi viral. 1. Content Pilar itu “Makna”, bukan “Momentum Viral” Viral itu angin. Kadang datang, kadang hilang. Tapi makna yang dipercaya konsumen adalah fondasi. Itu yang membuat orang kembali lagi dan lagi. Contoh:    •   “Gantinya Ngopi” → konsisten bertahun-tahun.    •   “Seleraku” → bukan viral, tapi menanam makna makan Indomie = selera pribadi.    •   “Ini Biangnya” → menancap di kepala, bukan karena momen viral, tapi karena maknanya kuat. Itulah Content Pilar. 2. Viral hanya membawa trafik. Pilar membawa posisi. Konten yang ikutan yang lagi viral hanya menciptakan keramaian sementara. Tidak membangun algoritma pemikiran konsumen. Sementara content pilar adalah:    •   Pesan inti brand    •   Makna yang ingin ditanam    •   Cara brand memandang dunia    •   Definisi kategori baru yang ingin dibuat    •   Nilai tambah yang ingin diulang-ulang Kalau brand hanya kejar viral → orang datang sekali. Kalau brand mengulang nilai → orang ingat selamanya. 3. Pilar itu seperti tagline: pendek, bermakna, diulang terus. Pilar bukan tema konten, tapi makna inti konten. Yang sering saya bilang kayak ceplok telor. Pilar itu kuning telor dan putih telor itu kontennya. Contoh :    •   “Work. Eat. Balance.” → pilar Fingers Butter Rice    •   “Transformasi Menjadi Versi Terbaik.” → pilar UPI YPTK Padang    •   “Gantinya Pak Bi.” → pilar Dion Ini semua bisa dijadikan content pilar, karena setiap konten yang dibuat tinggal memutar makna itu. 4. Kenapa pilar harus makna? Karena BRAND = PERSEPSI yang DITANAM. Brand tidak terbentuk dari keramaian. Brand terbentuk dari keajekan makna. Orang percaya karena konsisten. Bukan karena heboh. 5. Viral itu optional. Pilar itu wajib. Konten viral boleh sebagai bahan bakar tambahan. Tapi tidak boleh menggantikan mesin makna brand. Karena:    •   Viral tidak mengubah perilaku.    •   Makna mengubah perilaku.    •   Perubahan perilaku itulah Brand. “Brand bukan soal ramai di timeline. Brand itu soal makna yang tinggal di kepala konsumen. Yang viral itu lewat. Yang bermakna itu melekat.”

  • TAHUKAH ANDAPRODUK BISAMENJUAL SEKALI,BRAND MENJUALBERKALI-KALI

    Tahukah Anda? Produk hanya menjual sekali, tapi Brand menjual berkali-kali. Itulah bedanya jualan barang dengan jualan makna. Begitu produk laku, selesai. Tapi ketika makna produk masuk ke hati pembeli, mereka akan datang lagi… dan lagi… bahkan membawa teman. Brand bukan soal logo. Bukan juga sekadar kemasan. Brand adalah rasa percaya yang melekat di kepala dan hati pembeli. Makanya, jangan buru-buru promosi. Bangun dulu makna dan kepercayaan. Karena produk bisa ditiru, tapi brand nggak bisa diganti. Kalau kamu pengin belajar bagaimana caranya produkmu jadi brand yang dicintai dan dibeli berkali-kali, ikuti Workshop Bisa Bikin Brand bersama Subiakto CBS. 29 November 2025 hotel ibis Simatupang Jakarta Selatan Transformasi dari penjual produk → menciptakan makna produk bagi konsumen Daftar si lynk.id/pakbi . Tempat terbatas #BisaBikinBrand #SubiaktoCBS #BrandBukanLogo #BrandIsTrust #JualMakna #MagnetBranding #UKMNaikKelas #BrandStrategist #IndonesiaSpicingTheWorld

CONNECT

SUBIAKTO PRIOSOEDARSONO CBS

DBrand

Send me an email

Visit our website

Follow me on Twitter

Follow us on Twitter

Book me for an event

Apply for a position

Become a client

View my Book

© 2025 by subiakto.com

bottom of page